Jumat, 24 Juli 2015 0 komentar

Dibuang (kembali) pada Tempatnya

Hai..
Malam ini, saya ingin bercerita tentang sesuatu yang tak sengaja saya temukan di akhir tahun lalu. Saya menemukannya di jalur pendakian untuk mencapai 2821 mdpl. Memang agak sulit untuk sampai kesana tapi saya yakin, saya akan mendapatkan jawaban lebih dari apa yang saya harapkan, itulah sebabnya kenapa saya mau berpayah-lelah. 

Sebelum titik itu saya pijak, saya tak sengaja menemukan sesuatu yang sedikit mengganggu pendangan saya, awalnya saya tidak peduli sama sekali namun (sesuatu) itu seolah meminta saya untuk mengantunginya dan mengajaknya untuk sampai ke puncak. Apa boleh buat? akhirnya saya pungut dan saya jaga sebaik-baiknya,  tidak hanya sampai puncak saya menjaganya, bahkan hingga saya kembali pulang ke rumah beberapa bulan kemudian temuan itu tetap terjaga dengan perawatan ekstra.

Dengan bangga saya menceritakannya pada ibu saya, menceritakan apa saja kisah yang telah saya lewatkan dengan temuan saya itu, lalu ibu saya hanya mengeluarkan satu kalimat setelah potret (nya) saya tunjukan "Kayaknya kalo rambutnya dipotong akan tampan" (sambil menggoda), Lalu saya meminta ijinnya untuk selalu menjaga temuan saya itu, jawabnya hanyalah "terserah kamu saja, tapi awas ya kalo nanti kamu patah hati!" saya hanya bisa tersenyum dan kembali memandang potret dalam lembar pixel di genggaman saya.

Penjagaan saya tidak hanya sampai di situ, karena terbawa suasana sampai-sampai saya melewatkan orang lain yang menemukan saya dalam perjalnannya, bahkan saya mengacuhkan seorang pemuda tampan yang telah siap memanjakan saya dengan seribu diksi dan materinya yang berlimpah. Sembari tersenyum saya membuat penolakan halus "maaf, saya sudah punya ini (menunjukan perasaan saya yang telah terisi)".

Tepat setelah satu hari di 16 milik saya yang ke 21, sesuatu yang selama ini saya jaga dan genggam kuat-kuat diakui seorang puteri adalah miliknya yang hilang, kepunyaannya yang tak sengaja lepas atau entah melepaskan diri karena genggamannya kurang kuat; kecintaannya.
Saya hanya bisa terdiam sembari melepaskannya kembali pada pemiliknya, dan membiarkan air mata kehilangan saya surut dengan sendirinya.

Namanya juga 'temuan' pasti ada pemiliknya, anggap saja saya telah menemukannya, merawatnya, mencintainya, dan membuangnya kembali (pada tempatnya).

Sukabumi, 24 juli 2015
AR~
Rabu, 22 Juli 2015 0 komentar

Sayalah Pemenangnya

Seriak apapun air di tengah sungai dangkal, masih lebih beriak hasrat saya untuk menjamu tuan
Seramai apapun rintik hujan turun menyerang bumi, masih lebih kuyup akan bisikan nama tuan dalam hati saya
Setinggi apapun gunung tuan daki, masih lebih payah saya demi mencapai ujung mata tuan agar sedikit melirik
Sekuat apapun pertahanan yang tuan bendung ditengah lapangan hijau, masih lebih tegar saya menyikapi tuan yang datang dan pergi sesukanya
Sebanyak apapun gol pada gawang lawan tuan ciptakan, masih lebih menumpuk rindu saya akan senyum tuan.
Karenanya saya yakinkan pada jiwa saya bahwa sayalah pemenangnya.

Sukabumi, 22 Juli 2015
AR~
20.04
Sabtu, 18 Juli 2015 0 komentar

Ahli Surga


 
Kecup saya pada lututnya,
menghamba akan segala cita yang disajikannya
Peluk saya dalam pundaknya,
agungkan segala peluh yang menetes dari dahinya
Bilakah saya melupa sedetik saja atas pengorbanannya,
kabur sudah semua pengetahuan yang menyarang,
hilang pula diksi saya untuk melukiskannya.

