Berawal dari bait pertama maha karya Chairil Anwar; Sajak Putih.
Bersandar pada tari warna pelangi
Kau depanku bertudung sutra senja
Di hitam matamu kembang mawar dan melati
Harum rambutmu mengalun bergelut senda
A: Pada harum rambutmu, aku ingin menjelma belai yang mengekalkan kesegarannya.
B: Kamu titipkan rindu pada setiap selanya ketika kau sisir rambutku dengan jemarimu. Belum cukupkah kau tinggalkan saja?
A: Aku akan kembali membawa bunga pesona untuk kusisipkan di sela jemarimu. Sungguhlah mempesona dirimu, kujemput lagi rinduku.
B: Kau penipu ulung! Ucapmupun begitu sebelum kau pergi setahun lalu. Sekali kau datang hanya untuk menabur garam pada luka yang kau sayat atasku.
A: Aku tidak menipu, karena rinduku tidaklah palsu. Kemarin aku memang datang bersama hujan, yang derasnya menitikan prasangka. Mengertilah.
B: Apa lagi yang harus aku pahamu Tuan? kau datang memang, hatiku berbunga bukan main, Namun belum sempat bunganya mekar kau pergi membelakngi dan tak kembali, sedang rindu masih kau genggam kuat.
A: Kau tahu? Rinduku selalu rekat padamu. Tapi sekarang kurenggangkan, karena kulihat kau duduk di kursi taman bersanding kecemburuan.
B: Kau salah paham! Sejatinya aku menantimu selalu, mengapa kau melenggang tanpa mau menoleh? Sekarang kau menudingku suguhkan api cemburu? Kau salah paham!
A: Lalu siapa pria di sampingmu, bermantel hitam hangat saat kau menggigil di musim anti kerinduan?
B: Itu bayangmu Tuan. Aku sengaja membentuknya dengan rindu dan luka yang kuaduk hingga pekat, bentuknya sempurna bukan? Inilah aku, yang membodoho diriku sendiri demi kehadiranmu.
A: Kita saling berprasangka, kita saling sangsi. Adakah keyakinan di antara kita untuk saling menemukan pada sebuah musim akan kita hentikan?
B: Segala aku serahkan pada telapakmu. Sesungguhnya setelah kau pergi, aku mengubur dalam setiap datangnya rindu, meski hadirnya tak pernah abstain dari lintasan; aku lupakan (Selalu). Namun jika benar akan kau hentikan, serahkan dulu rindu yang kau ambil waktu itu.
A: Akan ku ambil rindu itu, dan aku sematkan dalam pelukanmu. Sama-sama kita rasakan detaknya, hingga eluhanmu terdengar menggantikan detik yang baru.
B: Bisakah kau berjanji untuk senyatanya janji? Mengecup semanisnya ranum segala ranum? Mengunci yang seharusnya dijaga?
A: Aku bersedia apapun permintaanmu, Karena kau adalah karunia.
Obrolan dengan seorang sahabat, diantara sayup angin menanti maghrib 21 Juni 2015
Terima kasih Imron Rosyadi~
Salam.
AR~

0 komentar:
Posting Komentar