Minggu, 13 Desember 2015 0 komentar

Jendela Kamar

Saya bermimpi diselaksa waktu yang lalu
menatap bayang hitam langkah tuan perlahan pergi menjauh
Saya bermimpi diselaksa waktu yang lalu
dijendela kamar,
kini tak ada lagi mawar yang tuan beri dibalik senja kala itu.



Ciputat, 20 September 2014
0 komentar

Sendiri pada akhirnya

Dilihat dari jarak pandang sekitar 1 KM bangunan kampusku gagah berdiri
warnanya catnya lembut, dengan suasana keislamannnya yang menggairahkan sukma
terpancar aura keluarga yang aduhai bila dilirik.

Bissmillah..
saya melangkah setiap hari untuk melihat, mungkin saja akan ada pelangi di salah satu paginya; di sana.
Begitu setiap harinya saya berharap,
tak ada Keluarga dan sendiri pada akhirnya.

Ciputat, 2 November 2015
0 komentar

Merpati Hidung Belang

Kemarin pagi ada merpati yang hinggap dipundak saya
menanyakan kabar seperlunya,
merpati itu kembali terbang ke awan sambil menjatuhkan tahinya di depan hidung saya
saya bersihkan perlahan dengan tissue yang tersedia di dalam keresek belanjaan.

Besoknya ada merpati hinggap tepat di pundak saya
menanyakan kabar seperlunya,
dan menyuruh saya makan agar tetap sehat
merpati itu kembali terbang ke awan sambil menjatuhkan tahinya di depan hidung saya
saya bersihkan dengan telapak tangan lalu saya susutkan pada tembok kampus

Besoknya lagi, ada merpati hingga tepat di pundak saya
menanyakan apakah saya bahagia?
Saya meraihnya perlahan, sehingga merpati itu bertengger mesra di telapak saya
kemudian saya ajak merpati itu mendekati keran air, lalu saya perintahkannya untuk berwudhu.


Ciputat, 2 November 2015
0 komentar

Gedung Kuliah-Tempat Belajar

Saya duduk di lantai 7 gedung kampus
tepat di depan kaca kumuh, yang hanya akan jernih jika hujan turun menjatuhinya,
tapi sayang kemarau sudah ribuan tahun disini
hingga penghuninyapun sudah lupa bagaimana segarnya dijatuhi rintikan air dari langit
sudah lupa bagaimana segarnya bau tanah jika masuk ke dalam lubang hidung.

Kering menjadi raja-raja yang setiap waktu garang melahap sebagian otak manusia,
untuk dihanguskan dan di sebarkan abunya
asap mengepul dari sana-sini;
Dari mulut para kader, dari senior-senior, dari kepala-kepala independent, dari dosen, dari satpam,
juga dari tukang parkir
kulit-kulit menjadi burik karena sengaja dijemur di depan halte,
hanya untuk berteriak "KITA SEMUA SAMA, KITA SEMUA BERSAUDARA"
TAHIK!
saya hanya ingin hujan, agar sejuk gedung tempat kuliah saya. cukup sudah.

Ciputat, 23 September 2015
0 komentar

Sajak Untuk Adik Mahasiswa Baru

Selamat datang mahasiswa baru
selamat datang calon pemimpin Indonesia raya
wajah adik-adik nampak bercahaya menginjakan kaki di batas pagar kampus
senyum adik-adik tertahan dari pagi hingga senja tiba
selamat.

Selamat datang mahasiswa baru
selamat datang calon perusak kepercayaan
di pengenlan kampus, adik-adik disuruh nyanyi lagu kebanggan nenek moyang
dengan semangat dan tangan di kepal meninju langit, riuh lagunya di dendangkan 16000 mahasiswa baru
lagu pembaharu di gedung sini
lagu bandung di gedung sana, lagu patriot di gedung sini, lagu lagu lainnya di parkiran, di lobby fakultas,
hingga halte di depan kampus.

Selamat datang mahasiswa baru
selamat datang di tempat dimana adik-adik belajar menjadi tukang cela kawan sendiri
belajar menjadi pencinta sedulur, penyayang sesama kepentingan
belajar menjadi pemimpin, yang memimpin mimpi kaumnya sendiri

Selamat datang mahasiswa baru
selamat datang di rimba paling mengerikan sejagat raya
saya doakan, semoga adik-adik berbahagia.

Ciputat, 22 September 2015


0 komentar

KANGEN

Kau tak akan memahami bagaimana rasanya melangkah tanpa digenggam
kau tak akan memahami bagaimana rasanya sendiri tanpa dekapan.
Aku sepi menghadapi bebungaan tanpa cinta,
karena harumnya telah pergi membawamu.
Terbayang hangat pelukmu serupa candu yang tak sanggup aku hiraukan
terbayang tatap matamu, serupa sendiri aku yang merunduk menahan kangen.
Sendiri aku tanpa hangatmu, itulah aku panggung tanpa cahaya.


Sukabumi, 12 Desember 2015
22.00
Jumat, 24 Juli 2015 0 komentar

Dibuang (kembali) pada Tempatnya

Hai..
Malam ini, saya ingin bercerita tentang sesuatu yang tak sengaja saya temukan di akhir tahun lalu. Saya menemukannya di jalur pendakian untuk mencapai 2821 mdpl. Memang agak sulit untuk sampai kesana tapi saya yakin, saya akan mendapatkan jawaban lebih dari apa yang saya harapkan, itulah sebabnya kenapa saya mau berpayah-lelah. 

Sebelum titik itu saya pijak, saya tak sengaja menemukan sesuatu yang sedikit mengganggu pendangan saya, awalnya saya tidak peduli sama sekali namun (sesuatu) itu seolah meminta saya untuk mengantunginya dan mengajaknya untuk sampai ke puncak. Apa boleh buat? akhirnya saya pungut dan saya jaga sebaik-baiknya,  tidak hanya sampai puncak saya menjaganya, bahkan hingga saya kembali pulang ke rumah beberapa bulan kemudian temuan itu tetap terjaga dengan perawatan ekstra.

Dengan bangga saya menceritakannya pada ibu saya, menceritakan apa saja kisah yang telah saya lewatkan dengan temuan saya itu, lalu ibu saya hanya mengeluarkan satu kalimat setelah potret (nya) saya tunjukan "Kayaknya kalo rambutnya dipotong akan tampan" (sambil menggoda), Lalu saya meminta ijinnya untuk selalu menjaga temuan saya itu, jawabnya hanyalah "terserah kamu saja, tapi awas ya kalo nanti kamu patah hati!" saya hanya bisa tersenyum dan kembali memandang potret dalam lembar pixel di genggaman saya.

