Selasa, 17 Maret 2015 0 komentar

Rawa dan Mangrove

Kini aku berada di sebuah sampan sederhana, dengan dayung kayu di kedua sisinya. Kukayuh perlahan  sembari menikmati pemandangan akar-akar yang menjulur panjang menusuk jantung rawa, dari dermaga hingga ujungnya yang aku tak tahu dimana, akar-akar runcing mangrove terus saja menembus bagian terdalam rawa, entah apa yang  ingin dibunuhnya padahal sudah jelas-jelas rawa dengan lebar tak lebih dari 10 meter ini tak terlihat merasakan sakit karena hujamannya. 
sesekali dedaunan jatuh perlahan membelai ketenangan air hingga menimbulkan sedikit getaran kemudian hilang, dan dibelai lagi. begitu seterusnya. Aku tersenyum melihat fenomena aneh ini, apa yang sesungguhnya diinginkan tanaman mangrove ini? menggangu rawa yang selalu tenang setelah ribuan tahun? Tiba-tiba terdengar suara "krek..krek..krekk" segera kupicingkan mataku ke segala penjuru rawa, tapi  tak ada apapun yang mencurigakan. Kembali kukayuh sampan kayu yang sedari tadi mendengarkan hatiku menggerutu. Untuk menghilangkan sepi yang mulai menyapa tenggukku kudendangkan nada "The Moon On The Lake" dari salah satu pianis terkenal asal Jepang, layung sudah mampir dipunduk senja, menyapa rawa untuk bercerita tentang kesendiriannya, namun rawa tetap begitu, bersahaja dengan segala kesakitan yang diterimanya, tiba-tiba "BRUK.." banyak air yang muncrat ke segala penjuru, sampanku goyang mencari keseimbangan, aku kalang kabut takut tenggelam, karena sampanku terisi air amukan pohon mangrove yang tumbang. Sekali lagi rawa disakiti, kali ini benar-benar nyata sebuah tamparan maha dahsyat diterimanya, aku protes "Hai rawa mengapa kau diam saja? kau disakiti terus menerus, lakukan sesuatu!", Namun amarahku tak dihiraukannya seketika Ia kembali tenang.
Kuputar sampanku ke arah dermaga, ku kayuh sekuat tenaga karena layung segera berganti malam. Sepanjang kayuhan dayungku aku belajar banyak hal dari rawa dan mangrove. Tentang kehidupan dan kesabaran. :)

Ciputat, 17 Maret 2015
Jumat, 13 Maret 2015 0 komentar

CERITA KITA

Entah, ada apa memang dengan kita, juga Malang
yang menjadi sebermulanya cerita.
Seperti akar cerita-cerita membelit kusut pula cerita yang kita ciptakan
Namun, diantara cerita; kemarin, hari ini dan esok itu setipis kertas tempat kau tulis sajak untuk mencari akhir,
tidak setebal buku tempat kau titip sajakmu di halaman akhir.
dalam kesingkatan itu, kita tak sempat menceritakan kisah cinta Dimas dan Surti yang pupus, namun tak hendak pupus karena terus direkatkan aroma melati dan bayang-bayang.

Sebelum perpisahan pula, kita belum sempat membuka renggasnya cinta Chairil dengan Mirat, yang menjadikan sajaknya menjelma-jelma sosok kecintaannya itu.
begitupun cerita kita pada akhirnya, serupanya akhir dari 'Sajak Putih' yang penuh pengharapan,
"Hidup dari hidupku, pintu terbuka. Selama mata menengadah, selama kau darah mengalir dari luka. Antara kita, mati, datang tidak membelah".

Jakarta 4 Maret 2015
(JA)
0 komentar

Mencari Akhir

Sekejap saja masa kita bersua
dikampung orang ditanah Jawa
sebaris kisah sendirinya tercipta, terasa legit saat kuicip barang setitik
Bilamana kubiarkan kisahnya menggantung, maka jangan salahkan jika Malang kujuluki kota terkatung
Sajak putih dan sepenggal cerita di stasiun kala itu,
melanjutkan kisah (kita) setelah tanda koma disisipkan disela kisahnya.

Seandainya kisah tak disampaikan pada akhir
akan seperti apa jadinya Mirat dan Chairil?
Seandainya kisah tak disampaikan pada akhir,
mungkinkah Dimas Suryo kembali pulang ke tanah air?

Kali ini aku ditemani bayangan kemarin malam,
jemariku menari mencari akhir kisah yang entah kapan dimulainya.
Kemarin, dibalik mega kota Malang terselip haru yang tak mudah dimengerti,
tepat ketika telapakmu mendarat di atas kepalaku; perpisahan.

Kali ini kuputuskan tuk biarkan kalimatmu tertinggal,
agar kelak kembali kujemput dengan tanda titik untuk mengakhiri kisahnya, menemukan ceritanya.