Bilakah ada cinta sebesar-besarnya cinta
Maka ituah cinta saya untuknya
Bilakah ada kasih selembut-lembutnya kasih
Maka kan saya belai lelahnya hingga terlelap ia dalam pangkuan

Karena tadi malam saya telah bergunjing dengan-Nya
Membicarakan mimpi dan harapan, membicarakan amal juga surga
Semoga engkau memilikinya. Semoga engkau ahlinya.

Sembah saya akan Allah, atas penganugerahan-Nya
Sujud saya  atas maha karya-Nya.

Seonggok daging bernama guru,
Darahnya adalah pengorbanan, dan
Tulang yang menopangnya, serupa keikhlasan.

Sukabumi, 18 Juli 2015
AR~
Minggu, 12 Juli 2015 0 komentar

Cita Ditinggalkan, Cinta Ditanggalkan

Dari keinginan yang amat dilangitkan adalah sebermula datangnya saya, karena hajat yang terlalu dibumbungkan atas kepala yang entah keras atau lunak. Hadirnya saya adalah suka tak terhingga, kebahagiaan yang nyata bagi bunda. 
ditimanglah saya dalam dekapnya, didendangkan shalawat agar tenang segala pikiran saya, diusapnya ubun-ubun agar terlelap, indah nian masa kanak itu.

Akibat terlalu dilangitkan, pecah sudah segala suka karena genggam terlalu kuat. Karena terlalu bahagia remuk pula segala bahagia akbiat terjatuh. Cita bunda akan saya hancur, dihilangkanlah segala cintanya, ditanggalkanlah harapannya, pergi jauh ia ke negara antah berantah, ke tempat yang tak bisa saya jamah, bahkan hingga saya menemukan bahagia saya sendiri; sendiri.


Sukabumi, 13 Juli 2015
05.45 wib
AR~
0 komentar

Nostalgia

Bung!
Malam ini saya sendiri;
Ditemani hembusan nafasmu
Dieratkan dalam hangatnya pelukmu
Disandarkan pada bahu kananmu
Diceritakan hebatnya Dimas Suryo.


Sukabumi, 12 Juli 2015
AR~

0 komentar

Abang Jawabannya

Saya sepi dalam lingkung,
bersembunyilah saya pada hati sendiri.
Saya tumpahkan air dari kelopak mata,
berjatuhanlah membentuk anakan sungai pada kulit pipi.
Saya dingin,
bagai layu kuyu segala sendi.

Dipeluklah segala bayang kenang bersama abang.
Bahagia sudah saya rasakan.


Sukabumi, 12 Juli 2015
20.39
AR~
0 komentar

Lembaran Bisu

Masih soal rindu.
Masih soal waktu.
Masih soal masalah temu.
Telah terutarakan di atas ribuan lembar bisu,
akankah hasilkan kamu?

