Malam ini rasa-rasanya mendung dilangit sini, dan kini hitam putihnya awan tak lagi melihatkan cahayanya, hanya terlihat genangan bergerak-gerak menahan airnya jatuh.
getarannya perlahan kekiri dan ke kanan, memusat ketengah dan.. Ah.. Airnya menetes setitik..
Tidaaakk.. Jangan kau jatuhkan airnya, tak kuasa aku melihat pipimu basah, usap sudah semua! (ucap sahabatku pixel)
aku tak tahan menunggunya berujar terlampau lama, terlalu sakit bila ku tahan tanyaku hingga akhir yang tak tahu kapan datangnya. Aku takut. (lirihku)
lagi. Awan itu tak terlihat gembira sejak pixel bercerita tentang indahnya masa lalu. Genangan itu menebal dan semakin berat. Satu. Dua. Tiga. Deras. Air matanya tumpah membanjiri pipi..
Maafkan aku, tak seharusnya aku bercerita padamu. Aku terlalu lugu aku tak mengerti apa yg diinginkan hati manusia, yang aku tahu hanya perintah ibu jari saja (tugas pixel)
Aku yang bodoh. Tak seharusnya aku menguak, tak semestinya. Aku tak tahu sampai kapan tanyaku kan di acuhkan, yang aku tahu, aku bahagia (kemarin) dan aku berharap besok dan besok lagi hingga akhir. Benarkah aku bagian dari tangadahnya? Lalu mengapa derasnya kini hadir?? (tukasku)
ah.. Aku tak mengerti. Aku memang bodoh!
05 April 2015
21.31 wib
Langganan:
Komentar (Atom)

- Follow Us on Twitter!
- "Join Us on Facebook!
- RSS
Contact