Penjagaan saya tidak hanya sampai di situ, karena terbawa suasana sampai-sampai saya melewatkan orang lain yang menemukan saya dalam perjalnannya, bahkan saya mengacuhkan seorang pemuda tampan yang telah siap memanjakan saya dengan seribu diksi dan materinya yang berlimpah. Sembari tersenyum saya membuat penolakan halus "maaf, saya sudah punya ini (menunjukan perasaan saya yang telah terisi)".

Tepat setelah satu hari di 16 milik saya yang ke 21, sesuatu yang selama ini saya jaga dan genggam kuat-kuat diakui seorang puteri adalah miliknya yang hilang, kepunyaannya yang tak sengaja lepas atau entah melepaskan diri karena genggamannya kurang kuat; kecintaannya.
Saya hanya bisa terdiam sembari melepaskannya kembali pada pemiliknya, dan membiarkan air mata kehilangan saya surut dengan sendirinya.

Namanya juga 'temuan' pasti ada pemiliknya, anggap saja saya telah menemukannya, merawatnya, mencintainya, dan membuangnya kembali (pada tempatnya).

Sukabumi, 24 juli 2015
AR~
Rabu, 22 Juli 2015 0 komentar

Sayalah Pemenangnya

Seriak apapun air di tengah sungai dangkal, masih lebih beriak hasrat saya untuk menjamu tuan
Seramai apapun rintik hujan turun menyerang bumi, masih lebih kuyup akan bisikan nama tuan dalam hati saya
Setinggi apapun gunung tuan daki, masih lebih payah saya demi mencapai ujung mata tuan agar sedikit melirik
Sekuat apapun pertahanan yang tuan bendung ditengah lapangan hijau, masih lebih tegar saya menyikapi tuan yang datang dan pergi sesukanya
Sebanyak apapun gol pada gawang lawan tuan ciptakan, masih lebih menumpuk rindu saya akan senyum tuan.
Karenanya saya yakinkan pada jiwa saya bahwa sayalah pemenangnya.

Sukabumi, 22 Juli 2015
AR~
20.04
Sabtu, 18 Juli 2015 0 komentar

Ahli Surga


 
Kecup saya pada lututnya,
menghamba akan segala cita yang disajikannya
Peluk saya dalam pundaknya,
agungkan segala peluh yang menetes dari dahinya
Bilakah saya melupa sedetik saja atas pengorbanannya,
kabur sudah semua pengetahuan yang menyarang,
hilang pula diksi saya untuk melukiskannya.

Bilakah ada cinta sebesar-besarnya cinta
Maka ituah cinta saya untuknya
Bilakah ada kasih selembut-lembutnya kasih
Maka kan saya belai lelahnya hingga terlelap ia dalam pangkuan

Karena tadi malam saya telah bergunjing dengan-Nya
Membicarakan mimpi dan harapan, membicarakan amal juga surga
Semoga engkau memilikinya. Semoga engkau ahlinya.

Sembah saya akan Allah, atas penganugerahan-Nya
Sujud saya  atas maha karya-Nya.

Seonggok daging bernama guru,
Darahnya adalah pengorbanan, dan
Tulang yang menopangnya, serupa keikhlasan.

Sukabumi, 18 Juli 2015
AR~
Minggu, 12 Juli 2015 0 komentar

Cita Ditinggalkan, Cinta Ditanggalkan

Dari keinginan yang amat dilangitkan adalah sebermula datangnya saya, karena hajat yang terlalu dibumbungkan atas kepala yang entah keras atau lunak. Hadirnya saya adalah suka tak terhingga, kebahagiaan yang nyata bagi bunda. 
ditimanglah saya dalam dekapnya, didendangkan shalawat agar tenang segala pikiran saya, diusapnya ubun-ubun agar terlelap, indah nian masa kanak itu.

Akibat terlalu dilangitkan, pecah sudah segala suka karena genggam terlalu kuat. Karena terlalu bahagia remuk pula segala bahagia akbiat terjatuh. Cita bunda akan saya hancur, dihilangkanlah segala cintanya, ditanggalkanlah harapannya, pergi jauh ia ke negara antah berantah, ke tempat yang tak bisa saya jamah, bahkan hingga saya menemukan bahagia saya sendiri; sendiri.


Sukabumi, 13 Juli 2015
05.45 wib
AR~
0 komentar

Nostalgia

Bung!
Malam ini saya sendiri;
Ditemani hembusan nafasmu
Dieratkan dalam hangatnya pelukmu
Disandarkan pada bahu kananmu
Diceritakan hebatnya Dimas Suryo.


Sukabumi, 12 Juli 2015
AR~

0 komentar

Abang Jawabannya

Saya sepi dalam lingkung,
bersembunyilah saya pada hati sendiri.
Saya tumpahkan air dari kelopak mata,
berjatuhanlah membentuk anakan sungai pada kulit pipi.
Saya dingin,
bagai layu kuyu segala sendi.

Dipeluklah segala bayang kenang bersama abang.
Bahagia sudah saya rasakan.


Sukabumi, 12 Juli 2015
20.39
AR~
0 komentar

Lembaran Bisu

Masih soal rindu.
Masih soal waktu.
Masih soal masalah temu.
Telah terutarakan di atas ribuan lembar bisu,
akankah hasilkan kamu?

