Sabtu, 30 Mei 2015 0 komentar

Tipis

Gerimis Menangis

Gerimis bagiku kini tak lagi manis,
Karena kamu dihadapanku; menangis
Sungguh lakumu itu membuat hati rasa teriris
Rinaimu turun perlahan namun berlapis
Jangan menangis, karena cintaku padamu tak tertepis

AR~
Sukabumi, 18 Januari 2015
0 komentar

Pulang

Bunga berbisik lembut pada angin
Angin sampaikan salamnya pada engku
Salam ingatkan engku akan hajat
Cita tersampaikan atas keringat dan do'a
Tuhan menghadirkan cinta-Nya.
Kini telah tiba di depan pintu gerbang
Sekali ketuk terbukalah
Bunga rampai bermekar
Aduhai, bau sekar ayu disana; dihatimu
Senyum disimpul ibunda untukmu
Ananda kecintaan
Peluk, peluklah punggungnya
air matanya sekalah
susut juga keringatnya
Selamat. Kau sudah boleh pulang.


Teruntuk sahabatku Fahmi Setiawan. yang sekejap lagi menjadi Fahmi Setiawan, S.E.


Rabu, 20 Mei 2015 2 komentar

Sajak Temuan

Sehelai sajak kutemukan dalam genggaman
Tergulung, dengan ujung yang melambai-lambai
Aku yakin itu milikmu, Chairil.
Perlahan, sudut mataku menelusuri namamu
aduhai.. bergolak senang hati ini rasanya
Namamu ada dalam jajarannya
Kutenggak sekaligus sajakmu,
karena aksaramu adalah bagianku, bukan yang lain
Terbuai aku dengan lembutmu
Inginku mengulangnya bersamamu
Berkuyup dengan 'Hujan Hari Ini'

AR~
Ciputat, 20 Mei 2015

0 komentar

Jangan yang lain abang!

Mari kesini abang, datang kepangkuan dengan segala sayang
Jangan ragu! karena aku menggenggam cinta setulusnya cinta yang kutahu
Tumpahkan segala yang ingin kau tumpahkan
lepaskan lelahmu dalam dekap adinda seorang. Jangan yang lain!
Karenanya adinda disini menanti kasihmu,
Kekasihku tersayang.

AR~
Ciputat, 19 Mei 2015
0 komentar

Kembali aku

Dan kini harumku tak lagi menyetiakanmu
Rekahku bukan lagi alasanmu untuk bertahan disisi
Maafkan rinduku membuncah pada satu waktu; Kau meninggalkan
Jika esok bauku tak selembut ini,
ragaku melayu karena lelah menyerang pertahanan.
Aku bersiap kembali pada fitrahku; kembali pada ketiadaan
Sendiri

AR~
Ciputat, 20 Mei 2015
Minggu, 05 April 2015 0 komentar

Ah. Aku memang bodoh

Malam ini rasa-rasanya mendung dilangit sini, dan kini hitam putihnya awan tak lagi melihatkan cahayanya, hanya terlihat genangan bergerak-gerak menahan airnya jatuh.
getarannya perlahan kekiri dan ke kanan, memusat ketengah dan.. Ah.. Airnya menetes setitik..

Tidaaakk.. Jangan kau jatuhkan airnya, tak kuasa aku melihat pipimu basah, usap sudah semua! (ucap sahabatku pixel)

aku tak tahan menunggunya berujar terlampau lama, terlalu sakit bila ku tahan tanyaku hingga akhir yang tak tahu kapan datangnya. Aku takut. (lirihku)

lagi. Awan itu tak terlihat gembira sejak pixel bercerita tentang indahnya masa lalu. Genangan itu menebal dan semakin berat. Satu. Dua. Tiga. Deras. Air matanya tumpah membanjiri pipi..

Maafkan aku, tak seharusnya aku bercerita padamu. Aku terlalu lugu aku tak mengerti apa yg diinginkan hati manusia, yang aku tahu hanya perintah ibu jari saja (tugas pixel)

Aku yang bodoh. Tak seharusnya aku menguak, tak semestinya. Aku tak tahu sampai kapan tanyaku kan di acuhkan, yang aku tahu, aku bahagia (kemarin) dan aku berharap besok dan besok lagi hingga akhir. Benarkah aku bagian dari tangadahnya? Lalu mengapa derasnya kini hadir?? (tukasku)

ah.. Aku tak mengerti. Aku memang bodoh!

05 April 2015
21.31 wib

Selasa, 17 Maret 2015 0 komentar

Rawa dan Mangrove

Kini aku berada di sebuah sampan sederhana, dengan dayung kayu di kedua sisinya. Kukayuh perlahan  sembari menikmati pemandangan akar-akar yang menjulur panjang menusuk jantung rawa, dari dermaga hingga ujungnya yang aku tak tahu dimana, akar-akar runcing mangrove terus saja menembus bagian terdalam rawa, entah apa yang  ingin dibunuhnya padahal sudah jelas-jelas rawa dengan lebar tak lebih dari 10 meter ini tak terlihat merasakan sakit karena hujamannya. 
sesekali dedaunan jatuh perlahan membelai ketenangan air hingga menimbulkan sedikit getaran kemudian hilang, dan dibelai lagi. begitu seterusnya. Aku tersenyum melihat fenomena aneh ini, apa yang sesungguhnya diinginkan tanaman mangrove ini? menggangu rawa yang selalu tenang setelah ribuan tahun? Tiba-tiba terdengar suara "krek..krek..krekk" segera kupicingkan mataku ke segala penjuru rawa, tapi  tak ada apapun yang mencurigakan. Kembali kukayuh sampan kayu yang sedari tadi mendengarkan hatiku menggerutu. Untuk menghilangkan sepi yang mulai menyapa tenggukku kudendangkan nada "The Moon On The Lake" dari salah satu pianis terkenal asal Jepang, layung sudah mampir dipunduk senja, menyapa rawa untuk bercerita tentang kesendiriannya, namun rawa tetap begitu, bersahaja dengan segala kesakitan yang diterimanya, tiba-tiba "BRUK.." banyak air yang muncrat ke segala penjuru, sampanku goyang mencari keseimbangan, aku kalang kabut takut tenggelam, karena sampanku terisi air amukan pohon mangrove yang tumbang. Sekali lagi rawa disakiti, kali ini benar-benar nyata sebuah tamparan maha dahsyat diterimanya, aku protes "Hai rawa mengapa kau diam saja? kau disakiti terus menerus, lakukan sesuatu!", Namun amarahku tak dihiraukannya seketika Ia kembali tenang.
Kuputar sampanku ke arah dermaga, ku kayuh sekuat tenaga karena layung segera berganti malam. Sepanjang kayuhan dayungku aku belajar banyak hal dari rawa dan mangrove. Tentang kehidupan dan kesabaran. :)

Ciputat, 17 Maret 2015
 
;