dipelabuhan kecil aku singgahmenatap laut juga langit yang terhampar
seperti pinang, laut dan langit sama-sama biru
seperti hatiku yang juga biru
dari ujung dermaga kapten sekoci melambai-lambaikan tangannya
memberi isyarat, memintaku untuk segera bersua
kapten itu? sepertinya aku kenal
dia sahabatku yang kutemukan diperaduan
dia sahabatku sekaligus cintaku
hatiku kini biru keemasan
seperti langit yang bertemu dengan senja
dari ujung dermaga kapten sekoci melambai-lambaikan tangannya
memberi isyarat, memintaku untuk segera bersua
lambaiannya perlahan redup, seiring langkahnya yang bertolak
sekociku limbung ditengah samudra dangkal
mataku parau menatap titik yang lama kian menghilang
lambaian itu bukan isyarat untuk bersua, namun tanda perpisahan
Ciputat, 21 September 2014
AR~
HK^
terhitung sejak saat itu
ketika kita ditakdirkan untuk bertemu
bertukar pikiran serta pemahaman
aku dan kamu
awalnya hanya ejekan yang sengaja kau lemparkan
terkadang aku kesal
tapi kau tertawa bahagia
tapi yasudahlah, mungkin itu caramu untuk mencairkan suasana
terhitung sejak saat itu
ketika ejekan hadir diiringi dengan mencuri pandang
aku tersadar. kau juga. sama
kadang aku berpikir, inikah yang dinamakan kisah cinta?
namun rasanya begitu sulit untuk diterka
karena dibelakangmu masih ada dia
aku tau, aku tak boleh
namun hati terus menyebut 5 huruf yang merangkai namamu
teringat dihari itu, saat butiran permen kau rangkai menjadi namaku
kala itu aku bahagia, hingga senyum terkembang tak ada habisnya
namun disudut lain hatiku menangis
karena kau dan dia masih bersama
aku tau, aku tak boleh
aku tersadar. kau juga. sama
Ciputat, 8 September 2014
AR~
ketika kita ditakdirkan untuk bertemu
bertukar pikiran serta pemahaman
aku dan kamu
awalnya hanya ejekan yang sengaja kau lemparkan
terkadang aku kesal
tapi kau tertawa bahagia
tapi yasudahlah, mungkin itu caramu untuk mencairkan suasana
terhitung sejak saat itu
ketika ejekan hadir diiringi dengan mencuri pandang
aku tersadar. kau juga. sama
kadang aku berpikir, inikah yang dinamakan kisah cinta?
namun rasanya begitu sulit untuk diterka
karena dibelakangmu masih ada dia
aku tau, aku tak boleh
namun hati terus menyebut 5 huruf yang merangkai namamu
teringat dihari itu, saat butiran permen kau rangkai menjadi namaku
kala itu aku bahagia, hingga senyum terkembang tak ada habisnya
namun disudut lain hatiku menangis
karena kau dan dia masih bersama
aku tau, aku tak boleh
aku tersadar. kau juga. sama
Ciputat, 8 September 2014
AR~
aku dan kamu, hanya bayangan yang tak pernah menjadi nyata
hanya imajinasi yang tak memilki warna
hanya ada di depan mata,namun tak mungkin bisa dirasa. bisa diraba.
hari ini aku dan kamu bersama
mengungkap segala yang ada
berbagi diantara kita. aku dan kamu.
kau mengejekku, tapi membuatku tersipu dilain waktu
kau berhasil mengajakku menangis hingga tertawa
kau mencubitku, juga menggenggam tanganku
aku dan kamu hari ini bersama
namun aku tak tahu, ini nyata atau hanya bayangan saja~
Ciputat, 20 September 2014
AR~
hanya imajinasi yang tak memilki warna
hanya ada di depan mata,namun tak mungkin bisa dirasa. bisa diraba.
hari ini aku dan kamu bersama
mengungkap segala yang ada
berbagi diantara kita. aku dan kamu.
kau mengejekku, tapi membuatku tersipu dilain waktu
kau berhasil mengajakku menangis hingga tertawa
kau mencubitku, juga menggenggam tanganku
aku dan kamu hari ini bersama
namun aku tak tahu, ini nyata atau hanya bayangan saja~
Ciputat, 20 September 2014
AR~
aku memandangmu dibalik hitamnya mega
kau tersenyum tipis, namun nyata
senyumanmu hangat menjalar hingga ke sukma
namun, tak dapat aku pandang terlampau lama
aku merunduk bak ilalang yang kalah dihalau musafir
jiwaku berhamburan layaknya bubuk mesiu
sukar kembali, sulit tuk berdiri
dibalik mega aku bercerita pada angin, pada bulan,
dan pada bintang yang tak pernah terlihat
aku ditertawakan karena kali ini lakonku penuh ironi
menyedihkan memang. namun mereka tak sukar untuk berbahak
lagi.
aku memandangmu dibalik mega
kau benar mengada, kau nyata.
kini kau disampingku dengan membawa serangkai cerita
cerita yang sesungguhnya akan kau suguhkan pada angin, pada bulan,
dan pada bintang yang tak pernah terlihat.
mereka tertawa.
