keringat bumi meluluh perlahan dipangkal pagi
tetesannya berjatuhan menyapa daun-daun dan kuncup bunga
mereka bangkit, siap menghalau ilalang penghalang
hidup. dunia menjadi hidup karena ditetesi airnya
airnya tipis-tipis, tapi sejatinya seumat menggigil jua
bagi penikmat lukisan Tuhan, tak ada waktu untuk menggulung lagi
bercermin dari daun-daun dan kuncup bunga yang siap menantang hari
kami berdiri mengencangkan niat
memandang kawan, berpegang tangan
melangkah pasti, menuju puncak pegunungan
menyaksikan keindahan pemberian Tuhan
AR~
sukabumi 20 Agustus 2014
warna senja kini tak lagi indah
kuningnya tak lagi keemasan
ornamen oranyenya pun mulai memudar
di halaman rumah,kembang kantor menutup lebih awal dari biasanya
seolah enggan menyapa pemiliknya pulang kerja
senja memang senyap
memang sunyi.
anginnya tak karuan, hanya jadi pengantar debu saja masuk ke paru-paru
senja kini memang tak indah
tapi, senja kemarin teramat beda, hingga aku melayang bahagia.
AR~
Ciputat, 14 Agustus 2014
kuningnya tak lagi keemasan
ornamen oranyenya pun mulai memudar
di halaman rumah,kembang kantor menutup lebih awal dari biasanya
seolah enggan menyapa pemiliknya pulang kerja
senja memang senyap
memang sunyi.
anginnya tak karuan, hanya jadi pengantar debu saja masuk ke paru-paru
senja kini memang tak indah
tapi, senja kemarin teramat beda, hingga aku melayang bahagia.
AR~
Ciputat, 14 Agustus 2014
aku telah kembali ditanah peraduan
mentarinya tetap hangat seperti setahun lalu
dijalanan yang gersang telapakku mesra menyusuri jalan
persis sama
polusinya tetap sama, atau bahkan semakin pekat
aku tak tahu, karena aku tak bisa mngukur asap
untaian kendaraan juga kembali kujumpai
mengekor. Tapi entah dimana ujungnya
yasudahlah, itu hanya hiasan yang menjadi warna disetiap hariku
yang kelak akanku jadikan cerita untuk anak cucuku
duhai segala keramaian ibu kota
sampaikanlah salamku pada panas, pada polusi, pada macet, dan pada segalanya yang dikota lain tak ada
ditanah ini aku, membasuh mukaku dengan air tanahnya yang hangat
berdiri. Dan berjanji bahwa aku akan belajar, menjadi manusia pembelajar
mebahagiakan ayah saat aku pulang kelak
Ciputat, 11 Agustus 2014
mentarinya tetap hangat seperti setahun lalu
dijalanan yang gersang telapakku mesra menyusuri jalan
persis sama
polusinya tetap sama, atau bahkan semakin pekat
aku tak tahu, karena aku tak bisa mngukur asap
untaian kendaraan juga kembali kujumpai
mengekor. Tapi entah dimana ujungnya
yasudahlah, itu hanya hiasan yang menjadi warna disetiap hariku
yang kelak akanku jadikan cerita untuk anak cucuku
duhai segala keramaian ibu kota
sampaikanlah salamku pada panas, pada polusi, pada macet, dan pada segalanya yang dikota lain tak ada
ditanah ini aku, membasuh mukaku dengan air tanahnya yang hangat
berdiri. Dan berjanji bahwa aku akan belajar, menjadi manusia pembelajar
mebahagiakan ayah saat aku pulang kelak
Ciputat, 11 Agustus 2014
di tanah yang baru aku pijak, aku menemukan dia
kurus tinggi perwakannya, hitam manis kulitnya
tersenyum ramah, dengan cahaya matanya yang hangat
aku tersipu, memupuk malu.