12 Juli 2015
AR~
08.18

Rabu, 08 Juli 2015 0 komentar

Lupa

Selagi saya mampu mengingat, saya akan merapikan segala arsip  yang pernah saya dan tuan lewati, karena tak ada yang dapat saya ceritakan selain kisah sementara kita, kisah tentang cara kita habiskan waktu. Saya hapal betul kali pertama tuan memperkenalkan diri, dan mulai mengusik waktu saya dengan segudang dering telpon genggam, saya terganggu bukan main namun kegigihan tuan mematahkan pagar pertahanan saya. 
Lantas saya persilakan tuan duduk bersantai di balai bambu, untuk sekedar meluruskan kaki sembari menikmati secangkir teh hangat, namun, tanpa sepengetahuan saya tuan telah bersandar di balik daun pintu kepercayaan saya, menguncinya rapat-rapat dan memasukan anak kuncinya kedalam saku.
'Apa yang tuan harapkan?' 
Laku tuan tersenyum saja, membidik segala kuat saya hingga akhirnya jatuh dipelukan, saya telah jatuh hati. 
Percaya saya tuan genggam kuat.
Sesekali waktu berpihak atas saya, saya ingat saat berjalan-jalan hingga larut ke setiap sudut kota, bercerita hingga busa melumati lidah sendiri, saya ingat saat tuan serahkan satu bucket bunga aster sore itu, saya ingat saat tuan menghadiahi saya sepucuk sajak, saya ingat setiap warung pinggiran tempat kita menyeduh kopi juga dimana posisi kita duduk, saya ingat saat menjadi penonton yang tak paham alur permainan namun bertahan, saya ingat ketika tetiba menjadi parasit di depan teman-teman tuan, saya ingat ketika tuan pergi dan tak dapat saya cegah, saya ingat ketika tuan kembali, saya ingat juga ketika tuan pergi lalu kembali lagi, (dan lagi), saya ingat, saya ingat.
Dan saya ingat tuan tak pernah ingat semua itu, karena ketika saya bercerita tentang anak kunci, tentang bucket bunga aster, tentang warung kopi, tentang tuan yang datang dan pergi, tuan hanya bilang 'Saya tidak ingat!'
Saya ingat ucapan itu. Saya ingat.
padahal senyatanya kerpecayaan saya telah tuan remas sekuat tuan mampu, namun saya tak ingat bahwa saya telah titipkan percaya saya pada tuan. Saya lupa.


Disertakan dengan segala arsip ingatan saya
Salam.
Sukabumi, 8 Juli 2015
21 Ramadhan 1436 H
AR~
23.00 wib
0 komentar

Jeladra Rindu

Selamat malam jeladra rinduku,
Masihkah kau disana hempaskan ombak, kemudian mengusik pasir putihnya?
Masihkah dedaunan keringnya kau sapa lalu kau ajak menari di kedalaman rasamu?
Bergulat segala luka terbakar karena teriknya mentari di pinggiran pantai
Bergesekanlah segala perih luka dengan asinnya air laut; Namun sembuh justru.
Hadirmu dulu tak seperih ini,
Kau datang dengan lembut, mengajak kerang-kerang terdampar kembali ke kedalamanmu
Bahkan bulu babipun sengaja bersembunyi dibalik karang agar kau jemput dengan peluk.
Namun kemarin mereka bercerita, 
Sekarang kau garang segarang-garangnya, kau ganas seganas-ganasnya
Mereka menangis karena jeladra kekasihnya tak juga kembali
Mereka rindu bergulat peluk dengan rindunya.

Disertakan dengan bayangannya
Sukabumi, 8 Juli 2015
21 Ramadhan 1436 H
AR~
Jumat, 03 Juli 2015 0 komentar

Perkenalan

Memang saya yang mengaku terlalu cepat, memperkenalkannya sebagai kekasih kepadamu. Menjadikannya sebagai tuan pemilik hati saya, penggenggam atas kepulangan saya.
Memang saya yang menjamu terlalu cepat, menyebutkan namanya di tengah perjalanan kita, menuliskan namanya di dalam selembar kertas, di bawah emasnya matahari pagi, di balik gunung bertangga itu.
Memang iya; dia kekasih saya, penjaga bagi ceria saya, namun tidak lagi setelah saya pulang dari perjalanan kita; bukan lagi siapa-siapa bagi saya.
Karenanya saya hanya menganggap dia sahabat saya, malaikat yang menjaga senyum saya untuk waktu yang sangat singkat.
Karenanya saya menuliskan namanya, sebagai ucapan terimakasih atas penjagaannya terhadap saya.
Sebagai ucapan rasa sayang saya untuknya yang kini adalah sahabat; bukan mantan kekasih.
Dan sekarang saya hanya akan memperkenalkannya sebagai sahabat saya kepada siapapun, juga kepadamu.

Terimakasih,
dari saya sahabatmu AR~
17 ramadhan 1436H
Sabtu, 4 Juli 2015
0 komentar

Kembali

Berawal dari bait pertama maha karya Chairil Anwar; Sajak Putih.