Ciputat, 20 September 2014
AR~
kau tersenyum tipis, namun nyata
senyumanmu hangat menjalar hingga ke sukma
namun, tak dapat aku pandang terlampau lama
aku merunduk bak ilalang yang kalah dihalau musafir
jiwaku berhamburan layaknya bubuk mesiu
sukar kembali, sulit tuk berdiri
dibalik mega aku bercerita pada angin, pada bulan,
dan pada bintang yang tak pernah terlihat
aku ditertawakan karena kali ini lakonku penuh ironi
menyedihkan memang. namun mereka tak sukar untuk berbahak
lagi.
aku memandangmu dibalik mega
kau benar mengada, kau nyata.
kini kau disampingku dengan membawa serangkai cerita
cerita yang sesungguhnya akan kau suguhkan pada angin, pada bulan,
dan pada bintang yang tak pernah terlihat.
mereka tertawa.
Ciputat, 20 September 2014
AR~
untukmu yang telah membuatku mengerti tentang sebuah arti
untukmu yang menuntunku pada hati yang baru
yang kembali mengenalkan aku pada indahnya cinta, dan hangatnya tawa
untukmu yang telah hadir menemaniku,
meski kau tak pernah tau kau disisiku
untukmu yang menjamu sepi dengan ceria
yang mengubah sedih menjadi gembira
yang merangkul air mata dengan pelukan
yang meyulap riak menjadi nada syahdu
untukmu yang menyadarkanku bahwa kini aku harus pulang
untukmu yang membuka pintu tempat aku kembali
kini. dirumah singgah aku (coba) menetap
perlahan melangkah dengan hati yang mantap
namun ternyata aku salah atap.
Ciputat, 20 September 2014
AR~
untukmu yang menuntunku pada hati yang baru
yang kembali mengenalkan aku pada indahnya cinta, dan hangatnya tawa
untukmu yang telah hadir menemaniku,
meski kau tak pernah tau kau disisiku
untukmu yang menjamu sepi dengan ceria
yang mengubah sedih menjadi gembira
yang merangkul air mata dengan pelukan
yang meyulap riak menjadi nada syahdu
untukmu yang menyadarkanku bahwa kini aku harus pulang
untukmu yang membuka pintu tempat aku kembali
kini. dirumah singgah aku (coba) menetap
perlahan melangkah dengan hati yang mantap
namun ternyata aku salah atap.
Ciputat, 20 September 2014
AR~
keringat bumi meluluh perlahan dipangkal pagi
tetesannya berjatuhan menyapa daun-daun dan kuncup bunga
mereka bangkit, siap menghalau ilalang penghalang
hidup. dunia menjadi hidup karena ditetesi airnya
airnya tipis-tipis, tapi sejatinya seumat menggigil jua
bagi penikmat lukisan Tuhan, tak ada waktu untuk menggulung lagi
bercermin dari daun-daun dan kuncup bunga yang siap menantang hari
kami berdiri mengencangkan niat
memandang kawan, berpegang tangan
melangkah pasti, menuju puncak pegunungan
menyaksikan keindahan pemberian Tuhan
AR~
sukabumi 20 Agustus 2014
tetesannya berjatuhan menyapa daun-daun dan kuncup bunga
mereka bangkit, siap menghalau ilalang penghalang
hidup. dunia menjadi hidup karena ditetesi airnya
airnya tipis-tipis, tapi sejatinya seumat menggigil jua
bagi penikmat lukisan Tuhan, tak ada waktu untuk menggulung lagi
bercermin dari daun-daun dan kuncup bunga yang siap menantang hari
kami berdiri mengencangkan niat
memandang kawan, berpegang tangan
melangkah pasti, menuju puncak pegunungan
menyaksikan keindahan pemberian Tuhan
AR~
sukabumi 20 Agustus 2014
Langganan:
Komentar (Atom)

- Follow Us on Twitter!
- "Join Us on Facebook!
- RSS
Contact