hari telah lalu
senyumnya tetap indah seperti dihari pertama
dia santun juga ta'at
shalat malam menjadi selimutnya diantara kelam
shalat dhuha menjadi pengantarnya menjemput hari
aku balas senyumnya dengan kagum
hari indah itu ternyata tak lama
kebersamaan itu sirna
ketika aku menjadi tak berguna
rasa nyaman perlahan hilang
ketika dia melangkah pergi
malamku kembali sunyi
hariku juga tak hidup
cintanya telah berlalu
bertemu dengan yang baru
sejak hari itu, aku disini urung
menatap potret masa kecilnya
yang sekejap segera kembali
Sukabumi, 7 Agustus 2014
AR~
kurus tinggi perwakannya, hitam manis kulitnya
tersenyum ramah, dengan cahaya matanya yang hangat
aku tersipu, memupuk malu.
hari telah lalu
senyumnya tetap indah seperti dihari pertama
dia santun juga ta'at
shalat malam menjadi selimutnya diantara kelam
shalat dhuha menjadi pengantarnya menjemput hari
aku balas senyumnya dengan kagum
hari indah itu ternyata tak lama
kebersamaan itu sirna
ketika aku menjadi tak berguna
rasa nyaman perlahan hilang
ketika dia melangkah pergi
malamku kembali sunyi
hariku juga tak hidup
cintanya telah berlalu
bertemu dengan yang baru
sejak hari itu, aku disini urung
menatap potret masa kecilnya
yang sekejap segera kembali
Sukabumi, 7 Agustus 2014
AR~
cerita si gembala telah usaikambingnya telah berlalu, menjadi sate, gulai, dan sop
kambingnya telah berubah menjadi lemak dan kotoran
si gembala cinta kambingnya
dijaganya dan dimandikannya selagi masih ditangan
rumput liar menjadi andalannya setiap hari
dipangkunya rumput segar melalui bukit-bukit untuk makanan kambingnya
namun kini, cerita si gembala telah usai
karena uang serupiah telah melenyapkan cintanya
uang serupiah, yang kelak akan menjadi banyak nolnya
tapi bukan untuk si gembala
impian seorang penjahat terhormat
telah menghilangkan cinta seumat
digeruslah lahan cinta si gembala
didirikanlah tembok-tembok nista.
AR~
Sukabumi, 2 Maret 2014
kambingnya telah berubah menjadi lemak dan kotoran
si gembala cinta kambingnya
dijaganya dan dimandikannya selagi masih ditangan
rumput liar menjadi andalannya setiap hari
dipangkunya rumput segar melalui bukit-bukit untuk makanan kambingnya
namun kini, cerita si gembala telah usai
karena uang serupiah telah melenyapkan cintanya
uang serupiah, yang kelak akan menjadi banyak nolnya
tapi bukan untuk si gembala
impian seorang penjahat terhormat
telah menghilangkan cinta seumat
digeruslah lahan cinta si gembala
didirikanlah tembok-tembok nista.
AR~
Sukabumi, 2 Maret 2014
satu-satu kakiku langkah
bergilir satu-satu kiri kanan berpijak kedepan
kemudian membentuk jarak sejauh kaki ku langkahkan
terus saja aku melangkah hingga impianku di depan sana telah dapat ku raih
diantara jarak yang tertempuh, terukir jelas goresan perjuangan
diantara jarak yang tertempuh, telah ada tanah yang basah terkena tetesan keringat
selalu kulihat impian itu di depan sana
semakin kulihat, semakin kuat kaki ini tuk melangkah
tak ingin ku menoleh ke belakang
karena jika kulihat sejarah itu, teriris rasanya
aku khawatir kakiku kelakkan lumpuh
aku khawatir tak dapat lagi melangkah menuju impianku disana
aku tak ingin menoleh ke belakang
karena,
pantang bagiku untuk pulang
Sukabumi, 16 Pebruari 2014
Anisa Rahayu
bergilir satu-satu kiri kanan berpijak kedepan
kemudian membentuk jarak sejauh kaki ku langkahkan
terus saja aku melangkah hingga impianku di depan sana telah dapat ku raih
diantara jarak yang tertempuh, terukir jelas goresan perjuangan
diantara jarak yang tertempuh, telah ada tanah yang basah terkena tetesan keringat
selalu kulihat impian itu di depan sana
semakin kulihat, semakin kuat kaki ini tuk melangkah
tak ingin ku menoleh ke belakang
karena jika kulihat sejarah itu, teriris rasanya
aku khawatir kakiku kelakkan lumpuh
aku khawatir tak dapat lagi melangkah menuju impianku disana
aku tak ingin menoleh ke belakang
karena,
pantang bagiku untuk pulang
Sukabumi, 16 Pebruari 2014
Anisa Rahayu
Cinta sejati bukan mencari kesempurnaan. Tapi merubah yang ada menjadi sempurna...
