Minggu, 13 Desember 2015 0 komentar

Jendela Kamar

Saya bermimpi diselaksa waktu yang lalu
menatap bayang hitam langkah tuan perlahan pergi menjauh
Saya bermimpi diselaksa waktu yang lalu
dijendela kamar,
kini tak ada lagi mawar yang tuan beri dibalik senja kala itu.



Ciputat, 20 September 2014
0 komentar

Sendiri pada akhirnya

Dilihat dari jarak pandang sekitar 1 KM bangunan kampusku gagah berdiri
warnanya catnya lembut, dengan suasana keislamannnya yang menggairahkan sukma
terpancar aura keluarga yang aduhai bila dilirik.

Bissmillah..
saya melangkah setiap hari untuk melihat, mungkin saja akan ada pelangi di salah satu paginya; di sana.
Begitu setiap harinya saya berharap,
tak ada Keluarga dan sendiri pada akhirnya.

Ciputat, 2 November 2015
0 komentar

Merpati Hidung Belang

Kemarin pagi ada merpati yang hinggap dipundak saya
menanyakan kabar seperlunya,
merpati itu kembali terbang ke awan sambil menjatuhkan tahinya di depan hidung saya
saya bersihkan perlahan dengan tissue yang tersedia di dalam keresek belanjaan.

Besoknya ada merpati hinggap tepat di pundak saya
menanyakan kabar seperlunya,
dan menyuruh saya makan agar tetap sehat
merpati itu kembali terbang ke awan sambil menjatuhkan tahinya di depan hidung saya
saya bersihkan dengan telapak tangan lalu saya susutkan pada tembok kampus

Besoknya lagi, ada merpati hingga tepat di pundak saya
menanyakan apakah saya bahagia?
Saya meraihnya perlahan, sehingga merpati itu bertengger mesra di telapak saya
kemudian saya ajak merpati itu mendekati keran air, lalu saya perintahkannya untuk berwudhu.


Ciputat, 2 November 2015
0 komentar

Gedung Kuliah-Tempat Belajar

Saya duduk di lantai 7 gedung kampus
tepat di depan kaca kumuh, yang hanya akan jernih jika hujan turun menjatuhinya,
tapi sayang kemarau sudah ribuan tahun disini
hingga penghuninyapun sudah lupa bagaimana segarnya dijatuhi rintikan air dari langit
sudah lupa bagaimana segarnya bau tanah jika masuk ke dalam lubang hidung.

Kering menjadi raja-raja yang setiap waktu garang melahap sebagian otak manusia,
untuk dihanguskan dan di sebarkan abunya
asap mengepul dari sana-sini;
Dari mulut para kader, dari senior-senior, dari kepala-kepala independent, dari dosen, dari satpam,
juga dari tukang parkir
kulit-kulit menjadi burik karena sengaja dijemur di depan halte,
hanya untuk berteriak "KITA SEMUA SAMA, KITA SEMUA BERSAUDARA"
TAHIK!
saya hanya ingin hujan, agar sejuk gedung tempat kuliah saya. cukup sudah.

Ciputat, 23 September 2015
0 komentar

Sajak Untuk Adik Mahasiswa Baru

Selamat datang mahasiswa baru
selamat datang calon pemimpin Indonesia raya
wajah adik-adik nampak bercahaya menginjakan kaki di batas pagar kampus
senyum adik-adik tertahan dari pagi hingga senja tiba
selamat.

Selamat datang mahasiswa baru
selamat datang calon perusak kepercayaan
di pengenlan kampus, adik-adik disuruh nyanyi lagu kebanggan nenek moyang
dengan semangat dan tangan di kepal meninju langit, riuh lagunya di dendangkan 16000 mahasiswa baru
lagu pembaharu di gedung sini
lagu bandung di gedung sana, lagu patriot di gedung sini, lagu lagu lainnya di parkiran, di lobby fakultas,
hingga halte di depan kampus.

