Minggu, 18 Januari 2015 0 komentar

Cinta Segelas Vodka

Cinta itu seperti segelas vodka
Bening tak berwarna, tak dapat dikepal namun ada.
Dengan menenggaknya barang sesloki kepayang sudah terasa

AR~
Sukabumi,18 Januari 2015
0 komentar

Gerimis;ladang merindu

Gerimis;ladang merindu
padanya yang menyarang sejak kemarin lalu, sejak perjumpaan itu.

AR~
Sukabumi 18,Januari 2015
0 komentar

Selamat Pagi

Dibalik tirai jendela sayup cahayanya menelisik
Mencari celah agar dapat menyapa mata terpejam
Kemudian dituntunnya cahaya menemui wangi,
harum pagi.

AR~
Sukabumi, 18 Januari 2015
0 komentar

Kutitipkan Cinta Pada Semesta

Semesta. Tuhan aku cinta.
kepada semesta aku sampaikan rasaku untuknya,
melalui pemiliki semesta aku titipkan cintaku padanya
aduhai semeta jagalah dia yang kucinta

AR~
Sukabumi, 18 Januari 2015
0 komentar

Karena Hujan

Karena hujan pagi itu datang
kau basah kuyup disentuh buliran yang menyarang
tatap senyummu hangat menyapa yang  kau sayang.

karena pagi itu hujan menyapa perlahan, butirannya setitik jatuh kepangkuan
sayang, bagiku cinta kini tak dapat jadi sandaran
sendiriku kini mengenang kamu yang kusayang

karena hujan tak lagi datang
karena bagiku kini hujan bukan lagi puisi yang dikarang
karena hujan hanyalah kenangan yang takkan pernah lekang
darimu sayang.

AR~
Sukabumi, 18 Januari 2014
Karena Hujan selalu memberikan cerita~
Senin, 22 Desember 2014 0 komentar

Kopi Secangkir

Kulepaskan mataku ke tengah cangkir berisi kopi yang pahitnya begitu getir. Namun manisnya tiada berakhir.
Di sana kutemukan tabir, bahwa untukkulah kau lahir sebagai bagian dari takdir.
Terima kasih sayang, karena kau hadir.
Adanya kamu bukan hanya untuk mampir, adanya kamu adalah obat dari segala rasa khawatir.
Pada ruang dan waktu yang membuat kita tak saling hadir, telah kusampaikan rindu pada angin yang semilir~

Oleh: Arini Hidayah Muhammad Syakir Ni'amillah Anisa Rahayu Bahtiar
Minggu, 14 Desember 2014 0 komentar

Kaubilang, Kau Sayang




Oleh: Anisa Rahayu, Arini Hidayah, Ferrara Ferronica, Luthfiatul Fuadah, dan Sukmawati

Kaubilang, kau sayang…
Tapi kau biarkan aku seperti gelandang

Kaubilang, Kau Sayang
Oleh: Anisa Rahayu, Arini Hidayah, Ferrara Ferronica, Luthfiatul Fuadah, dan Sukmawati

Kaubilang, kau sayang…
Tapi kau biarkan aku seperti gelandang
yang tinggal tulang.

Angin berhembus kencang
menakutkan hati yang bimbang.
Getarkan cinta penuh gelombang,
membiaskan diri pada karang.

Kaubilang, kau sayang…
Tapi rinduku tak kau bilang.
Seperti tulang belulang,
kau buang ke dasar jurang.

Tulang belulang terpisah dari daging yang menyarang,
hadirnya tak akan pernah lekang.
Rupanya suci bak warna cinta
untukmu yang tersayang.

Kaubilang, kau sayang…
Aku harus menanggung sakit yang berulang,
sedang kau hilang sejak kau bilang pulang.
Dan aku terus meradang meski tinggal tulang belulang.

Burung-burung serta belalang
jua sadis menyantap dengan garang.
Bahkan barisan semut siap menyerang.
Sungguh malang si tulang belulang.
Kemudian anjing-anjing hutan
mencabik tulangku hingga tak bersisa,
sedang kau riang
bersahaja bersua.

Kaubilang, kau sayang…
Sejak kau pulang tanpa bilang,
ada yang tersayat dalam-dalam.
Sejak tulang remuk dimakan belalang,
ada kecewa tak berbilang,
sudah cukup membuat berang.

