Kulepaskan mataku ke tengah cangkir berisi kopi yang pahitnya begitu getir. Namun manisnya tiada berakhir.
Di sana kutemukan tabir, bahwa untukkulah kau lahir sebagai bagian dari takdir.
Terima kasih sayang, karena kau hadir.
Adanya kamu bukan hanya untuk mampir, adanya kamu adalah obat dari segala rasa khawatir.
Pada ruang dan waktu yang membuat kita tak saling hadir, telah kusampaikan rindu pada angin yang semilir~
Oleh: Arini Hidayah Muhammad Syakir Ni'amillah Anisa Rahayu Bahtiar
Oleh: Anisa Rahayu, Arini Hidayah,
Ferrara Ferronica, Luthfiatul Fuadah, dan Sukmawati
Kaubilang, kau sayang…
Tapi kau biarkan aku seperti
gelandang
Kaubilang, Kau Sayang
Oleh: Anisa Rahayu, Arini Hidayah,
Ferrara Ferronica, Luthfiatul Fuadah, dan Sukmawati
Kaubilang, kau sayang…
Tapi kau biarkan aku seperti
gelandang
yang tinggal tulang.
Angin berhembus kencang
menakutkan hati yang bimbang.
Getarkan cinta penuh gelombang,
membiaskan diri pada karang.
Kaubilang, kau sayang…
Tapi rinduku tak kau bilang.
Seperti tulang belulang,
kau buang ke dasar jurang.
Tulang belulang terpisah dari daging
yang menyarang,
hadirnya tak akan pernah lekang.
Rupanya suci bak warna cinta
untukmu yang tersayang.
Kaubilang, kau sayang…
Aku harus menanggung sakit yang
berulang,
sedang kau hilang sejak kau bilang
pulang.
Dan aku terus meradang meski tinggal
tulang belulang.
Burung-burung serta belalang
jua sadis menyantap dengan garang.
Bahkan barisan semut siap menyerang.
Sungguh malang si tulang belulang.
Kemudian anjing-anjing hutan
mencabik tulangku hingga tak
bersisa,
sedang kau riang
bersahaja bersua.
Kaubilang, kau sayang…
Sejak kau pulang tanpa bilang,
ada yang tersayat dalam-dalam.
Sejak tulang remuk dimakan belalang,
ada kecewa tak berbilang,
sudah cukup membuat berang.
Katamu…
“Sakitmu menjalar hingga terasa
kepayang.
Lukamu dalam bagai ditusum kerang.
Kala itu aku bukannya pulang,
tapi aku merindunya. Cintaku yang
kusayang.”
Serasa lengan hendak meraih parang,
menikam hati yang bergelut perang.
Adakah lagi uraian sayang pada
jiwanya yang (masih) bimbang?
Aku tak main-main mulai sekarang.
Jika bimbang masih bersarang, pulang
saja kau tanpa berjuang!
Bawa parang dan kau hunus cintaku
sekali tumbang!
Pada yang bimbang tak kubiarkan
harapan menyarang.
Meski padanya asa terus berkembang.
Tapi tikaman terakhirnya dengan
parang,
membuat sakit sampai belulang.
Kaubilang, kau sayang…
Di malam bertabur bintang akankah
kau nodai dengan adanya perang?
Tidakkah kau menginginkan untuk
bertahan dan berjuang?
Masa bodo kau anggap aku jalang,
sebab bicara terlalu lantang.
Baik kau bilah aku dengan parang
daripada perlahan kau buat aku mati
malang.
Padahal…
kau tikam berulang dengan parang pun
aku takkan garang,
sebab aku terlampau sayang.
Kaubilang, kau sayang…
Kau sayang sungguh malang, tak bisa
binasakan rasa bimbang.
Andai kau pejuang, harus kau pilih
yang kau sayang.
Bukan bermain dalam jurang.
Kau mabuk kepayang.
yang tinggal tulang.
Angin berhembus kencang
menakutkan hati yang bimbang.
Getarkan cinta penuh gelombang,
membiaskan diri pada karang.
Kaubilang, kau sayang…
Tapi rinduku tak kau bilang.
Seperti tulang belulang,
kau buang ke dasar jurang.