Seorang pemuda pernah bertanya kepada seorang guru bijak...
Katanya aku menyukai seorang wanita pak, tapi aku tak yakin dia sempurna buatku,
aku tak yakin apakah dia bikin aku bahagia atau tidak, aku tak yakin apakah dia akan membuatku senang,
karena selama ini yang aku temui cuma senang di depan saja, lama lama yang ada cuma keributan dan cekcok tak ada habisnya...
Sang guru pun tersenyum dan berkata, sebelum aku memberikan pendapat, aku katakan padamu dibalik ketampananmu,
kekayaan yang kamu kumpulkan selama bekerja dan pendidikan yang kamu peroleh, kamu takan pernah menjadi sempurna...
Begitu juga wanita yang kamu temui, dia takan pernah jadi wanita sempurna,
yang harus kamu temukan adalah apakah kekurangan kalian bisa disempurnakan apabila bersatu...
Semua orang merasakan kepahitan, keributan, percekcokan dalam hubungan dan sadarilah
tidak akan ada dua manusia memiliki kesamaan dalam segala sesuatunya.
Tapi perbedaan itulah yang seharusnya menyatukan manusia...
Perasaan menghargai dan menerima segala kejelekan serta kekurangn pasangan kita itulah cinta sejati...
Karena cinta sejati berarti mencintai seseorang melebihi cinta pada diri sendiri...
Dan jika kita menyadari hal itu kejelekan, sakit hati dan kekecewaan yang ada akan kamu jadikan hikmah dan pelajaran
yang sangat bernilai harganya...
Karena kamu telah menemukan seseorang yang menerimamu apa adanya kekurangan dan keburukanmu
seperti dirinya yang mampu menerima semua ketidaksempurnaanmu...
16 Januari 2014
by AF
Seorang pemuda pernah bertanya kepada seorang guru bijak...
Katanya aku menyukai seorang wanita pak, tapi aku tak yakin dia sempurna buatku,
aku tak yakin apakah dia bikin aku bahagia atau tidak, aku tak yakin apakah dia akan membuatku senang,
karena selama ini yang aku temui cuma senang di depan saja, lama lama yang ada cuma keributan dan cekcok tak ada habisnya...
Sang guru pun tersenyum dan berkata, sebelum aku memberikan pendapat, aku katakan padamu dibalik ketampananmu,
kekayaan yang kamu kumpulkan selama bekerja dan pendidikan yang kamu peroleh, kamu takan pernah menjadi sempurna...
Begitu juga wanita yang kamu temui, dia takan pernah jadi wanita sempurna,
yang harus kamu temukan adalah apakah kekurangan kalian bisa disempurnakan apabila bersatu...
Semua orang merasakan kepahitan, keributan, percekcokan dalam hubungan dan sadarilah
tidak akan ada dua manusia memiliki kesamaan dalam segala sesuatunya.
Tapi perbedaan itulah yang seharusnya menyatukan manusia...
Perasaan menghargai dan menerima segala kejelekan serta kekurangn pasangan kita itulah cinta sejati...
Karena cinta sejati berarti mencintai seseorang melebihi cinta pada diri sendiri...
Dan jika kita menyadari hal itu kejelekan, sakit hati dan kekecewaan yang ada akan kamu jadikan hikmah dan pelajaran
yang sangat bernilai harganya...
Karena kamu telah menemukan seseorang yang menerimamu apa adanya kekurangan dan keburukanmu
seperti dirinya yang mampu menerima semua ketidaksempurnaanmu...
16 Januari 2014
by AF
Langganan:
Komentar (Atom)

- Follow Us on Twitter!
- "Join Us on Facebook!
- RSS
Contact