Kini aku berada di sebuah sampan sederhana, dengan dayung kayu di kedua sisinya. Kukayuh perlahan sembari menikmati pemandangan akar-akar yang menjulur panjang menusuk jantung rawa, dari dermaga hingga ujungnya yang aku tak tahu dimana, akar-akar runcing mangrove terus saja menembus bagian terdalam rawa, entah apa yang ingin dibunuhnya padahal sudah jelas-jelas rawa dengan lebar tak lebih dari 10 meter ini tak terlihat merasakan sakit karena hujamannya.
sesekali dedaunan jatuh perlahan membelai ketenangan air hingga menimbulkan sedikit getaran kemudian hilang, dan dibelai lagi. begitu seterusnya. Aku tersenyum melihat fenomena aneh ini, apa yang sesungguhnya diinginkan tanaman mangrove ini? menggangu rawa yang selalu tenang setelah ribuan tahun? Tiba-tiba terdengar suara "krek..krek..krekk" segera kupicingkan mataku ke segala penjuru rawa, tapi tak ada apapun yang mencurigakan. Kembali kukayuh sampan kayu yang sedari tadi mendengarkan hatiku menggerutu. Untuk menghilangkan sepi yang mulai menyapa tenggukku kudendangkan nada "The Moon On The Lake" dari salah satu pianis terkenal asal Jepang, layung sudah mampir dipunduk senja, menyapa rawa untuk bercerita tentang kesendiriannya, namun rawa tetap begitu, bersahaja dengan segala kesakitan yang diterimanya, tiba-tiba "BRUK.." banyak air yang muncrat ke segala penjuru, sampanku goyang mencari keseimbangan, aku kalang kabut takut tenggelam, karena sampanku terisi air amukan pohon mangrove yang tumbang. Sekali lagi rawa disakiti, kali ini benar-benar nyata sebuah tamparan maha dahsyat diterimanya, aku protes "Hai rawa mengapa kau diam saja? kau disakiti terus menerus, lakukan sesuatu!", Namun amarahku tak dihiraukannya seketika Ia kembali tenang.
Kuputar sampanku ke arah dermaga, ku kayuh sekuat tenaga karena layung segera berganti malam. Sepanjang kayuhan dayungku aku belajar banyak hal dari rawa dan mangrove. Tentang kehidupan dan kesabaran. :)
Ciputat, 17 Maret 2015
Ciputat, 17 Maret 2015

- Follow Us on Twitter!
- "Join Us on Facebook!
- RSS
Contact