Tulang belulang terpisah dari daging
yang menyarang,
hadirnya tak akan pernah lekang.
Rupanya suci bak warna cinta
untukmu yang tersayang.
Kaubilang, kau sayang…
Aku harus menanggung sakit yang
berulang,
sedang kau hilang sejak kau bilang
pulang.
Dan aku terus meradang meski tinggal
tulang belulang.
Burung-burung serta belalang
jua sadis menyantap dengan garang.
Bahkan barisan semut siap menyerang.
Sungguh malang si tulang belulang.
Kemudian anjing-anjing hutan
mencabik tulangku hingga tak
bersisa,
sedang kau riang
bersahaja bersua.
Kaubilang, kau sayang…
Sejak kau pulang tanpa bilang,
ada yang tersayat dalam-dalam.
Sejak tulang remuk dimakan belalang,
ada kecewa tak berbilang,
sudah cukup membuat berang.
Katamu…
“Sakitmu menjalar hingga terasa
kepayang.
Lukamu dalam bagai ditusum kerang.
Kala itu aku bukannya pulang,
tapi aku merindunya. Cintaku yang
kusayang.”
Serasa lengan hendak meraih parang,
menikam hati yang bergelut perang.
Adakah lagi uraian sayang pada
jiwanya yang (masih) bimbang?
Aku tak main-main mulai sekarang.
Jika bimbang masih bersarang, pulang
saja kau tanpa berjuang!
Bawa parang dan kau hunus cintaku
sekali tumbang!
Pada yang bimbang tak kubiarkan
harapan menyarang.
Meski padanya asa terus berkembang.
Tapi tikaman terakhirnya dengan
parang,
membuat sakit sampai belulang.
Kaubilang, kau sayang…
Di malam bertabur bintang akankah
kau nodai dengan adanya perang?
Tidakkah kau menginginkan untuk
bertahan dan berjuang?
Masa bodo kau anggap aku jalang,
sebab bicara terlalu lantang.
Baik kau bilah aku dengan parang
daripada perlahan kau buat aku mati
malang.
Padahal…
kau tikam berulang dengan parang pun
aku takkan garang,
sebab aku terlampau sayang.
Kaubilang, kau sayang…
Kau sayang sungguh malang, tak bisa
binasakan rasa bimbang.
Andai kau pejuang, harus kau pilih
yang kau sayang.
Bukan bermain dalam jurang.
Kau mabuk kepayang.
Dibalik tirai jendela sayup cahayanya menelisik
Mencari celah agar dapat menyapa mata terpejam
Mengulat.
Ah aku tak ingin diusik
Sakitku telah kutitipkan pada gelap kemarin malam
Cukup sudah aku melarat.
Kemudian, dituntunnya cahaya menemui wangi
Mencarinya yang selama ini bersemayan dihati
Ciputat, 29 November 2014
AR~
Kuning senja telah berakhir kemarin lalu
Cahayanya yang hangat biasa menemani si pemilik cinta berjibaku juga berlaku
Diujung Ibu Kota ada bunda yang mengais harap pada cinta yang dilepasnya untuk menuntut ilmu
Dilepasnya cinta kala itu,
dengan bekal kasih yang dibungkus dengan selembar ragu
Kuning senja kini telah usai, ya kuningnya melayu
Karena kuningnya kini menjadi layung keemasan, Bukan biru bukan juga ungu
Warnanya yang megah hari ini segera menjemput cinta yang sejengkal lagi usai bertamu
Ciputat, 27 November 2014
AR~
*Dibuat untuk seseorang yang tinggal sejumput waktu, segera mengenakan toga dan mengepal ijazah. Selamat :)
Dihidangkan oleh: Anisa Rahayu,
Arini Hidayah, Khusnul Chotimah, Luthfiatul Fuadah, dan Sukmawati
Cinta tulang ikan bermula dari duri
transparan
yang kemudian berkomplikasi
antarlain organ
Apa kau tahu?
Jika tulang ikan bersemayam di tenggorokan
namanya ketulangan,
tapi jika cinta bersemayam di dalam
hati namanya kecintaan
Berbicara tentang cinta tulang ikan,
apa yang harus aku maknai?
Kesederhanaan tentang ungkapan cinta
namun rumit merasakannya?
