Entah, ada apa memang dengan kita, juga Malang
yang menjadi sebermulanya cerita.
Seperti akar cerita-cerita membelit kusut pula cerita yang kita ciptakan
Namun, diantara cerita; kemarin, hari ini dan esok itu setipis kertas tempat kau tulis sajak untuk mencari akhir,
tidak setebal buku tempat kau titip sajakmu di halaman akhir.
dalam kesingkatan itu, kita tak sempat menceritakan kisah cinta Dimas dan Surti yang pupus, namun tak hendak pupus karena terus direkatkan aroma melati dan bayang-bayang.
Sebelum perpisahan pula, kita belum sempat membuka renggasnya cinta Chairil dengan Mirat, yang menjadikan sajaknya menjelma-jelma sosok kecintaannya itu.
begitupun cerita kita pada akhirnya, serupanya akhir dari 'Sajak Putih' yang penuh pengharapan,
"Hidup dari hidupku, pintu terbuka. Selama mata menengadah, selama kau darah mengalir dari luka. Antara kita, mati, datang tidak membelah".
Jakarta 4 Maret 2015
(JA)
Langganan:
Posting Komentar (Atom)

0 komentar:
Posting Komentar