Dilantunkan oleh Anisa Rahayu dan Luthfiatul Fuadah
Hari ini aku menjelma seruling,
Tiuplah daku, ciptakan nada merdu,
mainkah dengan hati yang baru.
Sambutlah bibirku dengan bibirmu yang ranum,
mainkan perlahan hingga jiwaku tergugah. Jangan jengah!
Karena hari ini aku menjelma seruling.
Dimainkan oleh Anisa Rahayu dan Luthfiatul Fuadah
Malam ini aku menjelma sebuah gitar,
petiklah daku. semarakan malam-malam kelabu,
petiklah daku. semarakan malam-malam kelabu,
nyanyikan lagu dengan syahdu.
Karena malam ini aku gitar, dawaiku berjejer seiringan,
maka sentuhlah bagiannya, maka aku siap melayanimu; malam ini.
Sentuh dan petiklah senarku, kemudian hanyutkan nada syahdu,
kuiringi kau bernyanyi dalam balutan rindu. Resapilah,
kita berdua sejajar beradu.
Katamu,
Nadaku adalah canda yang selaluku rindu.
Namun,
sentuhanmu serupa amarah yang sempat hilang,
maka sentuhlah bagiannya, maka aku siap melayanimu; malam ini.
Sentuh dan petiklah senarku, kemudian hanyutkan nada syahdu,
kuiringi kau bernyanyi dalam balutan rindu. Resapilah,
kita berdua sejajar beradu.
Katamu,
Nadaku adalah canda yang selaluku rindu.
Namun,
sentuhanmu serupa amarah yang sempat hilang,
geliatmu bak kuntup jatuh terinjak, tak terlihat
Kemarilah aduhai sayang, temukan lagi ujung sepatu kita ditengah laintainya
Kemarilah aduhai sayang, temukan lagi ujung sepatu kita ditengah laintainya
Jika aku tak kau hampiri, maka
akan kurampas jemarimu yang hanya diam menyangga dagu
kubawa kau kepada malam kemudian beradu sepatu,
bunyikan dan ketukan lagi seolah kita dicandu rindu.
Mainkan daku tanpa malu, petik daku setiap senja, petang, dan temaram.
Mainkan lagi hingga berbayang kita pada tahun yang lalu,
akan kurampas jemarimu yang hanya diam menyangga dagu
kubawa kau kepada malam kemudian beradu sepatu,
bunyikan dan ketukan lagi seolah kita dicandu rindu.
Mainkan daku tanpa malu, petik daku setiap senja, petang, dan temaram.
Mainkan lagi hingga berbayang kita pada tahun yang lalu,
karena setahun lalu, kisahmu menitik pada harapku,
nadamu membawaku pada cinta yang kau tawarkan. karena itulah aku rindu.
Oleh Anisa Rahayu dan Luthfiatul Fuadah
Petang tadi ia begitu tenang berbisik,
kini temaram ia begitu gaduh berlaku.
Kaukah itu yang diam-diam membuat siluet didepan jendela sukmaku?
Karena pagi tadi kau menepi tepat dipelupuk mata.
Tanpa kau sadari kau menitipkan senyum yang katanya akan kau jemput dikala senja kembali hadir.
Namun hingga petang sekejap pulang kau tak jua terlihat.
Mungkinkah kau lupa akan janjimu itu?
Sengaja membuatku terluka karena menahan bayang senyummu pagi itu.
Kemudian pada senja yang akan tiba, aku menungguimu dibalik tirai hitam
kulabuhkan pengharapan kepada sang embun yang singgah di beberapa helai daun.
Tak cukupkah rautmu membekas pada sukma?
Sampai malamkupun kau racau dengan geliat manja.
Butiran bunga tidurku menjelma dirimu. sempurna.
Usai itu sang bunga kembali bergelut dalam mimpi
diteteskannya buih-buih harap yang belum sampai,
dibahasakannya melalui do'a yang disampaikan angin malam itu.
Karena pada tetesannya kutaruh harap.
Kelak bayangmu kan terbawa jatuh hingga perutnya.
Petang tadi ia begitu tenang berbisik,
kini temaram ia begitu gaduh berlaku.
Kaukah itu yang diam-diam membuat siluet didepan jendela sukmaku?
