Minggu, 18 Januari 2015 0 komentar

Semogaku

Dimohonkan oleh: Anisa Rahayu, Arini Hidayah, Ferrara Ferronica, Luthfiatul Fuadah, dan Sukmawati
Sekali ini kuucapkan cinta padamu; semogaku. Namun, takut sendirinya menyarang, masihkah kau selembut dulu? Seperti ketika tatap belum berani mengharap?
Semogaku; di setiap tatap menyelinap harap yang lama mengendap dan tak pernah sepatahpun terucap. Saat senyap aku berharap kau ada, berhadap dan mendekap.
Pada senja, kau terbayang di pelupuk mata. Dalam buai, harapku melabuhkan rindu padamu semogaku yang senantiasa diaminkan malaikat malam yang bercengkrama.
Kepada semogaku; merasakan jatuh yang tak sakit pada tatap pertama peraduan mata, sejak itu kau hadir, membuktikan kuasa Tuhan menghadirkanmu sebagai takdir.
Aku diam didekap malam, pada rindu yang baru saja tersampaikan sebab kau pulungi celotehku begitu tenang. Sejurus ada yang diam-diam jatuh. Jatuh cinta.
Kehanyaan padamu dihaturkan rasa yang begitu agung, sampai pada satu titik, tak lagi kutemukan belahan dari rasa itu. Tetap padamu, kehanyaan satu.
Sekali ini kuberanikan menangkap bola mata yang teduh mengusik sukma. Segaris senyum simpul yang selaras dengan rona wajah sendu. Aku, jatuh cinta.
Teruntuk yang selalu kusemogakan dalam doa; biarlah kuselalu jadi pengagum rahasia.

30 Desember 2014
0 komentar

Semoga kamu~

Hanya karena siempunya semoga tersenyum,
kala itu lagi-lagi kuaminkan harap yang dengan sendirinya teruntai menjadi kalimat cita untukmu.

Karena kamu hanyalah selintas, sehingga aku senantiasa  mengaminkan namamu diantara kalimat harapku pada Tuhan. Pada cintaku.
Semogaku, aminku terus saja mengalir seiring dengan air mata yang menetes,
Maaf sudah kuupayakan untuk mangkir tapi hati rasa terkilir.
Karena aku menyebut namamu dalam semogaku, dengan amin yang mengiringinya di akhir kalimat doa yang berpangku;
Semoga kamu

Sayang, kamu masih semoga yang senantiasa aku aminkan dengan lisan.
Bukan aku dengannya tak berperasaan, tapi kamulah yang membuatku nyaman.
Karenanya aku berharap untuk dapat singgah, lalu tinggal disebuah rumah, sampai menyatu dengan tanah.
Maaf karena hingga detik ini semogaku masih kamu.

AR~
Sukabumi, 18 Januari 2015
.


0 komentar

Sendiri aku

Sejak gemintang berkedip genit,
saat itu pula mata kita bicara.
Tentangku yang bahagia, juga tentangmu yang bertanya
sejak saat itu hari rasa sendiri; sepi.

AR~
Sukabumi, 18 Januari 2015
0 komentar

Fatamorgana kemarin

Hanya ketika senja segera dijemput kelam,
disana kutemukan harapan tentang cinta yang disapa dibawah layungnya; kemarin
karena dibalik layung kutemukan warnanya yang merona
yang mengajakku menikmati keindahan fatamorgana.

AR~
Sukabumi, 18 Januari 2015
0 komentar

Ketika Mata Berujar

Hanya ketika dua pasang mata berujar.
seketika hati berteriak bahwa aku tak pernah berbohong tentang rasa.
tengtang cinta yang dengan sendirinya mengokoh untukmu

AR~
Sukabumi, 18 Januari 2015
0 komentar

Kehanyaan Aku

Kepadamu kehanyaan aku mengalun pada sebuah sungai,
mengalun mengikuti arus rindu yang menggebu.
Kepadamu kehanyaan aku meliuk di udara,
berputar-putar di atas kepala, menggangsingkan kalimat cinta; untukmu.
Kepadamu kehanyaan aku memusat pada sebuah titik,
menuju sakit hingga tak tahu lagi makna berlaku.
Kepadamu kehanyaan aku layaknya medan kasih yang tak pernah sampai.
ketika rindu, cinta, dan sakit kesemuanya bergemul ke dalam satu magnet; Dirimu.

AR~
Sukabumi, 18 Januari 2015
0 komentar

Aminku, citaku.

Dibalik tirai rinai, rinduku padamu tak jua bercerai.
Hujan justru melambai hingga buatku terbuai
Aminan cita rindu kuharap tak salah untuknya; semogaku.

AR~
Sukabumi, 18 Januari 2015
 
;