Saya sepi dalam lingkung,
bersembunyilah saya pada hati sendiri.
Saya tumpahkan air dari kelopak mata,
berjatuhanlah membentuk anakan sungai pada kulit pipi.
Saya dingin,
bagai layu kuyu segala sendi.
Dipeluklah segala bayang kenang bersama abang.
Bahagia sudah saya rasakan.
Sukabumi, 12 Juli 2015
20.39
AR~
Selagi saya mampu mengingat, saya akan merapikan segala arsip yang pernah saya dan tuan lewati, karena tak ada yang dapat saya ceritakan selain kisah sementara kita, kisah tentang cara kita habiskan waktu. Saya hapal betul kali pertama tuan memperkenalkan diri, dan mulai mengusik waktu saya dengan segudang dering telpon genggam, saya terganggu bukan main namun kegigihan tuan mematahkan pagar pertahanan saya.
Lantas saya persilakan tuan duduk bersantai di balai bambu, untuk sekedar meluruskan kaki sembari menikmati secangkir teh hangat, namun, tanpa sepengetahuan saya tuan telah bersandar di balik daun pintu kepercayaan saya, menguncinya rapat-rapat dan memasukan anak kuncinya kedalam saku.
'Apa yang tuan harapkan?'
Laku tuan tersenyum saja, membidik segala kuat saya hingga akhirnya jatuh dipelukan, saya telah jatuh hati.
Percaya saya tuan genggam kuat.
Sesekali waktu berpihak atas saya, saya ingat saat berjalan-jalan hingga larut ke setiap sudut kota, bercerita hingga busa melumati lidah sendiri, saya ingat saat tuan serahkan satu bucket bunga aster sore itu, saya ingat saat tuan menghadiahi saya sepucuk sajak, saya ingat setiap warung pinggiran tempat kita menyeduh kopi juga dimana posisi kita duduk, saya ingat saat menjadi penonton yang tak paham alur permainan namun bertahan, saya ingat ketika tetiba menjadi parasit di depan teman-teman tuan, saya ingat ketika tuan pergi dan tak dapat saya cegah, saya ingat ketika tuan kembali, saya ingat juga ketika tuan pergi lalu kembali lagi, (dan lagi), saya ingat, saya ingat.
Dan saya ingat tuan tak pernah ingat semua itu, karena ketika saya bercerita tentang anak kunci, tentang bucket bunga aster, tentang warung kopi, tentang tuan yang datang dan pergi, tuan hanya bilang 'Saya tidak ingat!'
Saya ingat ucapan itu. Saya ingat.
padahal senyatanya kerpecayaan saya telah tuan remas sekuat tuan mampu, namun saya tak ingat bahwa saya telah titipkan percaya saya pada tuan. Saya lupa.
Disertakan dengan segala arsip ingatan saya
Salam.
Sukabumi, 8 Juli 2015
21 Ramadhan 1436 H
AR~
23.00 wib
Selamat malam jeladra rinduku,
Masihkah kau disana hempaskan ombak, kemudian mengusik pasir putihnya?
Masihkah dedaunan keringnya kau sapa lalu kau ajak menari di kedalaman rasamu?
Bergulat segala luka terbakar karena teriknya mentari di pinggiran pantai
Bergesekanlah segala perih luka dengan asinnya air laut; Namun sembuh justru.
Hadirmu dulu tak seperih ini,
Kau datang dengan lembut, mengajak kerang-kerang terdampar kembali ke kedalamanmu
Bahkan bulu babipun sengaja bersembunyi dibalik karang agar kau jemput dengan peluk.
Namun kemarin mereka bercerita,
Sekarang kau garang segarang-garangnya, kau ganas seganas-ganasnya
Mereka menangis karena jeladra kekasihnya tak juga kembali
Mereka rindu bergulat peluk dengan rindunya.
Disertakan dengan bayangannya
Sukabumi, 8 Juli 2015
21 Ramadhan 1436 H
AR~
Memang saya yang mengaku terlalu cepat, memperkenalkannya sebagai kekasih kepadamu. Menjadikannya sebagai tuan pemilik hati saya, penggenggam atas kepulangan saya.
Karenanya saya hanya menganggap dia sahabat saya, malaikat yang menjaga senyum saya untuk waktu yang sangat singkat.
Karenanya saya menuliskan namanya, sebagai ucapan terimakasih atas penjagaannya terhadap saya.
Sebagai ucapan rasa sayang saya untuknya yang kini adalah sahabat; bukan mantan kekasih.
Dan sekarang saya hanya akan memperkenalkannya sebagai sahabat saya kepada siapapun, juga kepadamu.
Terimakasih,
dari saya sahabatmu AR~
17 ramadhan 1436H
Sabtu, 4 Juli 2015
Memang saya yang menjamu terlalu cepat, menyebutkan namanya di tengah perjalanan kita, menuliskan namanya di dalam selembar kertas, di bawah emasnya matahari pagi, di balik gunung bertangga itu.