Karena pagi tadi kau menepi tepat dipelupuk mata.
Tanpa kau sadari kau menitipkan senyum yang katanya akan kau jemput dikala senja kembali hadir.
Namun hingga petang sekejap pulang kau tak jua terlihat.
Mungkinkah kau lupa akan janjimu itu?
Sengaja membuatku terluka karena menahan bayang senyummu pagi itu.
Kemudian pada senja yang akan tiba, aku menungguimu dibalik tirai hitam
kulabuhkan pengharapan kepada sang embun yang singgah di beberapa helai daun.
Tak cukupkah rautmu membekas pada sukma?
Sampai malamkupun kau racau dengan geliat manja.
Butiran bunga tidurku menjelma dirimu. sempurna.
Usai itu sang bunga kembali bergelut dalam mimpi
diteteskannya buih-buih harap yang belum sampai,
dibahasakannya melalui do'a yang disampaikan angin malam itu.
Karena pada tetesannya kutaruh harap.
Kelak bayangmu kan terbawa jatuh hingga perutnya.
Oleh: Anisa Rahayu dan Imron Rosyadi
Sentuhanmu adalah sungai,
deras arus rasa yang mengalir
Menyuburkan perasaan, menuju muara ketenangan
Tak ada bising, hanya lenguh pada angin
Arusmu mngalir meliuk menuju hilirnya.
Rasaku tenggelam pada telapakmu yang yang melingkar ditemapatnya,
semua hening karena (kita) terkatup.
Mengatup kita, saling bercakap dalam keheningan,
membaginya pada angin yang sedikit dalam ruang menyempit.
Perlahan percakapan kita terangkai menjadi balada yang utuh,
lengkap dengan titik di akhir kalimatnya.
Sungguh tercapailah sebuah kesempurnaan rasa pada setiap titik.
Titik yang mmenghabiskan mara, melenyapkan waktu yang memenjara.
karena kita telah (bersama).
Sentuhanmu adalah sungai,
deras arus rasa yang mengalir
Menyuburkan perasaan, menuju muara ketenangan
Tak ada bising, hanya lenguh pada angin
Arusmu mngalir meliuk menuju hilirnya.
Rasaku tenggelam pada telapakmu yang yang melingkar ditemapatnya,
semua hening karena (kita) terkatup.
Mengatup kita, saling bercakap dalam keheningan,
membaginya pada angin yang sedikit dalam ruang menyempit.
Perlahan percakapan kita terangkai menjadi balada yang utuh,
lengkap dengan titik di akhir kalimatnya.
Sungguh tercapailah sebuah kesempurnaan rasa pada setiap titik.
Titik yang mmenghabiskan mara, melenyapkan waktu yang memenjara.
karena kita telah (bersama).
Oleh: Anisa Rahayu, Arini Hidayah, Khusnul Chotimah, dan
Luthfiatul Fuadah
Ciputat, 21 Desember 2014
Saat ujaran tak kuasa berucap
Kusantap helai kertas di atas atap
Kutumpahi tinta dalam derai
Lirih angin berbisik untuk menyudahi
Segera sampaikan
pada sebuah titik
Perlu apa lagi kujabarkan bait ini?
Sedang catatan sudah menitik sejak jauh-jauh hari
Goresan pena membentuk diksi tentang cinta,
Tentang hujan, tentang kamu
Namun aksaranya mengambang
Tak sampai pada si empunya cinta
Kamu catatanku. Puisiku.
