aku memandangmu dibalik hitamnya mega
kau tersenyum tipis, namun nyata
senyumanmu hangat menjalar hingga ke sukma
namun, tak dapat aku pandang terlampau lama
aku merunduk bak ilalang yang kalah dihalau musafir
jiwaku berhamburan layaknya bubuk mesiu
sukar kembali, sulit tuk berdiri
dibalik mega aku bercerita pada angin, pada bulan,
dan pada bintang yang tak pernah terlihat
aku ditertawakan karena kali ini lakonku penuh ironi
menyedihkan memang. namun mereka tak sukar untuk berbahak
lagi.
aku memandangmu dibalik mega
kau benar mengada, kau nyata.
kini kau disampingku dengan membawa serangkai cerita
cerita yang sesungguhnya akan kau suguhkan pada angin, pada bulan,
dan pada bintang yang tak pernah terlihat.
mereka tertawa.
Ciputat, 20 September 2014
AR~
Langganan:
Posting Komentar (Atom)

0 komentar:
Posting Komentar