Rabu, 18 Februari 2015 0 komentar

Diam-Diam Jatuh Cinta

Akhirnya jatuh cinta juga, walaupun diam-diam.
Oleh: Anisa Rahayu, Arini Hidayah, dan Luthfiatul Fuadah
Kemarin, melalui mimpi kita bersua dalam hangat.
Desau angin berbisik lirih mengenai rindu yang enggan padam.
Di sana aku bisa mengingkari kenyataan.
Kita bisa terus bersua tanpa kenal bosan.
Bukankah itu yang selama ini kita semogakan?
Karena dalam jumpa tak sengaja mata kita bercerita tentang harap kita pada cinta.
Pada arti kata bersama; aku dan kamu.
Seiring pandang mata yang menyematkan kita pada asa,
meski dekap belum leluasa,
nyatanya kita masih bebas meminta dalam doa.
Dengarkanlah pada temaram panjang…
Ada yang diam-diam berbahasa, menyampaikan berpatah-patah kata.
Ada yang diam-diam mengucap amin dalam hatinya, karena doa untuk cinta.
Ada yang diam-diam merunduk karena menahan rindu dalam dada.
Ada yang diam-diam meradang bila ada yang lain dalam pandang kasihnya.
Ada yang diam-diam merasa diri paling tahu dan ingin tahu segalanya.
Ada yang diam-diam berdoa untuk tetap bisa bertemu mata.
Dan ada yang diam-diam jatuh cinta.

Bekasi-Sukabumi, 9 Februari 2015
Selasa, 03 Februari 2015 0 komentar

Sajak tentang kita

sajak ini sengaja kutulis setelah perjumpaan itu,
perjumpaan yang mengantarkan kita berada pada tujuan untuk mencapai puncak yang sama.
saat itu aku tak mengenalmu, tak tahu siapa dirimu.
namun, dengan ragu aku menjabat tanganmu, sembari tersenyum.

saat itu kau berada dibawah sinar lampu, yang tak sepenuhnya menerangimu dari malam
kau berada diantara beberapa kawanmu, yang tak satupun jua kutahu.

ingatkah kamu, ketika itu sepasang mata kita tak sengaja beradu
aku menunduk malu, tak tahu bagaimana harus berlaku.
tujuan kita teramat tinggi untuk dihabiskan sebagai masa perkenalan
namun waktuku denganmu, tak terasa puncak telah kita pijak.

meski saat itu aku dan kamu belum saling tahu tentang apa yang akan terjadi
namun mata telah berjumpa dalam kita. pada arti mendalam yang belum pernah kita sepakati.

sesungguhnya aku tak pernah mengerti, drama apa yang sedang kita mainkan?
karena perbincangan kita berkilo-kilo meter jauhnya
bayangmupun hanya dapat kuterka di malam terakhir, di bawah lentera.

mungkinkah setelah jarak telah habis terhapus, kau masih selembut ini?
mungkinkah sepasang mata kita kembali beradu seperti pertama kali?
aku hanya khawatir cerita ini usai, tanpa penyelesaian.
kemudian kita terpisah tanpa sempat menjadi satu.

jika suatu hari nanti tujuan kita telah berbeda
kau pada puncak tertinggi dan aku pada puncak lain
izinkan aku untuk mengetahui sejauh mana kau merasa lelah?
hanya untuk memastikan bahwa kau baik-baik saja.
meski saat itu tanganku tak dapat lagi menyetuhmu,
namun telapaknya akan tetap menangadah do'a untukmu.


AR~
Sukabumi, 4 Februari 2015



Jumat, 23 Januari 2015 0 komentar

Seruling

Dilantunkan oleh Anisa Rahayu dan Luthfiatul Fuadah

Hari ini aku menjelma seruling,
Tiuplah daku, ciptakan nada merdu,
mainkah dengan hati yang baru.

Sambutlah bibirku dengan bibirmu yang ranum,
mainkan perlahan hingga jiwaku tergugah. Jangan jengah!
Karena hari ini aku menjelma seruling.

0 komentar

Gitar

Dimainkan oleh Anisa Rahayu dan Luthfiatul Fuadah

Malam ini aku menjelma sebuah gitar,
petiklah daku. semarakan malam-malam kelabu, 
nyanyikan lagu dengan syahdu.
Karena malam ini aku gitar, dawaiku berjejer seiringan,
maka sentuhlah bagiannya, maka aku siap melayanimu; malam ini.