Ciputat, 21 Desember 2014
Oleh: Anisa Rahayu dan Arini Hidayah
Katamu…
Kau bagai debu
Tak bernada
Tak berlagu
Katamu…
Kau bagai aku
Tegak,
Nyata, tak semu
Kepada cermin di dinding batu
Meski hanya bayangmu
Tak kulihat kita bersatu padu
Katamu…
Kau bagai debu
Hadir meski tak pernah dirasa perlu
Katamu…
Kau bagai aku
Yang senantiasa memupuk rindu
Rasa rindu berkemul dalam-dalam padamu
Padahal sendiriku ragu
Aku tetap memandang cermin di hadapan
Yang menyimpan guratan
Tegak, nyata, tak semu;
Bayang wajahmu
Oleh: Anisa Rahayu, Arini Hidayah, Khusnul Chotimah, dan
Luthfiatul Fuadah
Jiwaku lusuh menatap matamu yang angkuh
Dikoyak sakit yang tak jua berlabuh,
Rasaku bergulat sakit; bergemuruh
Helaian angin serontak hadir
Menarik napas hingga sesak tak kuasa berlabuh
Pada dekap malam, aku berlagu
Menimang rasa yang kutahu pilu
Entah kapan tenggat waktuku berujar rindu
Dalam pertapaanku, sampai datang waktu
Kuharap kau tak lagi semu
Ciputat, 21 Desember 2014
Lumpur
Oleh: Khusnul Chotimah dan Luthfiatul Fuadah
Tak jua resap tanah beradu satu menjadi batu
Namun kulihat lumput mengalir deras tanpa sehelai pun
tertelan malu
Andai liat dapat saling beradu
Kupastikan kau menjadi saksi atas tunggu yang membisu
Kujejaki lumpur bau dengan saru
Dalam risau hati yang tak punya malu, menuntut arti sebuah
rindu
Kurasa harga diri sudah tak perlu,
Saat raga kau regas begitu nafsu
Ciputat, 21 Desember 2014
Oleh: Anisa Rahayu, Arini Hidayah, Khusnul Chotimah, dan
Luthfiatul Fuadah
Dedaunan bergelayut di ranting kayu
Basah dihujani rinai malam kelabu
Kepadamu kehanyaan aku melabuhkan rindu
Seperti ranting bertahan pada pohon yang satu
Karena kamu, sendiriku usah tuk berlaku
Biarkanlah rasaku menari diataskan rindu, padamu
Kepada akar denyutku meniti harap yang tak semu
Menaruh rindu padamu yang tak kunjung sendu
Sampai kapan resah menggelut hati yang lusuh?
Sedari dulu kutitih harap padamu yang menjamu
Ciputat, 21 Desember 2014
Oleh:
Anisa Rahayu, Arini Hidayah, Khusnul Chotimah, dan Luthfiatul Fuadah
Rinai
membersamai penantian sedari tadi
Membuatku
berpikir,
Masih perlukah aku menanti?
Kebersamaan
kita desas-desus berganti
Bukan
dia yang berupa
Namun
perjalanan pemilik hati; kamu
Masih
ingatkah pada waktu yang sedari dulu berlabuh?
Mengusap
tanya pada rindu yang kian menjamu
Terlungkup
malu aku mengaku
Hanya
pada temaram aku mampu mengadu
Mengaku
mau untuk kita lagi berpadu,
Bersamamu
Ciputat, 21 Desember 2014
Oleh: Arini Hidayah dan Luthfiatul Fuadah
Kerontang raga memikul pilu
Pada suatu pesta malam biru
Aroma rindu tak seharum dulu
Malah tahi kuciumi rindu
Luluh, lantah, aku termangu
Tahi!
Kau bilang, kau rindu
Sedikit pun tubuhmu tak berlagu
Sekali lagi kau bilang rindu tanpa laku
Kau melucu!
Ciputat, 21 Desember 2014
Oleh: Anisa Rahayu dan Khusnul Chotimah
Pasrahku tak lagi berarah
Terjebak cinta yang kini berubah amarah
Hadirku tak lagi buatmu kembali ajegkan kerah
Karena aku kini hanya sampah
Di bawah alas kakimu yang gagah
Di balik liur rusuh yang berbau busuk
Tatapku tetap melabuh padamu yang kurindu
Biar kau anggap aku sampah yang merapah
Namun raga tak sedikit pun menjauh
Ciputat, 21 Desember 2014
Diracik oleh: Anisa
Rahayu, Arini Hidayah, Ferrara Ferronica, Luthfiatul Fuadah, dan Sukmawati
Secangkir kopi yang
tak sengaja kutenggak ternyata bukan sekedar kopi. Rasanya tak hanya pahit,
namun masam tertinggal di kerongkongan. Kopi rasa kemarin.
Kopi kemarin terasa
manis karena ditenggak secangkir berdua dengan bibirmu. Namun rasanya cepat
berubah secepat hilangnya pedulimu. Masam kini hilang kamu.
