Sabtu, 29 November 2014 0 komentar

Sendiri

Biarkan sendiriku menari diantara kasih dan rinduku. Untukmu.

Ciputat, 26 Nov 2014
AR~
0 komentar

Jangan Lepas

Jangan selintas,
Karena aku tak yakin dengan cinta yang kini kuanggap pantas
Kamu. Yang kini menyita pandanganku. Kuharap jangan pernah pergi kemudian lepas.

Ciputat, 26 November 2014
AR~
Kamis, 27 November 2014 0 komentar

Cinta Tulang Ikan

Dihidangkan oleh: Anisa Rahayu, Arini Hidayah, Khusnul Chotimah, Luthfiatul Fuadah, dan Sukmawati
Cinta tulang ikan bermula dari duri transparan
yang kemudian berkomplikasi antarlain organ
Apa kau tahu?
Jika tulang ikan bersemayam di tenggorokan namanya ketulangan,
tapi jika cinta bersemayam di dalam hati namanya kecintaan
Berbicara tentang cinta tulang ikan,
apa yang harus aku maknai?
Kesederhanaan tentang ungkapan cinta namun rumit merasakannya?
Tepat
Tentang sederhana dan kerumitan yang terjadi akibat cinta tulang ikan
Cinta tulang ikan,
rasa sesederhana bunyinya, tapi perih serumit rasanya
Ah memang, cinta sederhana diungkapkan
namun tidak untuk dirasakan
Seperti tulang ikan dipiring saji
Tawar
Namun harus dihabiskan
Melelahkan
Tersedak tulang ikan mungkin sama sakitnya
saat menahan cinta yang sudah sampai ditenggorokan
hendak diucap
Sama halnya ketika sudah menenggak air banyak-banyak,
tapi tak juga hilang
Malah meradang!
Butuh nasi agar tertelan dalam-dalam
Berbicara cinta tulang ikan
Biarlah, lebih baik saya tersenggak saja oleh tulang ikan itu,
lalu tak sadarkan diri,
hingga tak mengenal lagi apa itu cinta
Cinta tulang ikan
penyebab bait-bait sajak merinai
berkisah-kasih dalam-dalam
mengenai cinta dan perasaan
Jangan berhenti bersajak anak muda
karena tulang ikan masih belum habis di piring saji
serpihannya perlu diperhatikan
untuk menemukan makna cinta.

11 Oktober 2014
0 komentar

Sayang

Oleh: Anisa Rahayu, Arini Hidayah, Ferrara Ferronica, Luthfiatul Fuadah, Sukmawati, dan Imron Rosyadi
Aku tersisih diantara diksi,
terperangkap pada sesal karena tak turut berdiskusi.
Dan kini aku tak diajak untuk turut memadukan diksiku diantara puisi.
Rasanya sesal menyeruak seketika kudengar larikku melayang dihempas gerimis,
terkatup pula kalimat asmara yang sempat kutitipkan mesti tak lagi manis.
Bukan maksudku untuk mangkir, Sayang
larik-larik puisimu telah lama kukenang,
menanti cintanya mengawang,
namun aku terkatung tanggung yang menyarang.
Terima kasih.
Kamu yang memunguti diksiku setelah terbuang.
Lalu dibawa terbang melayang.
Dan kalian ini aku kepayang,
terbayang kamu yang tersayang.
Sayang aku tak lihat apa yang tayang.
Aku terpaksa hilang demi dia yang kusayang.
Bila aku membangkang,
aku pasti dibuang.
Kalian yang kusayang teruslah berjuang.
Benar sayang akan terbuang,
jika membangkang yang tersayang.
Sungguh beribu sayang,
kau tak paham, Sayang.
Engkau sayang pemeran tersayang.
Sayang…
berkali-kali kudendangkan kau di telinga mereka.
Berkali-kali kugambarkan kau di mata mereka.
Sampai kini,
kau kekal jadi pemeran utama.
Aku tak pandai memuji,
tapi aku pandai menyimpul tali.
Kau tahu yang ada di hati?
Sungguh kau seorang diri.
Lekas aku menarik diri,
sebab sadar kau tak menyadari.
Sesuatu yang abstrak di dalam hati,
kau tuding tak berarti.
Aku di sini,
kau pergi.
Aku pergi,
kau tak menanti.
Kini apalah dayaku,
menanti seseorang yang tak pernah mengharap kehadiranku.
Sebuah kisah klasik yang menggambarkan kesetiaan yang tak berarti.
Ada masanya,
yang terpuja jadi tiada.
Yang tadinya tiada,
kini begitu dipuja.
Bait itu pernah ada untuk yang terpuja.
Namun kala ia tiada,
biar bait yang simpan cerita.
Biar bahasa menyimpan cerita tentang kita,
karena saat rasa kembali tak dapat dijaga,
kelak kulantangkan kecewa.
Bukankah itu tanda cinta?
Jika cinta dikoar rasanya,
dia bukan rasa yang terdalam.
Cukup didoakan agar terucap dari kelembutan.
Kali ini saja…
cinta mengucap selamat pagi,
untuk yang terkasih.