Selamat datang mahasiswa baru
selamat datang di tempat dimana adik-adik belajar menjadi tukang cela kawan sendiri
belajar menjadi pencinta sedulur, penyayang sesama kepentingan
belajar menjadi pemimpin, yang memimpin mimpi kaumnya sendiri

Selamat datang mahasiswa baru
selamat datang di rimba paling mengerikan sejagat raya
saya doakan, semoga adik-adik berbahagia.

Ciputat, 22 September 2015


0 komentar

KANGEN

Kau tak akan memahami bagaimana rasanya melangkah tanpa digenggam
kau tak akan memahami bagaimana rasanya sendiri tanpa dekapan.
Aku sepi menghadapi bebungaan tanpa cinta,
karena harumnya telah pergi membawamu.
Terbayang hangat pelukmu serupa candu yang tak sanggup aku hiraukan
terbayang tatap matamu, serupa sendiri aku yang merunduk menahan kangen.
Sendiri aku tanpa hangatmu, itulah aku panggung tanpa cahaya.


Sukabumi, 12 Desember 2015
22.00
Jumat, 24 Juli 2015 0 komentar

Dibuang (kembali) pada Tempatnya

Hai..
Malam ini, saya ingin bercerita tentang sesuatu yang tak sengaja saya temukan di akhir tahun lalu. Saya menemukannya di jalur pendakian untuk mencapai 2821 mdpl. Memang agak sulit untuk sampai kesana tapi saya yakin, saya akan mendapatkan jawaban lebih dari apa yang saya harapkan, itulah sebabnya kenapa saya mau berpayah-lelah. 

Sebelum titik itu saya pijak, saya tak sengaja menemukan sesuatu yang sedikit mengganggu pendangan saya, awalnya saya tidak peduli sama sekali namun (sesuatu) itu seolah meminta saya untuk mengantunginya dan mengajaknya untuk sampai ke puncak. Apa boleh buat? akhirnya saya pungut dan saya jaga sebaik-baiknya,  tidak hanya sampai puncak saya menjaganya, bahkan hingga saya kembali pulang ke rumah beberapa bulan kemudian temuan itu tetap terjaga dengan perawatan ekstra.

Dengan bangga saya menceritakannya pada ibu saya, menceritakan apa saja kisah yang telah saya lewatkan dengan temuan saya itu, lalu ibu saya hanya mengeluarkan satu kalimat setelah potret (nya) saya tunjukan "Kayaknya kalo rambutnya dipotong akan tampan" (sambil menggoda), Lalu saya meminta ijinnya untuk selalu menjaga temuan saya itu, jawabnya hanyalah "terserah kamu saja, tapi awas ya kalo nanti kamu patah hati!" saya hanya bisa tersenyum dan kembali memandang potret dalam lembar pixel di genggaman saya.

Penjagaan saya tidak hanya sampai di situ, karena terbawa suasana sampai-sampai saya melewatkan orang lain yang menemukan saya dalam perjalnannya, bahkan saya mengacuhkan seorang pemuda tampan yang telah siap memanjakan saya dengan seribu diksi dan materinya yang berlimpah. Sembari tersenyum saya membuat penolakan halus "maaf, saya sudah punya ini (menunjukan perasaan saya yang telah terisi)".

Tepat setelah satu hari di 16 milik saya yang ke 21, sesuatu yang selama ini saya jaga dan genggam kuat-kuat diakui seorang puteri adalah miliknya yang hilang, kepunyaannya yang tak sengaja lepas atau entah melepaskan diri karena genggamannya kurang kuat; kecintaannya.
Saya hanya bisa terdiam sembari melepaskannya kembali pada pemiliknya, dan membiarkan air mata kehilangan saya surut dengan sendirinya.

Namanya juga 'temuan' pasti ada pemiliknya, anggap saja saya telah menemukannya, merawatnya, mencintainya, dan membuangnya kembali (pada tempatnya).

Sukabumi, 24 juli 2015
AR~
 
;