Sentuh dan petiklah senarku, kemudian hanyutkan nada syahdu,
kuiringi kau bernyanyi dalam balutan rindu. Resapilah,
kita berdua sejajar beradu.
Katamu,
Nadaku adalah canda yang selaluku rindu.
Namun,
sentuhanmu serupa amarah yang sempat hilang,
geliatmu bak kuntup jatuh terinjak, tak terlihat
Kemarilah aduhai sayang, temukan lagi ujung sepatu kita ditengah laintainya
Jika aku tak kau hampiri, maka
akan kurampas jemarimu yang hanya diam menyangga dagu
kubawa kau kepada malam kemudian beradu sepatu,
bunyikan dan ketukan lagi seolah kita dicandu rindu.
Mainkan daku tanpa malu, petik daku setiap senja, petang, dan temaram.
Mainkan lagi hingga berbayang kita pada tahun yang lalu,
karena setahun lalu, kisahmu menitik pada harapku,
nadamu membawaku pada cinta yang kau tawarkan. karena itulah aku rindu.
0 komentar

Senyumanmu

Oleh Anisa Rahayu dan Luthfiatul Fuadah

Petang tadi ia begitu tenang berbisik,
kini temaram ia begitu gaduh berlaku.
Kaukah itu yang diam-diam membuat siluet didepan jendela sukmaku?

Karena pagi tadi kau menepi tepat dipelupuk mata.
Tanpa kau sadari kau menitipkan senyum yang katanya akan kau jemput dikala senja kembali hadir.
Namun hingga petang sekejap pulang kau tak jua terlihat.
Mungkinkah kau lupa akan janjimu itu?
Sengaja membuatku terluka karena menahan bayang senyummu pagi itu.
Kemudian pada senja yang akan tiba, aku menungguimu dibalik tirai hitam
kulabuhkan pengharapan kepada sang embun yang singgah di beberapa helai daun.

Tak cukupkah rautmu membekas pada sukma?
Sampai malamkupun kau racau dengan geliat manja.
Butiran bunga tidurku menjelma dirimu. sempurna.

Usai itu sang bunga kembali bergelut dalam mimpi
diteteskannya buih-buih harap yang belum sampai,
dibahasakannya melalui do'a yang disampaikan angin malam itu.
Karena pada tetesannya kutaruh harap.
Kelak bayangmu kan terbawa jatuh hingga perutnya.
0 komentar

Karena Kita Bersama

Oleh: Anisa Rahayu dan Imron Rosyadi

Sentuhanmu adalah sungai,
deras arus rasa yang mengalir
Menyuburkan perasaan, menuju muara ketenangan
Tak ada bising, hanya lenguh pada angin
Arusmu mngalir meliuk menuju hilirnya.
Rasaku tenggelam pada telapakmu yang yang melingkar ditemapatnya,
semua hening karena (kita) terkatup.

Mengatup kita, saling bercakap dalam keheningan,
membaginya pada angin yang sedikit dalam ruang menyempit.
Perlahan percakapan kita terangkai menjadi balada yang utuh,
lengkap dengan titik di akhir kalimatnya.
Sungguh tercapailah sebuah kesempurnaan rasa pada setiap titik.
Titik yang mmenghabiskan mara, melenyapkan waktu yang memenjara.
karena kita telah (bersama).
Minggu, 18 Januari 2015 0 komentar

Catatan

Oleh: Anisa Rahayu, Arini Hidayah, Khusnul Chotimah, dan Luthfiatul Fuadah
Saat ujaran tak kuasa berucap
Kusantap helai kertas di atas atap
Kutumpahi tinta dalam derai
Lirih angin berbisik untuk menyudahi
Segera sampaikan pada sebuah titik
Perlu apa lagi kujabarkan bait ini?
Sedang catatan sudah menitik sejak jauh-jauh hari
Goresan pena membentuk diksi tentang cinta,
Tentang hujan, tentang kamu
Namun aksaranya mengambang
Tak sampai pada si empunya cinta
Kamu catatanku. Puisiku.

Ciputat, 21 Desember 2014
 
;