12 Juli 2015
AR~
08.18

Rabu, 08 Juli 2015 0 komentar

Lupa

Selagi saya mampu mengingat, saya akan merapikan segala arsip  yang pernah saya dan tuan lewati, karena tak ada yang dapat saya ceritakan selain kisah sementara kita, kisah tentang cara kita habiskan waktu. Saya hapal betul kali pertama tuan memperkenalkan diri, dan mulai mengusik waktu saya dengan segudang dering telpon genggam, saya terganggu bukan main namun kegigihan tuan mematahkan pagar pertahanan saya. 
Lantas saya persilakan tuan duduk bersantai di balai bambu, untuk sekedar meluruskan kaki sembari menikmati secangkir teh hangat, namun, tanpa sepengetahuan saya tuan telah bersandar di balik daun pintu kepercayaan saya, menguncinya rapat-rapat dan memasukan anak kuncinya kedalam saku.
'Apa yang tuan harapkan?' 
Laku tuan tersenyum saja, membidik segala kuat saya hingga akhirnya jatuh dipelukan, saya telah jatuh hati. 
Percaya saya tuan genggam kuat.
Sesekali waktu berpihak atas saya, saya ingat saat berjalan-jalan hingga larut ke setiap sudut kota, bercerita hingga busa melumati lidah sendiri, saya ingat saat tuan serahkan satu bucket bunga aster sore itu, saya ingat saat tuan menghadiahi saya sepucuk sajak, saya ingat setiap warung pinggiran tempat kita menyeduh kopi juga dimana posisi kita duduk, saya ingat saat menjadi penonton yang tak paham alur permainan namun bertahan, saya ingat ketika tetiba menjadi parasit di depan teman-teman tuan, saya ingat ketika tuan pergi dan tak dapat saya cegah, saya ingat ketika tuan kembali, saya ingat juga ketika tuan pergi lalu kembali lagi, (dan lagi), saya ingat, saya ingat.
Dan saya ingat tuan tak pernah ingat semua itu, karena ketika saya bercerita tentang anak kunci, tentang bucket bunga aster, tentang warung kopi, tentang tuan yang datang dan pergi, tuan hanya bilang 'Saya tidak ingat!'
Saya ingat ucapan itu. Saya ingat.
padahal senyatanya kerpecayaan saya telah tuan remas sekuat tuan mampu, namun saya tak ingat bahwa saya telah titipkan percaya saya pada tuan. Saya lupa.


Disertakan dengan segala arsip ingatan saya
Salam.
Sukabumi, 8 Juli 2015
21 Ramadhan 1436 H
AR~
23.00 wib
0 komentar

Jeladra Rindu

Selamat malam jeladra rinduku,
Masihkah kau disana hempaskan ombak, kemudian mengusik pasir putihnya?
Masihkah dedaunan keringnya kau sapa lalu kau ajak menari di kedalaman rasamu?
Bergulat segala luka terbakar karena teriknya mentari di pinggiran pantai
Bergesekanlah segala perih luka dengan asinnya air laut; Namun sembuh justru.
Hadirmu dulu tak seperih ini,
Kau datang dengan lembut, mengajak kerang-kerang terdampar kembali ke kedalamanmu
Bahkan bulu babipun sengaja bersembunyi dibalik karang agar kau jemput dengan peluk.
Namun kemarin mereka bercerita, 
Sekarang kau garang segarang-garangnya, kau ganas seganas-ganasnya
Mereka menangis karena jeladra kekasihnya tak juga kembali
Mereka rindu bergulat peluk dengan rindunya.

Disertakan dengan bayangannya
Sukabumi, 8 Juli 2015
21 Ramadhan 1436 H
AR~
Jumat, 03 Juli 2015 0 komentar

Perkenalan

Memang saya yang mengaku terlalu cepat, memperkenalkannya sebagai kekasih kepadamu. Menjadikannya sebagai tuan pemilik hati saya, penggenggam atas kepulangan saya.
Memang saya yang menjamu terlalu cepat, menyebutkan namanya di tengah perjalanan kita, menuliskan namanya di dalam selembar kertas, di bawah emasnya matahari pagi, di balik gunung bertangga itu.
Memang iya; dia kekasih saya, penjaga bagi ceria saya, namun tidak lagi setelah saya pulang dari perjalanan kita; bukan lagi siapa-siapa bagi saya.
Karenanya saya hanya menganggap dia sahabat saya, malaikat yang menjaga senyum saya untuk waktu yang sangat singkat.
Karenanya saya menuliskan namanya, sebagai ucapan terimakasih atas penjagaannya terhadap saya.
Sebagai ucapan rasa sayang saya untuknya yang kini adalah sahabat; bukan mantan kekasih.
Dan sekarang saya hanya akan memperkenalkannya sebagai sahabat saya kepada siapapun, juga kepadamu.

Terimakasih,
dari saya sahabatmu AR~
17 ramadhan 1436H
Sabtu, 4 Juli 2015
0 komentar

Kembali

Berawal dari bait pertama maha karya Chairil Anwar; Sajak Putih.

Bersandar pada tari warna pelangi
Kau depanku bertudung sutra senja
Di hitam matamu kembang mawar dan melati
Harum rambutmu mengalun bergelut senda

A: Pada harum rambutmu, aku ingin menjelma belai yang mengekalkan kesegarannya.
B: Kamu titipkan rindu pada setiap selanya ketika kau sisir rambutku dengan jemarimu. Belum cukupkah kau tinggalkan saja?
A:  Aku akan kembali membawa bunga pesona untuk kusisipkan di sela jemarimu. Sungguhlah mempesona dirimu, kujemput lagi rinduku.
B: Kau penipu ulung! Ucapmupun begitu sebelum kau pergi setahun lalu. Sekali kau datang hanya untuk menabur garam pada luka yang kau sayat atasku.
A: Aku tidak menipu, karena rinduku tidaklah palsu. Kemarin aku memang datang bersama hujan, yang derasnya menitikan prasangka. Mengertilah.
B: Apa lagi yang harus aku pahamu Tuan? kau datang memang, hatiku berbunga bukan main, Namun belum sempat bunganya mekar kau pergi membelakngi dan tak kembali, sedang rindu masih kau genggam kuat.
A: Kau tahu? Rinduku selalu rekat padamu. Tapi sekarang kurenggangkan, karena kulihat kau duduk di kursi taman bersanding kecemburuan.
B: Kau salah paham! Sejatinya aku menantimu selalu, mengapa kau melenggang tanpa mau menoleh? Sekarang kau menudingku suguhkan api cemburu? Kau salah paham!
A: Lalu siapa pria di sampingmu, bermantel hitam hangat saat kau menggigil di musim anti kerinduan?
B: Itu bayangmu Tuan. Aku sengaja membentuknya dengan rindu dan luka yang kuaduk hingga pekat, bentuknya sempurna bukan? Inilah aku, yang membodoho diriku sendiri demi kehadiranmu.
A: Kita saling berprasangka, kita saling sangsi. Adakah keyakinan di antara kita untuk saling menemukan pada sebuah musim akan kita hentikan?
B: Segala aku serahkan pada telapakmu. Sesungguhnya setelah kau pergi, aku mengubur dalam setiap datangnya rindu, meski hadirnya tak pernah abstain dari lintasan; aku lupakan (Selalu). Namun jika benar akan kau hentikan, serahkan dulu rindu yang kau ambil waktu itu.
A: Akan ku ambil rindu itu, dan aku sematkan dalam pelukanmu. Sama-sama kita rasakan detaknya, hingga eluhanmu terdengar menggantikan detik yang baru.
B: Bisakah kau berjanji untuk senyatanya janji? Mengecup semanisnya ranum segala ranum? Mengunci yang seharusnya dijaga?
A: Aku bersedia apapun permintaanmu, Karena kau adalah karunia.