Ya, masam! Tak ada
aroma menyeruak hangat. Sebab yang tersaji hanya secangkir kopi rasa kemarin. Tanpa
gula, dan tanpa kamu sebagai pelengkap malam.
Asam di lambungku
kini mulai naik. Ingin kumuntahkan kopi masam di tengah kejahanaman malam. Lalu
kurauk muntahku dan kupoleskan padamu yang hanya diam.
Apa kau tak ingat
cangkir terakhir yang kubuatkan? Takkan masam jika tak kau biarkan, tak kau
abaikan.
Butiran serbuk kopi
ketika diseduh, memberikan aroma yang khas dan aku ingin seperti butiran
robusta. Apakah kau mengetahuinya?
Juga kafein yang
menggoda pada malam, memaksa tak boleh terpejam. Sebab masih tersisa setengah
cangkir kopi yang harus kau tenggak tapi tak ingin kau buang.
Kopi memang pahit,
tapi bergitu nikmat jika diberi gula dan tentunya akan digemari. Begitupun kau
selalu kugemari walau kutahu dalam kenyataan terasa (pahit).
Aroma kopi
menyeruak ditengah gaduh dalam ruang menyelinap rongga hidung sampai tertengguk
kerongkong, hangat dalam badan. Ya, secangkir kopi pada malam jahanam.
Malam itu kita
berdua dengan secangkir kopi, pelukmu semakin erat tatkala malam semakin penat.
Bibirmu menyentuh mulut cangkir dengan lembut, padahal hati menciut.
Sejujurnya aku
khawatir, lakumu yang setiap saat mengambang di pelupuk mata esok hilang tanpa
bilang.
Kopinya sengaja tak
sehari habis, siapa tahu masih sama manis karena bibirmu yang aduhai manis. Tapi
sungguh tragis, manisnya jadi masam seiring kau berubah jadi yang maha kejam.
Kendati kini
cangkir itu tak lagi milik berdua. Kau pergi menyisakan sidik bibirmu di
pinggir mulut cangkirnya. Bukan main masamnya, aku jadi hilang selera.
Bila boleh
pengandaianku, kuandaikan senyatanya inginku berhentikan waktu saat di mana aku
menggigil, lalu kau peluk ditemani secangkir kopi untuk menghangatkan.
Dan kendati
cangkirku tak lagi dipenuhi kopi racikanmu, kuandaikan malam itu bahumu sejajar
membersamaiku. Kubayangkan wajahmu dalam cangkir kopiku.
Kopi kemarin yang
aku sajikan sudah pasti masam rasanya. Tak enak. Sudah cukup kau berandai, tak
baik pengandaianmu. Hanya tergadai!
Aku ingin secangkir
kopi terakhir malam itu. Ya, kopi robusta yang kau racik nikmat tiada
tandingan. Oh sungguh, bualan kopi terus saja memanjakanku pada malam.
Secangkir kopi
perempuan jahanam pada malam jahanam untuk laki-laki jahanam tuntas kuseruput
habis.
30 Desember 2014
Dimohonkan oleh:
Anisa Rahayu, Arini Hidayah, Ferrara Ferronica, Luthfiatul Fuadah, dan
Sukmawati
Sekali ini
kuucapkan cinta padamu; semogaku. Namun, takut sendirinya menyarang, masihkah
kau selembut dulu? Seperti ketika tatap belum berani mengharap?
Semogaku; di setiap
tatap menyelinap harap yang lama mengendap dan tak pernah sepatahpun terucap. Saat
senyap aku berharap kau ada, berhadap dan mendekap.
Pada senja, kau
terbayang di pelupuk mata. Dalam buai, harapku melabuhkan rindu padamu semogaku
yang senantiasa diaminkan malaikat malam yang bercengkrama.
Kepada semogaku; merasakan
jatuh yang tak sakit pada tatap pertama peraduan mata, sejak itu kau hadir,
membuktikan kuasa Tuhan menghadirkanmu sebagai takdir.
Aku diam didekap
malam, pada rindu yang baru saja tersampaikan sebab kau pulungi celotehku
begitu tenang. Sejurus ada yang diam-diam jatuh. Jatuh cinta.
