Sabtu, 23 Agustus 2014

Papandayan #1

keringat bumi meluluh perlahan dipangkal pagi
tetesannya berjatuhan menyapa daun-daun dan kuncup bunga
mereka bangkit, siap menghalau ilalang penghalang
hidup. dunia menjadi hidup karena ditetesi airnya
airnya tipis-tipis, tapi sejatinya seumat menggigil jua
bagi penikmat lukisan Tuhan, tak ada waktu untuk menggulung lagi
bercermin dari daun-daun dan kuncup bunga yang siap menantang hari
kami berdiri mengencangkan niat
memandang kawan, berpegang tangan
melangkah pasti, menuju puncak pegunungan
menyaksikan keindahan pemberian Tuhan

AR~
sukabumi 20 Agustus 2014

0 komentar:

Posting Komentar

 
;