Obrolan dengan seorang sahabat, diantara sayup angin menanti maghrib 21 Juni 2015
Terima kasih Imron Rosyadi~
Salam.
AR~

0 komentar

Sedang sibuk

Tolong jangan ganggu saya hingga akhir pekan. Sekarang saya sedang sibuk menata rindu yang menumpuk tak beraturan, merapikannya agar tak terlihat siempunya, rindu ini sedang saya susun sedemikian rupa agar ia tak menyadarinya. Mengertilah.
Saya hanya khawatir rindu ini semakin bertambah, tumpukannya tak mampu lagi menahan keseimbangan lalu jatuh berceceran, diinjak-injak orang lain yang tak pernah paham betapa payah saya menjaganya. mungkin saja rindu ini meledak seperti geranat atau bom molotov lalu berhamburan kesegala arah karena terlalu sesak bergemul dengan rindu yang lainya kemudian ia tahu yang sesungguhnya, ah.. Tidak-tidak ini akan sangat membuat saya malu.
Maka dari itu jangan ganggu saya hingga akhir pekan, saya akan menyelesaikan dengan cepat. Saya janji.
Terhitung mulai hari ini Jum'at, 3 Juli 2015-Minggu, 5 Juli 2015.

Salam saya
AR~

Kamis, 18 Juni 2015 0 komentar

Selamat Ulang Tahun

Dalam selaksa waktu yang bunda kisahkan, ada sepenggal cerita yang tak sempat saya buang.
Bayang-bayang api dari lilin warna-warni ditengah kue itu, berlenggok ke kiri dan ke kanan seolah ingin saling sapa dengan kawannnya namun tak cukup daya.
Hari itu, gaun merah jambu dengan renda membungkus tubuh kecil saya, lengkap dengan bandana dengan warna senada bertengger mesra di atas rambut saya yang tak begitu tebal. Riuh nyanyian do'a menggema ditengah ruangan persegi berukuran 8x8 meter lengkap dengan kursi dan bangku mini berwarna-warni, juga papan tulis kapur yang dihias kertas-kertas mengkilap yang melingkari tulisan "Selamat Ulang Tahun".
"cup" ciuman hangat mendarat sempurna pada kening saya, bahkan hangatnya masih terasa hingga hari ini, hari dimana saya berjumpa dengan hari yang sama setelah 15 tahun tak melihat raut wajah bunda.
Sungguh saya membenci kenangan yang tersisa, namun tak sanggup sama sekali saya mengacuhkannya, karena hanya penggalan kisah ini yang sayang sisakan.

Di Kamar kost
2 Ramadhan 1426 H
AR~
22.54 wib

Rabu, 17 Juni 2015 0 komentar

Saya Rindu Bung.

Dari seribu kasih yang saya tanam dalam dada, ada satu kasih yang lupa saya bawa pulang setelah perjalanan satu hari denganmu di tanah Jawa Timur, Bung. Sesungguhnya hari itu adalah pertama kalinya kita bertemu meski sudah tiga hari kita bersama. 
Entah apa yang sebenarnya menjalar dalam kita, tangan kita berpegang erat disana; kau menghangatkan.
Yang saya sadari sekarang ini sering kali bayang akan senyum manis milikmu itu datang begitu saja, genggamanmupun hadir mengisi jemari saya ketika saya dingin. Kau selalu hadir Bung; Saya menghadirkannya.
Ingin rasanya saya kembali pada hari itu, untuk saya ambil kasih yang tak sengaja saya tinggalkan diantara jejak kita disana, diantara jalanan malam lengang, diantara bukit-bukit, diantara savana. juga diantara kuda poni; gunung Bromo.
Saya ingin menggenapkannya menjadi seribu, menjadi bersamamu, menjadi akhir yang seharusnya; menjadi (kita).
Saya rindu bung!

Kamis, 17 Juni 2015
AR~
Selasa, 02 Juni 2015 0 komentar

Kopi Aroma Rindu

Bukan melulu soal bertahan atau terlalu cinta
namun soal ketidakjelasan Tuan. Hadirnya tuan yang sekejap datang lalu pergi menghilang
(begitu seterusnya)
Sejujurnya saya sudah lupa sejak jauh-jauh hari.
namun  Tuan datang dengan segelas kopi  beraroma rindu yang menyeruak kemarin malam
bahkan Tuan suapi saya sekotak bento ditengah keramaian, di bawah lampu kota berkilauan, masih ditemani  harum kopi yang Tuan buatkan
Hancurlah benteng yang sengaja saya bangun berlarut-larut lamanya!
keparat! Dan lagi-lagi Tuan menghilang setelah meremas isi hati saya menjadi kepingan kecil-kecil lalu Tuan serakkan sesuka hati, kopi beraroma rindupun Tuan tumpahkan diatasnya.
Sambil berlalu Tuan berkata:
"Tata kembali pertahananmu! Saya akan datang setelah Nona berhasil membangunnya (lagi).

AR~
Ditemani semilir angin pagi 03 Juni 2015


Senin, 01 Juni 2015 0 komentar

Mau pilih yang mana?

selamat pagi anak-anak
sudah siapkah kalian untuk belajar hari ini?
sekarang marilah kita sama-sama belajar untuk membuat

Jamu.. jamu.. jamu..jamune mas..
jamune mbak.. jamu....
ada jamu singset, ada jamu sari rapet
daaan.. ada juga jamu kuat

tegangan listrik yang mengalir pada sebuah kumparan harus disesuaikan dengan keluarannya agar tidak terjadi korsleting pada

putingku memerah saat si kecil mulai ganas menyeruput isinya
perlahan-lahan tapi pasti si kecil menggigit

kol,, sawi.. bayam..
cabe-bawang, cabe-bawang
silakan ibu yang mau

jamu..jamu.. jamu..
ada temulawak
ada kunyit asem
ada juga

puisi
puisi Aku karangan Chairil Anwar merupakan puisi yang melegenda
karyanya merupakan bukti bahwa semangat pemuda

menggigit putingku dengan giginya yang baru tumbuh
tak jarang sebagian kulitnya terkelupas lalu ditelah juga

semua komponen yang ada harus dijaga dengan baik, agar

tomat, jamur, jahe, lengkuas, semua ada
ada sayur asem, sayur sop, sayur lodeh..
silakan yang mau

jamu.. jamu..
jamune mas.. jamu...