Kehanyaan padamu
dihaturkan rasa yang begitu agung, sampai pada satu titik, tak lagi kutemukan
belahan dari rasa itu. Tetap padamu, kehanyaan satu.
Sekali ini
kuberanikan menangkap bola mata yang teduh mengusik sukma. Segaris senyum
simpul yang selaras dengan rona wajah sendu. Aku, jatuh cinta.
Teruntuk yang
selalu kusemogakan dalam doa; biarlah kuselalu jadi pengagum rahasia.
30 Desember 2014
Hanya karena siempunya semoga tersenyum,
kala itu lagi-lagi kuaminkan harap yang dengan sendirinya teruntai menjadi kalimat cita untukmu.
Karena kamu hanyalah selintas, sehingga aku senantiasa mengaminkan namamu diantara kalimat harapku pada Tuhan. Pada cintaku.
Semogaku, aminku terus saja mengalir seiring dengan air mata yang menetes,
Maaf sudah kuupayakan untuk mangkir tapi hati rasa terkilir.
Karena aku menyebut namamu dalam semogaku, dengan amin yang mengiringinya di akhir kalimat doa yang berpangku;
Semoga kamu
Sayang, kamu masih semoga yang senantiasa aku aminkan dengan lisan.
Bukan aku dengannya tak berperasaan, tapi kamulah yang membuatku nyaman.
Karenanya aku berharap untuk dapat singgah, lalu tinggal disebuah rumah, sampai menyatu dengan tanah.
Maaf karena hingga detik ini semogaku masih kamu.
AR~
Sukabumi, 18 Januari 2015
.
Kepadamu kehanyaan aku mengalun pada sebuah sungai,
mengalun mengikuti arus rindu yang menggebu.
Kepadamu kehanyaan aku meliuk di udara,
berputar-putar di atas kepala, menggangsingkan kalimat cinta; untukmu.
Kepadamu kehanyaan aku memusat pada sebuah titik,
menuju sakit hingga tak tahu lagi makna berlaku.
Kepadamu kehanyaan aku layaknya medan kasih yang tak pernah sampai.
ketika rindu, cinta, dan sakit kesemuanya bergemul ke dalam satu magnet; Dirimu.
AR~
Sukabumi, 18 Januari 2015
mengalun mengikuti arus rindu yang menggebu.
Kepadamu kehanyaan aku meliuk di udara,
berputar-putar di atas kepala, menggangsingkan kalimat cinta; untukmu.
Kepadamu kehanyaan aku memusat pada sebuah titik,
menuju sakit hingga tak tahu lagi makna berlaku.
Kepadamu kehanyaan aku layaknya medan kasih yang tak pernah sampai.
ketika rindu, cinta, dan sakit kesemuanya bergemul ke dalam satu magnet; Dirimu.
AR~
Sukabumi, 18 Januari 2015
Karena hujan pagi itu datang
kau basah kuyup disentuh buliran yang menyarang
tatap senyummu hangat menyapa yang kau sayang.
karena pagi itu hujan menyapa perlahan, butirannya setitik jatuh kepangkuan
sayang, bagiku cinta kini tak dapat jadi sandaran
sendiriku kini mengenang kamu yang kusayang
karena hujan tak lagi datang
karena bagiku kini hujan bukan lagi puisi yang dikarang
karena hujan hanyalah kenangan yang takkan pernah lekang
darimu sayang.
AR~
Sukabumi, 18 Januari 2014
Karena Hujan selalu memberikan cerita~
kau basah kuyup disentuh buliran yang menyarang
tatap senyummu hangat menyapa yang kau sayang.
karena pagi itu hujan menyapa perlahan, butirannya setitik jatuh kepangkuan
sayang, bagiku cinta kini tak dapat jadi sandaran
sendiriku kini mengenang kamu yang kusayang
karena hujan tak lagi datang
karena bagiku kini hujan bukan lagi puisi yang dikarang
karena hujan hanyalah kenangan yang takkan pernah lekang
darimu sayang.
AR~
Sukabumi, 18 Januari 2014
Karena Hujan selalu memberikan cerita~
Langganan:
Komentar (Atom)

- Follow Us on Twitter!
- "Join Us on Facebook!
- RSS
Contact