Malam ini aku menjelma sebuah gitar,
petiklah daku. semarakan malam-malam kelabu,
petiklah daku. semarakan malam-malam kelabu,
nyanyikan lagu dengan syahdu.
Karena malam ini aku gitar, dawaiku berjejer seiringan,
maka sentuhlah bagiannya, maka aku siap melayanimu; malam ini.
Sentuh dan petiklah senarku, kemudian hanyutkan nada syahdu,
kuiringi kau bernyanyi dalam balutan rindu. Resapilah,
kita berdua sejajar beradu.
Katamu,
Nadaku adalah canda yang selaluku rindu.
Namun,
sentuhanmu serupa amarah yang sempat hilang,
maka sentuhlah bagiannya, maka aku siap melayanimu; malam ini.
Sentuh dan petiklah senarku, kemudian hanyutkan nada syahdu,
kuiringi kau bernyanyi dalam balutan rindu. Resapilah,
kita berdua sejajar beradu.
Katamu,
Nadaku adalah canda yang selaluku rindu.
Namun,
sentuhanmu serupa amarah yang sempat hilang,
geliatmu bak kuntup jatuh terinjak, tak terlihat
Kemarilah aduhai sayang, temukan lagi ujung sepatu kita ditengah laintainya
Kemarilah aduhai sayang, temukan lagi ujung sepatu kita ditengah laintainya
Jika aku tak kau hampiri, maka
akan kurampas jemarimu yang hanya diam menyangga dagu
kubawa kau kepada malam kemudian beradu sepatu,
bunyikan dan ketukan lagi seolah kita dicandu rindu.
Mainkan daku tanpa malu, petik daku setiap senja, petang, dan temaram.
Mainkan lagi hingga berbayang kita pada tahun yang lalu,
akan kurampas jemarimu yang hanya diam menyangga dagu
kubawa kau kepada malam kemudian beradu sepatu,
bunyikan dan ketukan lagi seolah kita dicandu rindu.
Mainkan daku tanpa malu, petik daku setiap senja, petang, dan temaram.
Mainkan lagi hingga berbayang kita pada tahun yang lalu,
karena setahun lalu, kisahmu menitik pada harapku,
nadamu membawaku pada cinta yang kau tawarkan. karena itulah aku rindu.

0 komentar:
Posting Komentar