AR~
Di dalam bis kota
Sabtu, 30 Mei 2015 0 komentar

Tipis

Gerimis Menangis

Gerimis bagiku kini tak lagi manis,
Karena kamu dihadapanku; menangis
Sungguh lakumu itu membuat hati rasa teriris
Rinaimu turun perlahan namun berlapis
Jangan menangis, karena cintaku padamu tak tertepis

AR~
Sukabumi, 18 Januari 2015
0 komentar

Pulang

Bunga berbisik lembut pada angin
Angin sampaikan salamnya pada engku
Salam ingatkan engku akan hajat
Cita tersampaikan atas keringat dan do'a
Tuhan menghadirkan cinta-Nya.
Kini telah tiba di depan pintu gerbang
Sekali ketuk terbukalah
Bunga rampai bermekar
Aduhai, bau sekar ayu disana; dihatimu
Senyum disimpul ibunda untukmu
Ananda kecintaan
Peluk, peluklah punggungnya
air matanya sekalah
susut juga keringatnya
Selamat. Kau sudah boleh pulang.


Teruntuk sahabatku Fahmi Setiawan. yang sekejap lagi menjadi Fahmi Setiawan, S.E.


Rabu, 20 Mei 2015 2 komentar

Sajak Temuan

Sehelai sajak kutemukan dalam genggaman
Tergulung, dengan ujung yang melambai-lambai
Aku yakin itu milikmu, Chairil.
Perlahan, sudut mataku menelusuri namamu
aduhai.. bergolak senang hati ini rasanya
Namamu ada dalam jajarannya
Kutenggak sekaligus sajakmu,
karena aksaramu adalah bagianku, bukan yang lain
Terbuai aku dengan lembutmu
Inginku mengulangnya bersamamu
Berkuyup dengan 'Hujan Hari Ini'

AR~
Ciputat, 20 Mei 2015

0 komentar

Jangan yang lain abang!

Mari kesini abang, datang kepangkuan dengan segala sayang
Jangan ragu! karena aku menggenggam cinta setulusnya cinta yang kutahu
Tumpahkan segala yang ingin kau tumpahkan
lepaskan lelahmu dalam dekap adinda seorang. Jangan yang lain!
Karenanya adinda disini menanti kasihmu,
Kekasihku tersayang.

AR~
Ciputat, 19 Mei 2015
0 komentar

Kembali aku

Dan kini harumku tak lagi menyetiakanmu
Rekahku bukan lagi alasanmu untuk bertahan disisi
Maafkan rinduku membuncah pada satu waktu; Kau meninggalkan
Jika esok bauku tak selembut ini,
ragaku melayu karena lelah menyerang pertahanan.
Aku bersiap kembali pada fitrahku; kembali pada ketiadaan
Sendiri

AR~
Ciputat, 20 Mei 2015
Minggu, 05 April 2015 0 komentar

Ah. Aku memang bodoh

Malam ini rasa-rasanya mendung dilangit sini, dan kini hitam putihnya awan tak lagi melihatkan cahayanya, hanya terlihat genangan bergerak-gerak menahan airnya jatuh.
getarannya perlahan kekiri dan ke kanan, memusat ketengah dan.. Ah.. Airnya menetes setitik..

Tidaaakk.. Jangan kau jatuhkan airnya, tak kuasa aku melihat pipimu basah, usap sudah semua! (ucap sahabatku pixel)

aku tak tahan menunggunya berujar terlampau lama, terlalu sakit bila ku tahan tanyaku hingga akhir yang tak tahu kapan datangnya. Aku takut. (lirihku)

lagi. Awan itu tak terlihat gembira sejak pixel bercerita tentang indahnya masa lalu. Genangan itu menebal dan semakin berat. Satu. Dua. Tiga. Deras. Air matanya tumpah membanjiri pipi..

Maafkan aku, tak seharusnya aku bercerita padamu. Aku terlalu lugu aku tak mengerti apa yg diinginkan hati manusia, yang aku tahu hanya perintah ibu jari saja (tugas pixel)

Aku yang bodoh. Tak seharusnya aku menguak, tak semestinya. Aku tak tahu sampai kapan tanyaku kan di acuhkan, yang aku tahu, aku bahagia (kemarin) dan aku berharap besok dan besok lagi hingga akhir. Benarkah aku bagian dari tangadahnya? Lalu mengapa derasnya kini hadir?? (tukasku)

ah.. Aku tak mengerti. Aku memang bodoh!

05 April 2015
21.31 wib

Selasa, 17 Maret 2015 0 komentar

Rawa dan Mangrove

Kini aku berada di sebuah sampan sederhana, dengan dayung kayu di kedua sisinya. Kukayuh perlahan  sembari menikmati pemandangan akar-akar yang menjulur panjang menusuk jantung rawa, dari dermaga hingga ujungnya yang aku tak tahu dimana, akar-akar runcing mangrove terus saja menembus bagian terdalam rawa, entah apa yang  ingin dibunuhnya padahal sudah jelas-jelas rawa dengan lebar tak lebih dari 10 meter ini tak terlihat merasakan sakit karena hujamannya. 
sesekali dedaunan jatuh perlahan membelai ketenangan air hingga menimbulkan sedikit getaran kemudian hilang, dan dibelai lagi. begitu seterusnya. Aku tersenyum melihat fenomena aneh ini, apa yang sesungguhnya diinginkan tanaman mangrove ini? menggangu rawa yang selalu tenang setelah ribuan tahun? Tiba-tiba terdengar suara "krek..krek..krekk" segera kupicingkan mataku ke segala penjuru rawa, tapi  tak ada apapun yang mencurigakan. Kembali kukayuh sampan kayu yang sedari tadi mendengarkan hatiku menggerutu. Untuk menghilangkan sepi yang mulai menyapa tenggukku kudendangkan nada "The Moon On The Lake" dari salah satu pianis terkenal asal Jepang, layung sudah mampir dipunduk senja, menyapa rawa untuk bercerita tentang kesendiriannya, namun rawa tetap begitu, bersahaja dengan segala kesakitan yang diterimanya, tiba-tiba "BRUK.." banyak air yang muncrat ke segala penjuru, sampanku goyang mencari keseimbangan, aku kalang kabut takut tenggelam, karena sampanku terisi air amukan pohon mangrove yang tumbang. Sekali lagi rawa disakiti, kali ini benar-benar nyata sebuah tamparan maha dahsyat diterimanya, aku protes "Hai rawa mengapa kau diam saja? kau disakiti terus menerus, lakukan sesuatu!", Namun amarahku tak dihiraukannya seketika Ia kembali tenang.
Kuputar sampanku ke arah dermaga, ku kayuh sekuat tenaga karena layung segera berganti malam. Sepanjang kayuhan dayungku aku belajar banyak hal dari rawa dan mangrove. Tentang kehidupan dan kesabaran. :)