Tepat
Tentang sederhana dan kerumitan yang
terjadi akibat cinta tulang ikan
Cinta tulang ikan,
rasa sesederhana bunyinya, tapi
perih serumit rasanya
Ah memang, cinta sederhana
diungkapkan
namun tidak untuk dirasakan
Seperti tulang ikan dipiring saji
Tawar
Namun harus dihabiskan
Melelahkan
Tersedak tulang ikan mungkin sama
sakitnya
saat menahan cinta yang sudah sampai
ditenggorokan
hendak diucap
Sama halnya ketika sudah menenggak
air banyak-banyak,
tapi tak juga hilang
Malah meradang!
Butuh nasi agar tertelan dalam-dalam
Berbicara cinta tulang ikan
Biarlah, lebih baik saya tersenggak
saja oleh tulang ikan itu,
lalu tak sadarkan diri,
hingga tak mengenal lagi apa itu
cinta
Cinta tulang ikan
penyebab bait-bait sajak merinai
berkisah-kasih dalam-dalam
mengenai cinta dan perasaan
Jangan berhenti bersajak anak muda
karena tulang ikan masih belum habis
di piring saji
serpihannya perlu diperhatikan
untuk menemukan makna cinta.
11 Oktober 2014
Oleh: Anisa Rahayu, Arini Hidayah,
Ferrara Ferronica, Luthfiatul Fuadah, Sukmawati, dan Imron Rosyadi
Aku tersisih diantara diksi,
terperangkap pada sesal karena tak
turut berdiskusi.
Dan kini aku tak diajak untuk turut
memadukan diksiku diantara puisi.
Rasanya sesal menyeruak seketika
kudengar larikku melayang dihempas gerimis,
terkatup pula kalimat asmara yang
sempat kutitipkan mesti tak lagi manis.
Bukan maksudku untuk mangkir, Sayang
larik-larik puisimu telah lama
kukenang,
menanti cintanya mengawang,
namun aku terkatung tanggung yang
menyarang.
Terima kasih.
Kamu yang memunguti diksiku setelah
terbuang.
Lalu dibawa terbang melayang.
Dan kalian ini aku kepayang,
terbayang kamu yang tersayang.
Sayang aku tak lihat apa yang
tayang.
Aku terpaksa hilang demi dia yang
kusayang.
Bila aku membangkang,
aku pasti dibuang.
Kalian yang kusayang teruslah
berjuang.
Benar sayang akan terbuang,
jika membangkang yang tersayang.
Sungguh beribu sayang,
kau tak paham, Sayang.
Engkau sayang pemeran tersayang.
Sayang…
berkali-kali kudendangkan kau di
telinga mereka.
Berkali-kali kugambarkan kau di mata
mereka.
Sampai kini,
kau kekal jadi pemeran utama.
Aku tak pandai memuji,
tapi aku pandai menyimpul tali.
Kau tahu yang ada di hati?
Sungguh kau seorang diri.
Lekas aku menarik diri,
sebab sadar kau tak menyadari.
Sesuatu yang abstrak di dalam hati,
kau tuding tak berarti.
Aku di sini,
kau pergi.
Aku pergi,
kau tak menanti.
Kini apalah dayaku,
menanti seseorang yang tak pernah
mengharap kehadiranku.
Sebuah kisah klasik yang
menggambarkan kesetiaan yang tak berarti.
Ada masanya,
yang terpuja jadi tiada.
Yang tadinya tiada,
kini begitu dipuja.
Bait itu pernah ada untuk yang
terpuja.
Namun kala ia tiada,
biar bait yang simpan cerita.
Biar bahasa menyimpan cerita tentang
kita,
karena saat rasa kembali tak dapat
dijaga,
kelak kulantangkan kecewa.
Bukankah itu tanda cinta?
Jika cinta dikoar rasanya,
dia bukan rasa yang terdalam.
Cukup didoakan agar terucap dari
kelembutan.
Kali ini saja…
cinta mengucap selamat pagi,
untuk yang terkasih.
Ciputat, 25 November 2014
Langganan:
Komentar (Atom)

- Follow Us on Twitter!
- "Join Us on Facebook!
- RSS
Contact