Memang iya; dia kekasih saya, penjaga bagi ceria saya, namun tidak lagi setelah saya pulang dari perjalanan kita; bukan lagi siapa-siapa bagi saya.Karenanya saya hanya menganggap dia sahabat saya, malaikat yang menjaga senyum saya untuk waktu yang sangat singkat.
Karenanya saya menuliskan namanya, sebagai ucapan terimakasih atas penjagaannya terhadap saya.
Sebagai ucapan rasa sayang saya untuknya yang kini adalah sahabat; bukan mantan kekasih.
Dan sekarang saya hanya akan memperkenalkannya sebagai sahabat saya kepada siapapun, juga kepadamu.
Terimakasih,
dari saya sahabatmu AR~
17 ramadhan 1436H
Sabtu, 4 Juli 2015
Berawal dari bait pertama maha karya Chairil Anwar; Sajak Putih.
Bersandar pada tari warna pelangi
Kau depanku bertudung sutra senja
Di hitam matamu kembang mawar dan melati
Harum rambutmu mengalun bergelut senda
A: Pada harum rambutmu, aku ingin menjelma belai yang mengekalkan kesegarannya.
B: Kamu titipkan rindu pada setiap selanya ketika kau sisir rambutku dengan jemarimu. Belum cukupkah kau tinggalkan saja?
A: Aku akan kembali membawa bunga pesona untuk kusisipkan di sela jemarimu. Sungguhlah mempesona dirimu, kujemput lagi rinduku.
B: Kau penipu ulung! Ucapmupun begitu sebelum kau pergi setahun lalu. Sekali kau datang hanya untuk menabur garam pada luka yang kau sayat atasku.
A: Aku tidak menipu, karena rinduku tidaklah palsu. Kemarin aku memang datang bersama hujan, yang derasnya menitikan prasangka. Mengertilah.
B: Apa lagi yang harus aku pahamu Tuan? kau datang memang, hatiku berbunga bukan main, Namun belum sempat bunganya mekar kau pergi membelakngi dan tak kembali, sedang rindu masih kau genggam kuat.
A: Kau tahu? Rinduku selalu rekat padamu. Tapi sekarang kurenggangkan, karena kulihat kau duduk di kursi taman bersanding kecemburuan.
B: Kau salah paham! Sejatinya aku menantimu selalu, mengapa kau melenggang tanpa mau menoleh? Sekarang kau menudingku suguhkan api cemburu? Kau salah paham!
A: Lalu siapa pria di sampingmu, bermantel hitam hangat saat kau menggigil di musim anti kerinduan?
B: Itu bayangmu Tuan. Aku sengaja membentuknya dengan rindu dan luka yang kuaduk hingga pekat, bentuknya sempurna bukan? Inilah aku, yang membodoho diriku sendiri demi kehadiranmu.
A: Kita saling berprasangka, kita saling sangsi. Adakah keyakinan di antara kita untuk saling menemukan pada sebuah musim akan kita hentikan?
B: Segala aku serahkan pada telapakmu. Sesungguhnya setelah kau pergi, aku mengubur dalam setiap datangnya rindu, meski hadirnya tak pernah abstain dari lintasan; aku lupakan (Selalu). Namun jika benar akan kau hentikan, serahkan dulu rindu yang kau ambil waktu itu.
A: Akan ku ambil rindu itu, dan aku sematkan dalam pelukanmu. Sama-sama kita rasakan detaknya, hingga eluhanmu terdengar menggantikan detik yang baru.
B: Bisakah kau berjanji untuk senyatanya janji? Mengecup semanisnya ranum segala ranum? Mengunci yang seharusnya dijaga?
A: Aku bersedia apapun permintaanmu, Karena kau adalah karunia.
Obrolan dengan seorang sahabat, diantara sayup angin menanti maghrib 21 Juni 2015
Terima kasih Imron Rosyadi~
Salam.
AR~
Tolong jangan ganggu saya hingga akhir pekan. Sekarang saya sedang sibuk menata rindu yang menumpuk tak beraturan, merapikannya agar tak terlihat siempunya, rindu ini sedang saya susun sedemikian rupa agar ia tak menyadarinya. Mengertilah.
Saya hanya khawatir rindu ini semakin bertambah, tumpukannya tak mampu lagi menahan keseimbangan lalu jatuh berceceran, diinjak-injak orang lain yang tak pernah paham betapa payah saya menjaganya. mungkin saja rindu ini meledak seperti geranat atau bom molotov lalu berhamburan kesegala arah karena terlalu sesak bergemul dengan rindu yang lainya kemudian ia tahu yang sesungguhnya, ah.. Tidak-tidak ini akan sangat membuat saya malu.
Maka dari itu jangan ganggu saya hingga akhir pekan, saya akan menyelesaikan dengan cepat. Saya janji.
Terhitung mulai hari ini Jum'at, 3 Juli 2015-Minggu, 5 Juli 2015.
Salam saya
AR~
Langganan:
Komentar (Atom)

- Follow Us on Twitter!
- "Join Us on Facebook!
- RSS
Contact