Ciputat, 17 Maret 2015
Jumat, 13 Maret 2015 0 komentar

CERITA KITA

Entah, ada apa memang dengan kita, juga Malang
yang menjadi sebermulanya cerita.
Seperti akar cerita-cerita membelit kusut pula cerita yang kita ciptakan
Namun, diantara cerita; kemarin, hari ini dan esok itu setipis kertas tempat kau tulis sajak untuk mencari akhir,
tidak setebal buku tempat kau titip sajakmu di halaman akhir.
dalam kesingkatan itu, kita tak sempat menceritakan kisah cinta Dimas dan Surti yang pupus, namun tak hendak pupus karena terus direkatkan aroma melati dan bayang-bayang.

Sebelum perpisahan pula, kita belum sempat membuka renggasnya cinta Chairil dengan Mirat, yang menjadikan sajaknya menjelma-jelma sosok kecintaannya itu.
begitupun cerita kita pada akhirnya, serupanya akhir dari 'Sajak Putih' yang penuh pengharapan,
"Hidup dari hidupku, pintu terbuka. Selama mata menengadah, selama kau darah mengalir dari luka. Antara kita, mati, datang tidak membelah".

Jakarta 4 Maret 2015
(JA)
0 komentar

Mencari Akhir

Sekejap saja masa kita bersua
dikampung orang ditanah Jawa
sebaris kisah sendirinya tercipta, terasa legit saat kuicip barang setitik
Bilamana kubiarkan kisahnya menggantung, maka jangan salahkan jika Malang kujuluki kota terkatung
Sajak putih dan sepenggal cerita di stasiun kala itu,
melanjutkan kisah (kita) setelah tanda koma disisipkan disela kisahnya.

Seandainya kisah tak disampaikan pada akhir
akan seperti apa jadinya Mirat dan Chairil?
Seandainya kisah tak disampaikan pada akhir,
mungkinkah Dimas Suryo kembali pulang ke tanah air?

Kali ini aku ditemani bayangan kemarin malam,
jemariku menari mencari akhir kisah yang entah kapan dimulainya.
Kemarin, dibalik mega kota Malang terselip haru yang tak mudah dimengerti,
tepat ketika telapakmu mendarat di atas kepalaku; perpisahan.

Kali ini kuputuskan tuk biarkan kalimatmu tertinggal,
agar kelak kembali kujemput dengan tanda titik untuk mengakhiri kisahnya, menemukan ceritanya.

Malang 4 Maret 2015
AR~
Rabu, 18 Februari 2015 0 komentar

Diam-Diam Jatuh Cinta

Akhirnya jatuh cinta juga, walaupun diam-diam.
Oleh: Anisa Rahayu, Arini Hidayah, dan Luthfiatul Fuadah
Kemarin, melalui mimpi kita bersua dalam hangat.
Desau angin berbisik lirih mengenai rindu yang enggan padam.
Di sana aku bisa mengingkari kenyataan.
Kita bisa terus bersua tanpa kenal bosan.
Bukankah itu yang selama ini kita semogakan?
Karena dalam jumpa tak sengaja mata kita bercerita tentang harap kita pada cinta.
Pada arti kata bersama; aku dan kamu.
Seiring pandang mata yang menyematkan kita pada asa,
meski dekap belum leluasa,
nyatanya kita masih bebas meminta dalam doa.
Dengarkanlah pada temaram panjang…
Ada yang diam-diam berbahasa, menyampaikan berpatah-patah kata.
Ada yang diam-diam mengucap amin dalam hatinya, karena doa untuk cinta.
Ada yang diam-diam merunduk karena menahan rindu dalam dada.
Ada yang diam-diam meradang bila ada yang lain dalam pandang kasihnya.
Ada yang diam-diam merasa diri paling tahu dan ingin tahu segalanya.
Ada yang diam-diam berdoa untuk tetap bisa bertemu mata.
Dan ada yang diam-diam jatuh cinta.

Bekasi-Sukabumi, 9 Februari 2015
Selasa, 03 Februari 2015 0 komentar

Sajak tentang kita

sajak ini sengaja kutulis setelah perjumpaan itu,
perjumpaan yang mengantarkan kita berada pada tujuan untuk mencapai puncak yang sama.
saat itu aku tak mengenalmu, tak tahu siapa dirimu.
namun, dengan ragu aku menjabat tanganmu, sembari tersenyum.

saat itu kau berada dibawah sinar lampu, yang tak sepenuhnya menerangimu dari malam
kau berada diantara beberapa kawanmu, yang tak satupun jua kutahu.

ingatkah kamu, ketika itu sepasang mata kita tak sengaja beradu
aku menunduk malu, tak tahu bagaimana harus berlaku.
tujuan kita teramat tinggi untuk dihabiskan sebagai masa perkenalan
namun waktuku denganmu, tak terasa puncak telah kita pijak.

meski saat itu aku dan kamu belum saling tahu tentang apa yang akan terjadi
namun mata telah berjumpa dalam kita. pada arti mendalam yang belum pernah kita sepakati.

sesungguhnya aku tak pernah mengerti, drama apa yang sedang kita mainkan?
karena perbincangan kita berkilo-kilo meter jauhnya
bayangmupun hanya dapat kuterka di malam terakhir, di bawah lentera.

mungkinkah setelah jarak telah habis terhapus, kau masih selembut ini?
mungkinkah sepasang mata kita kembali beradu seperti pertama kali?
aku hanya khawatir cerita ini usai, tanpa penyelesaian.
kemudian kita terpisah tanpa sempat menjadi satu.

jika suatu hari nanti tujuan kita telah berbeda
kau pada puncak tertinggi dan aku pada puncak lain
izinkan aku untuk mengetahui sejauh mana kau merasa lelah?
hanya untuk memastikan bahwa kau baik-baik saja.
meski saat itu tanganku tak dapat lagi menyetuhmu,
namun telapaknya akan tetap menangadah do'a untukmu.


