Rabu, 20 Mei 2015 2 komentar

Sajak Temuan

Sehelai sajak kutemukan dalam genggaman
Tergulung, dengan ujung yang melambai-lambai
Aku yakin itu milikmu, Chairil.
Perlahan, sudut mataku menelusuri namamu
aduhai.. bergolak senang hati ini rasanya
Namamu ada dalam jajarannya
Kutenggak sekaligus sajakmu,
karena aksaramu adalah bagianku, bukan yang lain
Terbuai aku dengan lembutmu
Inginku mengulangnya bersamamu
Berkuyup dengan 'Hujan Hari Ini'

AR~
Ciputat, 20 Mei 2015

0 komentar

Jangan yang lain abang!

Mari kesini abang, datang kepangkuan dengan segala sayang
Jangan ragu! karena aku menggenggam cinta setulusnya cinta yang kutahu
Tumpahkan segala yang ingin kau tumpahkan
lepaskan lelahmu dalam dekap adinda seorang. Jangan yang lain!
Karenanya adinda disini menanti kasihmu,
Kekasihku tersayang.

AR~
Ciputat, 19 Mei 2015
0 komentar

Kembali aku

Dan kini harumku tak lagi menyetiakanmu
Rekahku bukan lagi alasanmu untuk bertahan disisi
Maafkan rinduku membuncah pada satu waktu; Kau meninggalkan
Jika esok bauku tak selembut ini,
ragaku melayu karena lelah menyerang pertahanan.
Aku bersiap kembali pada fitrahku; kembali pada ketiadaan
Sendiri

AR~
Ciputat, 20 Mei 2015
Minggu, 05 April 2015 0 komentar

Ah. Aku memang bodoh

Malam ini rasa-rasanya mendung dilangit sini, dan kini hitam putihnya awan tak lagi melihatkan cahayanya, hanya terlihat genangan bergerak-gerak menahan airnya jatuh.
getarannya perlahan kekiri dan ke kanan, memusat ketengah dan.. Ah.. Airnya menetes setitik..

Tidaaakk.. Jangan kau jatuhkan airnya, tak kuasa aku melihat pipimu basah, usap sudah semua! (ucap sahabatku pixel)

aku tak tahan menunggunya berujar terlampau lama, terlalu sakit bila ku tahan tanyaku hingga akhir yang tak tahu kapan datangnya. Aku takut. (lirihku)

lagi. Awan itu tak terlihat gembira sejak pixel bercerita tentang indahnya masa lalu. Genangan itu menebal dan semakin berat. Satu. Dua. Tiga. Deras. Air matanya tumpah membanjiri pipi..

Maafkan aku, tak seharusnya aku bercerita padamu. Aku terlalu lugu aku tak mengerti apa yg diinginkan hati manusia, yang aku tahu hanya perintah ibu jari saja (tugas pixel)

Aku yang bodoh. Tak seharusnya aku menguak, tak semestinya. Aku tak tahu sampai kapan tanyaku kan di acuhkan, yang aku tahu, aku bahagia (kemarin) dan aku berharap besok dan besok lagi hingga akhir. Benarkah aku bagian dari tangadahnya? Lalu mengapa derasnya kini hadir?? (tukasku)

ah.. Aku tak mengerti. Aku memang bodoh!

