Kulepaskan mataku ke tengah cangkir berisi kopi yang pahitnya begitu getir. Namun manisnya tiada berakhir.
Di sana kutemukan tabir, bahwa untukkulah kau lahir sebagai bagian dari takdir.
Terima kasih sayang, karena kau hadir.
Adanya kamu bukan hanya untuk mampir, adanya kamu adalah obat dari segala rasa khawatir.
Pada ruang dan waktu yang membuat kita tak saling hadir, telah kusampaikan rindu pada angin yang semilir~
Oleh: Arini Hidayah Muhammad Syakir Ni'amillah Anisa Rahayu Bahtiar
Langganan:
Posting Komentar (Atom)

0 komentar:
Posting Komentar