AR~
Sukabumi, 4 Februari 2015



Jumat, 23 Januari 2015 0 komentar

Seruling

Dilantunkan oleh Anisa Rahayu dan Luthfiatul Fuadah

Hari ini aku menjelma seruling,
Tiuplah daku, ciptakan nada merdu,
mainkah dengan hati yang baru.

Sambutlah bibirku dengan bibirmu yang ranum,
mainkan perlahan hingga jiwaku tergugah. Jangan jengah!
Karena hari ini aku menjelma seruling.

0 komentar

Gitar

Dimainkan oleh Anisa Rahayu dan Luthfiatul Fuadah

Malam ini aku menjelma sebuah gitar,
petiklah daku. semarakan malam-malam kelabu, 
nyanyikan lagu dengan syahdu.
Karena malam ini aku gitar, dawaiku berjejer seiringan,
maka sentuhlah bagiannya, maka aku siap melayanimu; malam ini.

Sentuh dan petiklah senarku, kemudian hanyutkan nada syahdu,
kuiringi kau bernyanyi dalam balutan rindu. Resapilah,
kita berdua sejajar beradu.
Katamu,
Nadaku adalah canda yang selaluku rindu.
Namun,
sentuhanmu serupa amarah yang sempat hilang,
geliatmu bak kuntup jatuh terinjak, tak terlihat
Kemarilah aduhai sayang, temukan lagi ujung sepatu kita ditengah laintainya
Jika aku tak kau hampiri, maka
akan kurampas jemarimu yang hanya diam menyangga dagu
kubawa kau kepada malam kemudian beradu sepatu,
bunyikan dan ketukan lagi seolah kita dicandu rindu.
Mainkan daku tanpa malu, petik daku setiap senja, petang, dan temaram.
Mainkan lagi hingga berbayang kita pada tahun yang lalu,
karena setahun lalu, kisahmu menitik pada harapku,
nadamu membawaku pada cinta yang kau tawarkan. karena itulah aku rindu.
0 komentar

Senyumanmu

Oleh Anisa Rahayu dan Luthfiatul Fuadah

Petang tadi ia begitu tenang berbisik,
kini temaram ia begitu gaduh berlaku.
Kaukah itu yang diam-diam membuat siluet didepan jendela sukmaku?

Karena pagi tadi kau menepi tepat dipelupuk mata.
Tanpa kau sadari kau menitipkan senyum yang katanya akan kau jemput dikala senja kembali hadir.
Namun hingga petang sekejap pulang kau tak jua terlihat.
Mungkinkah kau lupa akan janjimu itu?
Sengaja membuatku terluka karena menahan bayang senyummu pagi itu.
Kemudian pada senja yang akan tiba, aku menungguimu dibalik tirai hitam
kulabuhkan pengharapan kepada sang embun yang singgah di beberapa helai daun.

Tak cukupkah rautmu membekas pada sukma?
Sampai malamkupun kau racau dengan geliat manja.
Butiran bunga tidurku menjelma dirimu. sempurna.

Usai itu sang bunga kembali bergelut dalam mimpi
diteteskannya buih-buih harap yang belum sampai,
dibahasakannya melalui do'a yang disampaikan angin malam itu.
Karena pada tetesannya kutaruh harap.
Kelak bayangmu kan terbawa jatuh hingga perutnya.
0 komentar

Karena Kita Bersama

Oleh: Anisa Rahayu dan Imron Rosyadi

Sentuhanmu adalah sungai,
deras arus rasa yang mengalir
Menyuburkan perasaan, menuju muara ketenangan
Tak ada bising, hanya lenguh pada angin
Arusmu mngalir meliuk menuju hilirnya.
Rasaku tenggelam pada telapakmu yang yang melingkar ditemapatnya,
semua hening karena (kita) terkatup.

Mengatup kita, saling bercakap dalam keheningan,
membaginya pada angin yang sedikit dalam ruang menyempit.
Perlahan percakapan kita terangkai menjadi balada yang utuh,
lengkap dengan titik di akhir kalimatnya.
Sungguh tercapailah sebuah kesempurnaan rasa pada setiap titik.
Titik yang mmenghabiskan mara, melenyapkan waktu yang memenjara.
karena kita telah (bersama).
Minggu, 18 Januari 2015 0 komentar

Catatan

Oleh: Anisa Rahayu, Arini Hidayah, Khusnul Chotimah, dan Luthfiatul Fuadah
Saat ujaran tak kuasa berucap
Kusantap helai kertas di atas atap
Kutumpahi tinta dalam derai
Lirih angin berbisik untuk menyudahi
Segera sampaikan pada sebuah titik
Perlu apa lagi kujabarkan bait ini?
Sedang catatan sudah menitik sejak jauh-jauh hari
Goresan pena membentuk diksi tentang cinta,
Tentang hujan, tentang kamu
Namun aksaranya mengambang
Tak sampai pada si empunya cinta
Kamu catatanku. Puisiku.

Ciputat, 21 Desember 2014
0 komentar

Debu

Oleh: Anisa Rahayu dan Arini Hidayah
Katamu…
Kau bagai debu
Tak bernada
Tak berlagu
Katamu…
Kau bagai aku
Tegak,
Nyata, tak semu
Kepada cermin di dinding batu
Meski hanya bayangmu
Tak kulihat kita bersatu padu
Katamu…
Kau bagai debu
Hadir meski tak pernah dirasa perlu
Katamu…
Kau bagai aku
Yang senantiasa memupuk rindu
Rasa rindu berkemul dalam-dalam padamu
Padahal sendiriku ragu
Aku tetap memandang cermin di hadapan
Yang menyimpan guratan
Tegak, nyata, tak semu;
Bayang wajahmu
Ciputat, 21 Desember 2014
0 komentar

Gemuruh~

Oleh: Anisa Rahayu, Arini Hidayah, Khusnul Chotimah, dan Luthfiatul Fuadah
Jiwaku lusuh menatap matamu yang angkuh
Dikoyak sakit yang tak jua berlabuh,
Rasaku bergulat sakit; bergemuruh
Helaian angin serontak hadir
Menarik napas hingga sesak tak kuasa berlabuh
Pada dekap malam, aku berlagu
Menimang rasa yang kutahu pilu
Entah kapan tenggat waktuku berujar rindu
Dalam pertapaanku, sampai datang waktu
Kuharap kau tak lagi semu

