Manisku, kau suci dan mempesona
Bercumbu denganmu membawaku ke dalam batas keindahan
Hingga aku dapati ke(nikmat)an walau hanya sekejap
Manisku, kau harum serta lembut
Cintamu membawaku terbang menuju Surga
Indah cintamu sekejap saja
Sayang, mari saksikan keromantisan malam ini
Lampu jalanan kerlap-kerlip dengan warnanya yang samar
Lantunan musik alam menyapa telinga si tukang bercinta
Kemudian tersungkur di atas tanah-Nya dan tercium bau mati
Cintaku, tataplah aku yang terbuang
Tidak! membuangkan diri lebih tepat nampaknya
Aku sendiri yang memilih cinta
Cinta yang berikan ke(nikmat)an meski hanya sekejap
Tapi, kini aku tersungkur di atas tanahNya dan tercium bau mati
Ya, bau mati tanpa cinta
Sayang, masihkah kau disini temani aku untuk habiskan malam?
Masihkan kau bersedia membawaku menuju surga cinta kita?
(HENING)
Manisku??
Kini aku kering tak terurus
Darah dan kulitku menghitam
Tulang punggungku bengkok terserang virus karena cintamu
Maukah kau kembali dan pertanggung jawabkan sayang?
(HENING)
Sayang, kini kau najis bahkan hina
sel-sel tubuhku meracau
karena (nikmat) cintamu,
Pusing disini, sakit disana
Bau mati itu semakin dekat
Bau tanah tanpa cinta
Aku sendiri di ujung jalan, terbuang, tak ada yang peduli
Bunda telah berlalu hilang tanpa cerita
Bahkan ayah hanya kerling menatapku acuh
lepaslah. lepaslah.
Biarkan Aku tersungkur, kering dan membusuk.
Ciputat, 04 Juni 2014
Langganan:
Posting Komentar (Atom)

0 komentar:
Posting Komentar