Katamu…
“Sakitmu menjalar hingga terasa kepayang.
Lukamu dalam bagai ditusum kerang.
Kala itu aku bukannya pulang,
tapi aku merindunya. Cintaku yang kusayang.”

Serasa lengan hendak meraih parang,
menikam hati yang bergelut perang.
Adakah lagi uraian sayang pada jiwanya yang (masih) bimbang?

Aku tak main-main mulai sekarang.
Jika bimbang masih bersarang, pulang saja kau tanpa berjuang!
Bawa parang dan kau hunus cintaku sekali tumbang!

Pada yang bimbang tak kubiarkan harapan menyarang.
Meski padanya asa terus berkembang.
Tapi tikaman terakhirnya dengan parang,
membuat sakit sampai belulang.

Kaubilang, kau sayang…
Di malam bertabur bintang akankah kau nodai dengan adanya perang?
Tidakkah kau menginginkan untuk bertahan dan berjuang?

Masa bodo kau anggap aku jalang,
sebab bicara terlalu lantang.
Baik kau bilah aku dengan parang
daripada perlahan kau buat aku mati malang.

Padahal…
kau tikam berulang dengan parang pun aku takkan garang,
sebab aku terlampau sayang.

Kaubilang, kau sayang…
Kau sayang sungguh malang, tak bisa binasakan rasa bimbang.
Andai kau pejuang, harus kau pilih yang kau sayang.
Bukan bermain dalam jurang.
Kau mabuk kepayang.

Ciputat, 10 Desember 2014


yang tinggal tulang.

Angin berhembus kencang
menakutkan hati yang bimbang.
Getarkan cinta penuh gelombang,
membiaskan diri pada karang.

Kaubilang, kau sayang…
Tapi rinduku tak kau bilang.
Seperti tulang belulang,
kau buang ke dasar jurang.

Tulang belulang terpisah dari daging yang menyarang,
hadirnya tak akan pernah lekang.
Rupanya suci bak warna cinta
untukmu yang tersayang.

Kaubilang, kau sayang…
Aku harus menanggung sakit yang berulang,
sedang kau hilang sejak kau bilang pulang.
Dan aku terus meradang meski tinggal tulang belulang.

Burung-burung serta belalang
jua sadis menyantap dengan garang.
Bahkan barisan semut siap menyerang.
Sungguh malang si tulang belulang.
Kemudian anjing-anjing hutan
mencabik tulangku hingga tak bersisa,
sedang kau riang
bersahaja bersua.

Kaubilang, kau sayang…
Sejak kau pulang tanpa bilang,
ada yang tersayat dalam-dalam.
Sejak tulang remuk dimakan belalang,
ada kecewa tak berbilang,
sudah cukup membuat berang.

Katamu…
“Sakitmu menjalar hingga terasa kepayang.
Lukamu dalam bagai ditusum kerang.
Kala itu aku bukannya pulang,
tapi aku merindunya. Cintaku yang kusayang.”

Serasa lengan hendak meraih parang,
menikam hati yang bergelut perang.
Adakah lagi uraian sayang pada jiwanya yang (masih) bimbang?

Aku tak main-main mulai sekarang.
Jika bimbang masih bersarang, pulang saja kau tanpa berjuang!
Bawa parang dan kau hunus cintaku sekali tumbang!

Pada yang bimbang tak kubiarkan harapan menyarang.
Meski padanya asa terus berkembang.
Tapi tikaman terakhirnya dengan parang,
membuat sakit sampai belulang.

Kaubilang, kau sayang…
Di malam bertabur bintang akankah kau nodai dengan adanya perang?
Tidakkah kau menginginkan untuk bertahan dan berjuang?

Masa bodo kau anggap aku jalang,
sebab bicara terlalu lantang.
Baik kau bilah aku dengan parang
daripada perlahan kau buat aku mati malang.

Padahal…
kau tikam berulang dengan parang pun aku takkan garang,
sebab aku terlampau sayang.

Kaubilang, kau sayang…
Kau sayang sungguh malang, tak bisa binasakan rasa bimbang.
Andai kau pejuang, harus kau pilih yang kau sayang.
Bukan bermain dalam jurang.
Kau mabuk kepayang.

Ciputat, 10 Desember 2014
 
;