Malang 4 Maret 2015
AR~
Rabu, 18 Februari 2015 0 komentar

Diam-Diam Jatuh Cinta

Akhirnya jatuh cinta juga, walaupun diam-diam.
Oleh: Anisa Rahayu, Arini Hidayah, dan Luthfiatul Fuadah
Kemarin, melalui mimpi kita bersua dalam hangat.
Desau angin berbisik lirih mengenai rindu yang enggan padam.
Di sana aku bisa mengingkari kenyataan.
Kita bisa terus bersua tanpa kenal bosan.
Bukankah itu yang selama ini kita semogakan?
Karena dalam jumpa tak sengaja mata kita bercerita tentang harap kita pada cinta.
Pada arti kata bersama; aku dan kamu.
Seiring pandang mata yang menyematkan kita pada asa,
meski dekap belum leluasa,
nyatanya kita masih bebas meminta dalam doa.
Dengarkanlah pada temaram panjang…
Ada yang diam-diam berbahasa, menyampaikan berpatah-patah kata.
Ada yang diam-diam mengucap amin dalam hatinya, karena doa untuk cinta.
Ada yang diam-diam merunduk karena menahan rindu dalam dada.
Ada yang diam-diam meradang bila ada yang lain dalam pandang kasihnya.
Ada yang diam-diam merasa diri paling tahu dan ingin tahu segalanya.
Ada yang diam-diam berdoa untuk tetap bisa bertemu mata.
Dan ada yang diam-diam jatuh cinta.

Bekasi-Sukabumi, 9 Februari 2015
Selasa, 03 Februari 2015 0 komentar

Sajak tentang kita

sajak ini sengaja kutulis setelah perjumpaan itu,
perjumpaan yang mengantarkan kita berada pada tujuan untuk mencapai puncak yang sama.
saat itu aku tak mengenalmu, tak tahu siapa dirimu.
namun, dengan ragu aku menjabat tanganmu, sembari tersenyum.

saat itu kau berada dibawah sinar lampu, yang tak sepenuhnya menerangimu dari malam
kau berada diantara beberapa kawanmu, yang tak satupun jua kutahu.

ingatkah kamu, ketika itu sepasang mata kita tak sengaja beradu
aku menunduk malu, tak tahu bagaimana harus berlaku.
tujuan kita teramat tinggi untuk dihabiskan sebagai masa perkenalan
namun waktuku denganmu, tak terasa puncak telah kita pijak.

meski saat itu aku dan kamu belum saling tahu tentang apa yang akan terjadi
namun mata telah berjumpa dalam kita. pada arti mendalam yang belum pernah kita sepakati.

sesungguhnya aku tak pernah mengerti, drama apa yang sedang kita mainkan?
karena perbincangan kita berkilo-kilo meter jauhnya
bayangmupun hanya dapat kuterka di malam terakhir, di bawah lentera.

mungkinkah setelah jarak telah habis terhapus, kau masih selembut ini?
mungkinkah sepasang mata kita kembali beradu seperti pertama kali?
aku hanya khawatir cerita ini usai, tanpa penyelesaian.
kemudian kita terpisah tanpa sempat menjadi satu.

jika suatu hari nanti tujuan kita telah berbeda
kau pada puncak tertinggi dan aku pada puncak lain
izinkan aku untuk mengetahui sejauh mana kau merasa lelah?
hanya untuk memastikan bahwa kau baik-baik saja.
meski saat itu tanganku tak dapat lagi menyetuhmu,
namun telapaknya akan tetap menangadah do'a untukmu.


AR~
Sukabumi, 4 Februari 2015



Jumat, 23 Januari 2015 0 komentar

Seruling

Dilantunkan oleh Anisa Rahayu dan Luthfiatul Fuadah

Hari ini aku menjelma seruling,
Tiuplah daku, ciptakan nada merdu,
mainkah dengan hati yang baru.

Sambutlah bibirku dengan bibirmu yang ranum,
mainkan perlahan hingga jiwaku tergugah. Jangan jengah!
Karena hari ini aku menjelma seruling.

0 komentar

Gitar

Dimainkan oleh Anisa Rahayu dan Luthfiatul Fuadah

Malam ini aku menjelma sebuah gitar,
petiklah daku. semarakan malam-malam kelabu, 
nyanyikan lagu dengan syahdu.
Karena malam ini aku gitar, dawaiku berjejer seiringan,
maka sentuhlah bagiannya, maka aku siap melayanimu; malam ini.

Sentuh dan petiklah senarku, kemudian hanyutkan nada syahdu,
kuiringi kau bernyanyi dalam balutan rindu. Resapilah,
kita berdua sejajar beradu.
Katamu,
Nadaku adalah canda yang selaluku rindu.
Namun,
sentuhanmu serupa amarah yang sempat hilang,
geliatmu bak kuntup jatuh terinjak, tak terlihat
Kemarilah aduhai sayang, temukan lagi ujung sepatu kita ditengah laintainya
Jika aku tak kau hampiri, maka
akan kurampas jemarimu yang hanya diam menyangga dagu
kubawa kau kepada malam kemudian beradu sepatu,
bunyikan dan ketukan lagi seolah kita dicandu rindu.
Mainkan daku tanpa malu, petik daku setiap senja, petang, dan temaram.
Mainkan lagi hingga berbayang kita pada tahun yang lalu,
karena setahun lalu, kisahmu menitik pada harapku,
nadamu membawaku pada cinta yang kau tawarkan. karena itulah aku rindu.
 
;