Bersandar pada tari warna pelangi
Kau depanku bertudung sutra senja
Di hitam matamu kembang mawar dan melati
Harum rambutmu mengalun bergelut senda

A: Pada harum rambutmu, aku ingin menjelma belai yang mengekalkan kesegarannya.
B: Kamu titipkan rindu pada setiap selanya ketika kau sisir rambutku dengan jemarimu. Belum cukupkah kau tinggalkan saja?
A:  Aku akan kembali membawa bunga pesona untuk kusisipkan di sela jemarimu. Sungguhlah mempesona dirimu, kujemput lagi rinduku.
B: Kau penipu ulung! Ucapmupun begitu sebelum kau pergi setahun lalu. Sekali kau datang hanya untuk menabur garam pada luka yang kau sayat atasku.
A: Aku tidak menipu, karena rinduku tidaklah palsu. Kemarin aku memang datang bersama hujan, yang derasnya menitikan prasangka. Mengertilah.
B: Apa lagi yang harus aku pahamu Tuan? kau datang memang, hatiku berbunga bukan main, Namun belum sempat bunganya mekar kau pergi membelakngi dan tak kembali, sedang rindu masih kau genggam kuat.
A: Kau tahu? Rinduku selalu rekat padamu. Tapi sekarang kurenggangkan, karena kulihat kau duduk di kursi taman bersanding kecemburuan.
B: Kau salah paham! Sejatinya aku menantimu selalu, mengapa kau melenggang tanpa mau menoleh? Sekarang kau menudingku suguhkan api cemburu? Kau salah paham!
A: Lalu siapa pria di sampingmu, bermantel hitam hangat saat kau menggigil di musim anti kerinduan?
B: Itu bayangmu Tuan. Aku sengaja membentuknya dengan rindu dan luka yang kuaduk hingga pekat, bentuknya sempurna bukan? Inilah aku, yang membodoho diriku sendiri demi kehadiranmu.
A: Kita saling berprasangka, kita saling sangsi. Adakah keyakinan di antara kita untuk saling menemukan pada sebuah musim akan kita hentikan?
B: Segala aku serahkan pada telapakmu. Sesungguhnya setelah kau pergi, aku mengubur dalam setiap datangnya rindu, meski hadirnya tak pernah abstain dari lintasan; aku lupakan (Selalu). Namun jika benar akan kau hentikan, serahkan dulu rindu yang kau ambil waktu itu.
A: Akan ku ambil rindu itu, dan aku sematkan dalam pelukanmu. Sama-sama kita rasakan detaknya, hingga eluhanmu terdengar menggantikan detik yang baru.
B: Bisakah kau berjanji untuk senyatanya janji? Mengecup semanisnya ranum segala ranum? Mengunci yang seharusnya dijaga?
A: Aku bersedia apapun permintaanmu, Karena kau adalah karunia.

Obrolan dengan seorang sahabat, diantara sayup angin menanti maghrib 21 Juni 2015
Terima kasih Imron Rosyadi~
Salam.
AR~

0 komentar

Sedang sibuk

Tolong jangan ganggu saya hingga akhir pekan. Sekarang saya sedang sibuk menata rindu yang menumpuk tak beraturan, merapikannya agar tak terlihat siempunya, rindu ini sedang saya susun sedemikian rupa agar ia tak menyadarinya. Mengertilah.
Saya hanya khawatir rindu ini semakin bertambah, tumpukannya tak mampu lagi menahan keseimbangan lalu jatuh berceceran, diinjak-injak orang lain yang tak pernah paham betapa payah saya menjaganya. mungkin saja rindu ini meledak seperti geranat atau bom molotov lalu berhamburan kesegala arah karena terlalu sesak bergemul dengan rindu yang lainya kemudian ia tahu yang sesungguhnya, ah.. Tidak-tidak ini akan sangat membuat saya malu.
Maka dari itu jangan ganggu saya hingga akhir pekan, saya akan menyelesaikan dengan cepat. Saya janji.
Terhitung mulai hari ini Jum'at, 3 Juli 2015-Minggu, 5 Juli 2015.

Salam saya
AR~

 
;