05 April 2015
21.31 wib

Selasa, 17 Maret 2015 0 komentar

Rawa dan Mangrove

Kini aku berada di sebuah sampan sederhana, dengan dayung kayu di kedua sisinya. Kukayuh perlahan  sembari menikmati pemandangan akar-akar yang menjulur panjang menusuk jantung rawa, dari dermaga hingga ujungnya yang aku tak tahu dimana, akar-akar runcing mangrove terus saja menembus bagian terdalam rawa, entah apa yang  ingin dibunuhnya padahal sudah jelas-jelas rawa dengan lebar tak lebih dari 10 meter ini tak terlihat merasakan sakit karena hujamannya. 
sesekali dedaunan jatuh perlahan membelai ketenangan air hingga menimbulkan sedikit getaran kemudian hilang, dan dibelai lagi. begitu seterusnya. Aku tersenyum melihat fenomena aneh ini, apa yang sesungguhnya diinginkan tanaman mangrove ini? menggangu rawa yang selalu tenang setelah ribuan tahun? Tiba-tiba terdengar suara "krek..krek..krekk" segera kupicingkan mataku ke segala penjuru rawa, tapi  tak ada apapun yang mencurigakan. Kembali kukayuh sampan kayu yang sedari tadi mendengarkan hatiku menggerutu. Untuk menghilangkan sepi yang mulai menyapa tenggukku kudendangkan nada "The Moon On The Lake" dari salah satu pianis terkenal asal Jepang, layung sudah mampir dipunduk senja, menyapa rawa untuk bercerita tentang kesendiriannya, namun rawa tetap begitu, bersahaja dengan segala kesakitan yang diterimanya, tiba-tiba "BRUK.." banyak air yang muncrat ke segala penjuru, sampanku goyang mencari keseimbangan, aku kalang kabut takut tenggelam, karena sampanku terisi air amukan pohon mangrove yang tumbang. Sekali lagi rawa disakiti, kali ini benar-benar nyata sebuah tamparan maha dahsyat diterimanya, aku protes "Hai rawa mengapa kau diam saja? kau disakiti terus menerus, lakukan sesuatu!", Namun amarahku tak dihiraukannya seketika Ia kembali tenang.
Kuputar sampanku ke arah dermaga, ku kayuh sekuat tenaga karena layung segera berganti malam. Sepanjang kayuhan dayungku aku belajar banyak hal dari rawa dan mangrove. Tentang kehidupan dan kesabaran. :)

Ciputat, 17 Maret 2015
Jumat, 13 Maret 2015 0 komentar

CERITA KITA

Entah, ada apa memang dengan kita, juga Malang
yang menjadi sebermulanya cerita.
Seperti akar cerita-cerita membelit kusut pula cerita yang kita ciptakan
Namun, diantara cerita; kemarin, hari ini dan esok itu setipis kertas tempat kau tulis sajak untuk mencari akhir,
tidak setebal buku tempat kau titip sajakmu di halaman akhir.
dalam kesingkatan itu, kita tak sempat menceritakan kisah cinta Dimas dan Surti yang pupus, namun tak hendak pupus karena terus direkatkan aroma melati dan bayang-bayang.

Sebelum perpisahan pula, kita belum sempat membuka renggasnya cinta Chairil dengan Mirat, yang menjadikan sajaknya menjelma-jelma sosok kecintaannya itu.
begitupun cerita kita pada akhirnya, serupanya akhir dari 'Sajak Putih' yang penuh pengharapan,
"Hidup dari hidupku, pintu terbuka. Selama mata menengadah, selama kau darah mengalir dari luka. Antara kita, mati, datang tidak membelah".

Jakarta 4 Maret 2015
(JA)
0 komentar

Mencari Akhir

Sekejap saja masa kita bersua
dikampung orang ditanah Jawa
sebaris kisah sendirinya tercipta, terasa legit saat kuicip barang setitik
Bilamana kubiarkan kisahnya menggantung, maka jangan salahkan jika Malang kujuluki kota terkatung
Sajak putih dan sepenggal cerita di stasiun kala itu,
melanjutkan kisah (kita) setelah tanda koma disisipkan disela kisahnya.

Seandainya kisah tak disampaikan pada akhir
akan seperti apa jadinya Mirat dan Chairil?
Seandainya kisah tak disampaikan pada akhir,
mungkinkah Dimas Suryo kembali pulang ke tanah air?

Kali ini aku ditemani bayangan kemarin malam,
jemariku menari mencari akhir kisah yang entah kapan dimulainya.
Kemarin, dibalik mega kota Malang terselip haru yang tak mudah dimengerti,
tepat ketika telapakmu mendarat di atas kepalaku; perpisahan.

Kali ini kuputuskan tuk biarkan kalimatmu tertinggal,
agar kelak kembali kujemput dengan tanda titik untuk mengakhiri kisahnya, menemukan ceritanya.

Malang 4 Maret 2015
AR~
 
;