Oleh Anisa Rahayu dan Luthfiatul Fuadah
Petang tadi ia begitu tenang berbisik,
kini temaram ia begitu gaduh berlaku.
Kaukah itu yang diam-diam membuat siluet didepan jendela sukmaku?
Karena pagi tadi kau menepi tepat dipelupuk mata.
Tanpa kau sadari kau menitipkan senyum yang katanya akan kau jemput dikala senja kembali hadir.
Namun hingga petang sekejap pulang kau tak jua terlihat.
Mungkinkah kau lupa akan janjimu itu?
Sengaja membuatku terluka karena menahan bayang senyummu pagi itu.
Kemudian pada senja yang akan tiba, aku menungguimu dibalik tirai hitam
kulabuhkan pengharapan kepada sang embun yang singgah di beberapa helai daun.
Tak cukupkah rautmu membekas pada sukma?
Sampai malamkupun kau racau dengan geliat manja.
Butiran bunga tidurku menjelma dirimu. sempurna.
Usai itu sang bunga kembali bergelut dalam mimpi
diteteskannya buih-buih harap yang belum sampai,
dibahasakannya melalui do'a yang disampaikan angin malam itu.
Karena pada tetesannya kutaruh harap.
Kelak bayangmu kan terbawa jatuh hingga perutnya.
Langganan:
Posting Komentar (Atom)

0 komentar:
Posting Komentar