Ciputat, 21 Desember 2014
0 komentar

Lumpur

Oleh: Khusnul Chotimah dan Luthfiatul Fuadah
Tak jua resap tanah beradu satu menjadi batu
Namun kulihat lumput mengalir deras tanpa sehelai pun tertelan malu
Andai liat dapat saling beradu
Kupastikan kau menjadi saksi atas tunggu yang membisu
Kujejaki lumpur bau dengan saru
Dalam risau hati yang tak punya malu, menuntut arti sebuah rindu
Kurasa harga diri sudah tak perlu,
Saat raga kau regas begitu nafsu
Ciputat, 21 Desember 2014
0 komentar

Ranting

Oleh: Anisa Rahayu, Arini Hidayah, Khusnul Chotimah, dan Luthfiatul Fuadah
Dedaunan bergelayut di ranting kayu
Basah dihujani rinai malam kelabu
Kepadamu kehanyaan aku melabuhkan rindu
Seperti ranting bertahan pada pohon yang satu
Karena kamu, sendiriku usah tuk berlaku
Biarkanlah rasaku menari diataskan rindu, padamu
Kepada akar denyutku meniti harap yang tak semu
Menaruh rindu padamu yang tak kunjung sendu
Sampai kapan resah menggelut hati yang lusuh?
Sedari dulu kutitih harap padamu yang menjamu

Ciputat, 21 Desember 2014
0 komentar

Rinai

Oleh: Anisa Rahayu, Arini Hidayah, Khusnul Chotimah, dan Luthfiatul Fuadah
Rinai membersamai penantian sedari tadi
Membuatku berpikir,
Masih perlukah aku menanti?
Kebersamaan kita desas-desus berganti
Bukan dia yang berupa
Namun perjalanan pemilik hati; kamu
Masih ingatkah pada waktu yang sedari dulu berlabuh?
Mengusap tanya pada rindu yang kian menjamu
Terlungkup malu aku mengaku
Hanya pada temaram aku mampu mengadu
Mengaku mau untuk kita lagi berpadu,
Bersamamu

Ciputat, 21 Desember 2014
0 komentar

Tahi!

Oleh: Arini Hidayah dan Luthfiatul Fuadah
Kerontang raga memikul pilu
Pada suatu pesta malam biru
Aroma rindu tak seharum dulu
Malah tahi kuciumi rindu
Luluh, lantah, aku termangu
Tahi!
Kau bilang, kau rindu
Sedikit pun tubuhmu tak berlagu
Sekali lagi kau bilang rindu tanpa laku
Kau melucu!

Ciputat, 21 Desember 2014
0 komentar

Sampah

Oleh: Anisa Rahayu dan Khusnul Chotimah
Pasrahku tak lagi berarah
Terjebak cinta yang kini berubah amarah
Hadirku tak lagi buatmu kembali ajegkan kerah
Karena aku kini hanya sampah
Di bawah alas kakimu yang gagah
Di balik liur rusuh yang berbau busuk
Tatapku tetap melabuh padamu yang kurindu
Biar kau anggap aku sampah yang merapah
Namun raga tak sedikit pun menjauh

Ciputat, 21 Desember 2014
0 komentar

Emosi Kopi

Diracik oleh: Anisa Rahayu, Arini Hidayah, Ferrara Ferronica, Luthfiatul Fuadah, dan Sukmawati
Secangkir kopi yang tak sengaja kutenggak ternyata bukan sekedar kopi. Rasanya tak hanya pahit, namun masam tertinggal di kerongkongan. Kopi rasa kemarin.
Kopi kemarin terasa manis karena ditenggak secangkir berdua dengan bibirmu. Namun rasanya cepat berubah secepat hilangnya pedulimu. Masam kini hilang kamu.
Ya, masam! Tak ada aroma menyeruak hangat. Sebab yang tersaji hanya secangkir kopi rasa kemarin. Tanpa gula, dan tanpa kamu sebagai pelengkap malam.
Asam di lambungku kini mulai naik. Ingin kumuntahkan kopi masam di tengah kejahanaman malam. Lalu kurauk muntahku dan kupoleskan padamu yang hanya diam.
Apa kau tak ingat cangkir terakhir yang kubuatkan? Takkan masam jika tak kau biarkan, tak kau abaikan.
Butiran serbuk kopi ketika diseduh, memberikan aroma yang khas dan aku ingin seperti butiran robusta. Apakah kau mengetahuinya?
Juga kafein yang menggoda pada malam, memaksa tak boleh terpejam. Sebab masih tersisa setengah cangkir kopi yang harus kau tenggak tapi tak ingin kau buang.
Kopi memang pahit, tapi bergitu nikmat jika diberi gula dan tentunya akan digemari. Begitupun kau selalu kugemari walau kutahu dalam kenyataan terasa (pahit).
Aroma kopi menyeruak ditengah gaduh dalam ruang menyelinap rongga hidung sampai tertengguk kerongkong, hangat dalam badan. Ya, secangkir kopi pada malam jahanam.
Malam itu kita berdua dengan secangkir kopi, pelukmu semakin erat tatkala malam semakin penat. Bibirmu menyentuh mulut cangkir dengan lembut, padahal hati menciut.
Sejujurnya aku khawatir, lakumu yang setiap saat mengambang di pelupuk mata esok hilang tanpa bilang.
Kopinya sengaja tak sehari habis, siapa tahu masih sama manis karena bibirmu yang aduhai manis. Tapi sungguh tragis, manisnya jadi masam seiring kau berubah jadi yang maha kejam.
Kendati kini cangkir itu tak lagi milik berdua. Kau pergi menyisakan sidik bibirmu di pinggir mulut cangkirnya. Bukan main masamnya, aku jadi hilang selera.
Bila boleh pengandaianku, kuandaikan senyatanya inginku berhentikan waktu saat di mana aku menggigil, lalu kau peluk ditemani secangkir kopi untuk menghangatkan.
Dan kendati cangkirku tak lagi dipenuhi kopi racikanmu, kuandaikan malam itu bahumu sejajar membersamaiku. Kubayangkan wajahmu dalam cangkir kopiku.
Kopi kemarin yang aku sajikan sudah pasti masam rasanya. Tak enak. Sudah cukup kau berandai, tak baik pengandaianmu. Hanya tergadai!
Aku ingin secangkir kopi terakhir malam itu. Ya, kopi robusta yang kau racik nikmat tiada tandingan. Oh sungguh, bualan kopi terus saja memanjakanku pada malam.
Secangkir kopi perempuan jahanam pada malam jahanam untuk laki-laki jahanam tuntas kuseruput habis.

30 Desember 2014
 
;