Ciputat, 25 November 2014
0 komentar

Puisi Linguistik

Dibahasakan oleh: Muhammad Syakir Ni'amillah Fiza, Arini Hidayah, dan Anisa Rahayu

Seperti suprasegmental;
sikapmu memiliki tekanan, intonasi, dan aksen yang berbeda dari yang lain;
unik.
Aku dan Kau adalah vokal,
mari menyatu menjadi diftong;
maka lahir suara-suara pembaharu.

Jujur atau dusta, seperti arkhifonem.
Kehilangan kontras antara keduanya.
Terdengar sama.
Seperti morfem yang mengalami segmentasi menjadi silabel;
terpisah.
Menghadapi sikapmu seperti awal mempelajari transkripsi;
rumit.
Setelahnya, terbiasa.
Alofon; satu fonem memiliki variasi bunyi.
Sama halnya satu kisah,
beragam variasi ceritanya.
Tergantung siapa yang bertutur kata.

Hidup hanyalah hidup,
tak dengan mudah untuk kita menciptakan bahagia.
Sukar.
Layaknya konsonan dalam sebuah morfem tanpa vokal,
sukar kita diciptakan untuk menjadi satu morfem satu kata,
satu kalimat hingga menjadi cerita.
Konsonan dan vokal adalah cinta,
cinta Arjuna dan Srikandi.
Jangan posisikan aku sebagai arkhifonem,
yang membuat cinta Arjuna menjadi luntur,
bahkan hilang kontrasnya.
Aku hanya ingin menjadi tanda glotal,
walau kecil tapi aku ada.

Ciputat, 18 Juni 2014
Sabtu, 15 November 2014 0 komentar

Gerimis

Gerimis

Belakangan ini Aku merasa ingin menangis, dengan perasaan hati yang teriris.
Sepi yang menyarang tak dapat kutepis.
Padahal ribuan kawan disamping berganti laris.
Ragaku memang bersama dari pagi hingga tengah malam, dari kampus sampai lapangan, dari cafe sampai angkringan. Kemudian esoknya kita berkumpul dan bercerita tentang kisah yang manis.
 Namun jiwaku sendiri dengan sunyi yang berlapis,
Dengan gelap yang terlukis.
Bagiku, waktu senja biasanya menyimpan cerita romantis, namun kali ini senja terhapus gerimis.

AR~
Ciputat, 15 November 2014

Rabu, 05 November 2014 0 komentar

Sajak Untuk Tuan yang Berjaya



Sajak Untuk Tuan yang Berjaya

Aku tulis sajak ini di bulan remang-remang
Setelah berabad lamanya tanahku gelap ditutupi kabut

Aku tulis sajak ini di bulan remang-remang
Karena Tuan 'baru' katanya punya sihir hebat untuk hapuskan gelap lalu datangkan hujan juga pelangi

Aku tulis sajak ini di bulan remang-remang
Kemudian berharap setiap lariknya sampai ketelinga Tuan siempunya mantra
Biar dihisapnya air mata Ibu-ibu kita
Biar dijilatnya peluh Bapak-bapak kita
Biar dibunuhnya pengangguran tak berguna
Biar didiknya kakak dan adik-adik kita, untuk disiapkan menjadi penegak bangsa

Aku tulis sajak ini di bulan remang-remang
Karena Aku masih belum berani berkata tentang cahaya. khawatir mantranya telah ciptakan fatamorgana

Aku tulis sajak ini di bulan remang-remang
Hingga singgasana menempel dengan bokongnya, aku masih belum bisa percaya
Tuan 'baru' harus tunjukan dulu kemampuannya
Bukan hanya komat-kamit sambil menyapa pemburu berita. Tapi kejayaan INDONESIA

Aku tulis sajak ini di bulan remang-remang
sambil bersujud, kuyakinkan diri bahwa mantra bukanlah jalan keluar untuk bertemu bahagia
Tapi pergerakan juga do'a. Ya. Jalanku Bukan sihir dan mantra. Tapi Tuhan.

Aku tulis sajak ini di bulan remang-remang

Ciputat, 01 November 2014
AR~


 
;